kumparan
19 November 2019 14:12

Waspada, Cuaca Panas Bisa Sebabkan Kram Otot hingga Kerusakan Otak

Cuaca Jakarta Panas
Seorang warga mengusap dahi saat cuaca di Jakarta panas, pada Selasa (22/10/2019). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Beberapa hari belakangan, warga DKI Jakarta mengeluhkan suhu udara yang terasa panas menyengat. Tingginya suhu udara itu tak hanya terjadi pada siang hari, tapi juga hingga malam.
ADVERTISEMENT
Cuaca panas, selain bikin tak nyaman juga bisa menimbulkan sejumlah persoalan kesehatan. Yang paling memungkinkan tentu saja membuat orang mengalami dehidrasi atau kehilangan banyak cairan dalam tubuh.
Kondisi lebih parah yang disebabkan oleh cuaca panas menurut NSW Health adalah ketika seseorang terserang apa yang disebut sebagai heat cramps. Seseorang yang mengalaminya, akan menderita kram otot yang menyakitkan. Kondisi ini bisa menimpa seseorang saat bekerja di lingkungan yang panas selama berjam-jam.
kram perut
Ilustrasi kram. Foto: Shutterstock
Cuaca panas juga bisa memicu heat exhaustion, penyakit yang muncul jika kamu terekspos dengan suhu yang tinggi. Penyakit ini sering kali disertai dengan dehidrasi. Kamu bisa mengalami rasa haus yang berlebihan, tubuh menjadi lemah, sakit kepala hingga kehilangan kesadaran.
Selanjutnya, ada pula yang dikenal dengan heat stroke atau sengatan panas. Ini terjadi ketika tubuhmu mengalami peningkatan suhu secara dramatis dalam waktu cepat akibat paparan suhu panas dari sengatan matahari di luar batas toleransi tubuh.
Cuaca Jakarta Panas
Seorang warga menggunakan payung guna terhindar dari panasnya matahari, Jakarta, pada Selasa (22/10/2019). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Apa yang terjadi pada tubuh kita saat cuaca panas ekstrem?
ADVERTISEMENT
Penting untuk diingat bahwa suhu tubuh ideal seseorang berkisar antara 36.1 hingga 37.8 derajat Celcius. Nah, jika tubuh mengalami kenaikan suhu di atas batas normal yang disebutkan tadi, maka akan memicu timbulnya berbagai penyakit.
Ketika cuaca sangat panas, tubuh harus bekerja cukup keras untuk menghasilkan banyak keringat sehingga menjaganya tetap dingin. Namun dalam beberapa kondisi, sulit bagi seseorang untuk bisa berkeringat karena suhu tubuhnya naik dengan cepat. Seseorang yang mengalami dehidrasi misalnya, akan sulit bagi mereka untuk menghasilkan cukup banyak keringat.
Lansia termasuk populasi yang cukup rentan di cuaca panas yang ekstrem. Hal ini lantaran ada beberapa dari mereka yang mengonsumsi obat tertentu yang efeknya tidak bisa menghasilkan keringat.
Dehidrasi pada anak.
Ilustrasi dehidrasi pada anak. Foto: Thinkstock
Pada anak-anak muda yang suhu tubuh mereka naik dengan cepat, juga akan lebih sedikit mengeluarkan keringat dan sebaliknya justru menghasilkan lebih banyak panas tubuh.
ADVERTISEMENT
Paparan cuaca panas, jika tidak diantisipasi dengan baik, menurut NWS Health akan memicu persoalan kesehatan yang lebih buruk seperti serangan jantung, menyebabkan cedera permanen yang serius seperti kerusakan otak, atau organ vital lainnya sebagai akibat dari serangan panas yang tidak diobati. Yang paling ekstrem, paparan cuaca panas juga bisa mengakibatkan kematian.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan