Bebal Berujung Sesal Arsenal

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Arsene Wenger dalam bahaya. (Foto: REUTERS/Eddie Keogh)
zoom-in-whitePerbesar
Arsene Wenger dalam bahaya. (Foto: REUTERS/Eddie Keogh)

Pernah ada suatu masa di mana Arsene Wenger mampu membawa Arsenal menampilkan sepak bola paling atraktif di dunia. Sudah lama, memang. Sudah belasan tahun yang lalu.

Ketika itu, Arsenal masih bermukim di Highbury dan legenda-legenda besar mereka seperti Thierry Henry, Dennis Bergkamp, dan Patrick Vieira masih ada. Dengan sepak bola yang indah sekaligus taktis, pasukan Arsene Wenger berhasil membuat Premier League bertekuk lutut.

Namun, apa yang dulu membuat nafas orang-orang selalu tertahan sudah tidak ada lagi. Jangankan mengharapkan gelar, bisa benar-benar bersaing memperebutkan gelar juara saja sudah bagus. Arsenal sekarang ini sudah hampir tak pernah diperhitungkan lagi untuk meraih trofi.

Para pendukung Arsenal sendiri sebenarnya sudah gerah. Mereka ingin sekali agar perubahan radikal dilakukan di klub kesayangannya. Bagi mereka, Wenger sudah kuno dan bebal. Pelatih asal Prancis tersebut dianggap sudah tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan taktik yang makin hari makin kompleks saja.

Ketika menyerang, misalnya, Wenger tidak memahami soal di mana seharusnya para pemain berada. Seringkali, pemain-pemain Arsenal melakukan hal-hal mubazir seperti tidak mengisi ruang yang seharusnya mereka isi. Hal ini kemudian berpengaruh bagi cara menyerang Arsenal. Dengan ketidakmampuan Wenger menginstrusikan para pemainnya menempati ruang yang benar, Arsenal jadi tidak memiliki struktur yang jelas dalam menyerang.

Ketidakjelasan struktur permainan Arsenal ini berpengaruh pada dua hal. Pertama, ketergantungan mereka akan aksi-aksi individual pemain dalam mencetak gol. Kedua, mudahnya mereka diserang lewat serangan balik cepat.

Kekurangan ini sebenarnya sudah terlihat sejak lama. Pada laga semifinal leg kedua Liga Champions 2008/09, misalnya, hal ini sudah tampak jelas. Ketika itu, Arsenal dikalahkan Manchester United 1-3.

Pada pertandingan tersebut, ketidakjelasan struktur permainan Arsenal membuat mereka sangat sulit menembus pertahanan United -- yang memang kuat -- sekaligus mudah sekali dibobol lewat serangan balik. Gol kedua Cristiano Ronaldo menjadi bukti nyata bagaimana dua hal itu terjadi pada Arsenal.

Situasinya kala itu adalah Arsenal tertinggal 0-2 (agregat 0-3) saat turun minum dan setelah babak kedua dimulai, mereka mengurung pertahanan United. Namun, setelah tak kunjung mampu membongkar barikade "Setan Merah", mereka kemudian justru dihajar lewat serangan balik. Gol Ronaldo itu pun secara efektif memupus harapan Arsenal untuk melaju ke partai puncak.

video youtube embed

Sir Alex Ferguson sendiri tampaknya paham bahwa begitulah cara paling mudah untuk mengalahkan Arsenal. Tunggu saja di belakang, lalu ketika mereka sedang asyik-asyiknya menyerang tanpa juntrungan yang jelas, hajar lewat serangan balik.

Metode Sir Alex itu kemudian ditiru dengan sempurna oleh Louis van Gaal. Pada musim pertamanya, pelatih asal Belanda itu berhasil meneruskan tradisi menang atas Arsenal. Menggunakan formasi 3-5-2, United berhasil menang dengan skor 2-1 di Emirates Stadium. Gol Wayne Rooney di menit ke-85 merupakan fotokopi dari gol Ronaldo lima tahun sebelumnya. Asyik menyerang (tanpa tujuan jelas), Arsenal dihukum United lewat serangan balik yang dilakukan Marouane Fellaini, Angel Di Maria, dan Rooney.

video youtube embed

Tak hanya United, Middlesbrough pun pernah menghukum Arsenal atas hal ini. Arsenal memang tidak kalah dan tidak ada gol yang tercipta pada laga antara kedua tim 22 Oktober 2016 silam, akan tetapi Aitor Karanka ketika itu menunjukkan bahwa dia lebih unggul dari Wenger soal taktik.

Pada pertandingan itu, Karanka menginstruksikan winger-nya, Adama Traore, untuk menggantung di depan mengisi posisi yang pasti ditinggalkan Hector Bellerin. Duel dua alumni La Masia itu mutlak dimenangi oleh Traore, dan sebenarnya, itu bukan salah Bellerin.

Wenger, selain tidak paham bagaimana menyerang dengan struktur yang benar, juga tidak tahu caranya bertahan dengan struktur yang tepat. Ada dua hal, menurut pelatih tim Liga 3 FC UNY, Qo'id Naufal, yang tidak pernah dilakukan Wenger dalam membenahi pertahanannya. Pertama, Wenger tidak pernah mengajari para pemainnya zona-zona mana yang harus dikover. Kedua, karena tidak ada ilmu soal zona mana yang harus dikover, kerapatan antarpemain pun menjadi masalah. Kalau tidak terlalu rapat, ya, pasti terlalu renggang.

Jika kita melihat apa yang dilakukan Wayne Rooney, Park Ji-sung, dan Cristiano Ronaldo pada tahun 2009, mereka dengan cerdiknya merenggangkan jarak antarpemain Arsenal yang sebelumnya terlalu rapat. Setelah mulai merenggang, oleh tiga pemain tadi pertahanan Arsenal dihancurkan dengan dipaksa secara mendadak agar merapat kembali.

Menghadapi Liverpool-nya Juergen Klopp, Arsenal patut sekali waspada. Pasalnya, Bayern Muenchen saja pernah dihancurkan oleh anak-anak asuh Klopp lewat serangan balik.

Memang ketika itu tim yang dilatih Klopp bukan Liverpool, melainkan Borussia Dortmund. Akan tetapi, faktor pelatih tentu tidak bisa dinafikan. Terlebih, ciri khas Klopp adalah counterpressing di mana fungsi utama darinya adalah untuk menghancurkan struktur permainan lawan. Pertanyaannya, kalau membangun struktur saja Arsenal kesulitan setengah mati, bagaimana kalau kena counterpressing?

Tetapi, Arsenal bukannya tidak punya kesempatan sama sekali karena Liverpool sendiri sedang tidak berada dalam kondisi terbaik. Mereka baru saja kalah dari Leicester City lewat cara yang biasa digunakan Manchester United untuk mengalahkan Arsenal. Tiadanya Jordan Henderson yang merupakan gelandang bertahan andalan Liverpool meninggalkan pekerjaan rumah tersendiri bagi Juergen Klopp.

Namun, Arsenal sendiri bukanlah tim yang bisa bermain seperti Leicester. Mereka selalu berusaha untuk menjadi tim yang mengambil inisiatif serangan tak peduli siapa lawannya. Jika mereka mampu bermain begitu melawan Barcelona atau Bayern pun sudah pasti mereka akan melakukannya. Intinya, Arsenal -- atau Arsene Wenger lebih tepatnya -- tidak memiliki rencana B dan ini bakal merugikan mereka.