WHO Soroti Data Kematian Corona di Indonesia, Jakarta Tertinggi

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memberikan catatan ihwal penanganan kasus corona di Indonesia. Ada dua catatan yang paling disorot oleh mereka, pertama adalah waktu pelaporan kasus COVID-19 dan data kematian yang dikeluarkan pemerintah Indonesia.
WHO mengatakan, bahwa jumlah kasus yang dilaporkan setiap hari tidak sama dengan jumlah orang yang positif COVID-19 pada hari itu. Ini tak lain karena pelaporan hasil yang dikonfirmasi di laboratorium memerlukan waktu hingga satu minggu sejak waktu pengujian.
“Oleh karena itu perlu kehati-hatian dalam menafsirkan angka laporan kasus oleh kurva epidemiologis untuk analisis lebih lanjut,” kata WHO dalam Situasion Report Indonesia yang terbit pada 28 Oktober 2020.
WHO juga memberi catatan, hasil pengamatan selama tiga pekan, sebagian besar kasus virus corona tertinggi yang dikonfirmasi berasal di empat provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Pulau Jawa menyumbang setidaknya 58,9 persen dari jumlah kumulatif COVID-19 di Indonesia. Sementara Sulawesi Selatan menjadi satu-satunya provinsi di luar Jawa dengan jumlah kasus tertinggi.
WHO juga menyoroti data kematian karena virus corona di Indonesia. Berdasarkan ketersediaan data yang dihimpun WHO, hanya kematian COVID-19 yang terkonfirmasi yang dimasukkan.
“Sesuai definisi WHO, bagaimanapun kematian akibat penyakit yang kompatibel secara klinis dalam kasus COVID-19 yang belum atau sudah dikonfirmasi adalah kematian terkait COVID-19, kecuali jika ada penyebab kematian alternatif yang jelas yang tidak dapat dikaitkan,” papar WHO.
Per 28 Oktober 2020, angka kematian akibat COVID-19 di DKI Jakarta, yang terkonfirmasi 208 jiwa, per satu juta penduduk dipastikan menjadi yang tertinggi di Indonesia. Disusul Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Bali dan Sulawesi Utara.
Adapun saat ini total jumlah kasus corona yang telah dikonfirmasi di Indonesia mencapai 412.784 kasus dengan 341.942 dinyatakan sembuh dan 13.943 meninggal dunia per Minggu (1/11). WHO mengimbau agar Indonesia meningkatkan kapasitas pengujian spesimen untuk mengurangi kesalahan data terkait konfirmasi kasus corona.
