Kumparan Logo

Topan Hagibis Mirip Badai Ida yang Tewaskan 1.200 Jiwa 60 Tahun Silam

kumparanSAINSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ombak besar saat terjadi topan Hagibis di Kumano, Prefektur Mie, Jepang. Foto: AP Photo/Toru Hanai
zoom-in-whitePerbesar
Ombak besar saat terjadi topan Hagibis di Kumano, Prefektur Mie, Jepang. Foto: AP Photo/Toru Hanai

Amukan Topan Hagibis memporak-porandakan sejumlah bangunan kokoh dan menyapu bersih kendaraan di beberapa wilayah di Jepang pada Sabtu (12/10) malam. Tercatat ada 28 nyawa melayang, 18 orang dinyatakan hilang serta tak kurang dari 177 orang mengalami luka-luka akibat pusaran angin kencang tersebut, demikian laporan media setempat NHK World Japan.

Dalam laporan Forbes, topan terkuat yang menghantam Jepang itu mirip dengan badai Ida yang juga pernah melanda Negeri Sakura pada tahun 1958 silam. Baik Topan Hagibis maupun Badai Ida dianggap setara dengan badai kategori 5.

Intensitas Topan Hagibis dan Badai Ida mulai menurun ketika melintasi pulau Honshu. Keduanya sama-sama berpotensi memicu tanah longsor akibat guyuran hujan berintensitas tinggi.

Kota Shizuoka banjir saat topan hagibis melanda negara Jepang. Foto: AP Photo

Saat Badai Ida menerjang Jepang 61 tahun lalu, hujan deras di luar dugaan mampu membuat genangan setinggi 43 sentimeter. Dalam suhu udara yang lebih hangat seperti sekarang ini, seharusnya udara dapat menahan lebih banyak uap air untuk kemudian dilepaskan ke permukaan bumi.

Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Hujan deras mengguyur dan menggenangi area pegunungan Hakone setinggi 93 sentimeter selama beberapa hari terakhir. Curah hujan tinggi juga mengakibatkan wilayah Nagano terendam banjir. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan karena memicu tanah longsor yang membawa lumpur menuju hilir.

Sejumlah rumah hancur akibat Topan Hagibis di Jepang, Sabtu (12/10). Foto: Mandatory credit Kyodo/REUTERS

Rentetan bencana alam yang kerap melanda Jepang, sebenarnya selalu berhasil diantisipasi dan ditangani secara sigap oleh negara ini. Apalagi berkat modernisasinya yang tinggi, Jepang telah dinobatkan sebagai salah satu negara yang paling siap ketika menghadapi terjangan badai yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Meski begitu, secanggih apa pun sistem mitigasi bencana yang dimiliki negara berpenduduk 126,8 juta jiwa ini, Topan Hagibis tetap menyebabkan kerusakan parah pada sejumlah unit kereta cepat Shinkansen yang menjadi kebanggaan masyarakat Jepang.

Topan Hagibis umum terjadi dengan kecepatan yang mengejutkan. Tragedi ini belum seberapa jika dibandingkan Badai Ida yang telah merenggut nyawa lebih dari 1.200 orang di Jepang.