Kumparan Logo

Warga Cinere Digegerkan Kemunculan Ular Kobra dan Piton, Ini Penjelasan Peneliti

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ular piton ditemukan di kawasan Cinere, Depok. Foto: dok istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ular piton ditemukan di kawasan Cinere, Depok. Foto: dok istimewa

Ular kobra hingga piton dilaporkan muncul di pekarangan rumah warga di sekitar Gandul, Cinere, Kota Depok, Jawa Barat. Kemunculan ular-ular itu sontak membuat warga khawatir.

Ular piton berhasil ditangkap oleh seorang petugas keamanan bernama Abdullah di sebuah perumahan di Jalan H. Muhajir, Cinere. Dia mengaku melihat seekor piton pada pukul 02.30 dini pada Sabtu, 15 Agustus 2020, di sekitar Jalan H. Muhajir, Gandul, Cinere, Depok. Kala itu keadaan jalan cukup gelap. Tiba-tiba Abdullah melihat ular piton tengah melintas tak jauh ia berada.

Ular piton ini saya lihat jam 02.30 WIB pagi. Saya lagi nyebrang jalan di tempat yang gelap. Saya panggil tiga teman dan kami tangkap ular itu,” kata Abdullah kepada kumparanSAINS, Selasa (18/8).

Selain ular piton, warga setempat juga mengaku melihat penampakan ular kobra selama beberapa hari terakhir. Warga berinisiatif untuk memanggil pawang ular. Dari situ, ditemukan 6 ular kobra yang berkeliaran di sekitar pemukiman warga.

Kemunculan ular di pekarangan rumah warga bukan kali ini saja terjadi. Akhir tahun 2019, beberapa wilayah di Indonesia juga dihebohkan dengan kemunculan anak kobra dengan jumlah hingga puluhan ekor. Beberapa wilayah yang melaporkan adanya penemuan ular meliputi Jakarta, Bogor, Yogyakarta, Klaten, hingga Jember.

Wujud piton yang ditemukan di salah satu pemukiman warga di Cinere, Depok. Foto: dok istimewa

Faktor kemunculan ular piton dan kobra

Menurut Amir Hamidy, ahli reptil dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ada beberapa faktor penyebab ular muncul di pekarangan rumah warga.

Amir menjelaskan, pada dasarnya piton dan kobra adalah spesies ular yang mudah beradaptasi. Mereka bisa hidup di hampir semua habitat, termasuk di dekat pemukiman warga. Selain itu, makanan kobra dan piton juga terbilang cukup mudah, di mana mereka bisa memakan tikus yang banyak berkeliaran di dekat rumah penduduk.

Kemunculan piton dan kobra bisa dipicu oleh dua sebab. Pertama karena musim telur menetas. Kedua, karena suhu di wilayah tersebut. Saat musim telur menetas, baik piton maupun kobra akan muncul ke permukaan untuk mencari makan atau menemukan tempat tinggal baru. Ini terjadi pada tahun lalu, ketika banyak bayi kobra ditemukan di pekarangan rumah warga.

“Kita harus lihat dulu ukurannya, ukurannya seberapa. Ukuran dewasa atau masih anakan. Kalau ular yang muncul sudah tergolong dewasa, berarti itu terkait aktivitas, bukan terkait musim menetas. Kalau musim penetasan kaya kemarin akhir tahun lalu,” kata Amir saat dihubungi kumparan, Selasa (18/8).

Ular piton yang ditangkap Abdullah. Foto: dok istimewa

Adapun suhu udara juga bisa menjadi pemicu keluarnya ular ke permukaan. Menurut Amir, ketika musim panas tiba, di mana suhu udara terpantau tinggi, ular akan mencari tempat yang lebih lembab. Mereka bakal menempati lubang-lubang dan berdiam diri di sekitar kubangan air atau air mengalir. Ini terjadi pada periode musim panas yang panjang.

“Saat hujan tiba dan suhu mulai dingin, mereka butuh tempat yang lebih hangat untuk bisa beraktivitas kembali. Nah, mereka keluar dari lubang dan berkeliaran di permukaan. Itu bisa menjadi salah satu kemungkinannya,” kata Amir.

Meski karakteristik piton dan kobra berbeda, aktivitas mereka berlangsung secara tumpang tindih. Piton aktif di malam hari, sedangkan kobra aktif pada siang dan malam.

“Jadi, jika dilihat dari faktor-faktor tersebut, apa yang terjadi di Depok murni karena aktivitas. Jangan salah, piton dan kobra bisa hidup di sekitar kita. Jadi fenomena ini adalah hal yang biasa,” kata Amir.

Selain itu, untuk menentukan apakah piton yang ditangkap adalah hewan peliharaan atau bukan, bisa dilihat dari beberapa ciri. Pertama dari pola piton di tubuhnya. Piton peliharaan biasanya sudah memiliki perubahan pola, di mana mereka terlihat lebih albino. Sedangkan piton liar mempunyai pola batik yang khas.

“Untuk menentukan itu hewan peliharaan atau bukan, kita juga bisa melihat apakah ular itu agresif atau tidak. Kalau piton peliharaan itu biasanya jinak, jika dipegang atau disentuh mereka lebih tenang, tapi kalau liar mereka biasanya lebih agresif. Yang saya lihat di Depok itu masih alami. Bisa jadi itu adalah piton liar,” katanya.

kumparan post embed