George Graham di Persimpangan Arsenal dan Tottenham

Jika keputusan Arsenal mendatangkan Sol Campbell dari Tottenham Hotspur adalah bentuk suatu dendam, maka hal lain yang melatarbelakangi permusuhan keduanya adalah George Graham.
Nama Graham besar karena Arsenal. Kendati ia sempat berkostum Aston Villa dan Chelsea, enam tahun kariernya bersama The Gunners jelas tidak bisa dilupakan. Didatangkan oleh Bertie Mee sebagai pengganti Joe Baker pada 1966, Graham langsung menjadi tumpuan di lini depan.
Dua musim pertama berseragam Arsenal, ia menjadi pencetak gol terbanyak tim. Sedangkan gelar perdananya jatuh pada musim keempatnya, di mana ia jadi salah satu kunci ketika mereka mengalahkan Anderlecht di partai final.
Musim 1970/71, kontribusi Graham terbalas dengan keberhasilan menjuarai First Division dan FA Cup. Di First Division, ia nyaris tak pernah absen dalam 42 pertandingan yang dilakoni Arsenal. Sementara itu, di FA Cup, ia tampil di partai final, kendati tidak mencetak gol.
Enam tahun berseragam Arsenal, Graham memilih berpisah di sebuah persimpangan. Graham memilih untuk bergabung dengan Manchester United, sementara Arsenal memilih pemain Everton, Alan Ball, untuk menjadi penyerang tengah yang baru.
Nasib Graham semakin tak menentu sejak saat itu. Ketika ia bergabung dengan Manchester United, kesempatan tak banyak datang. Kariernya bersama United bahkan berakhir dengan terdegradasinya United ke Second Division.
Bergabung United bukan satu-satunya kesalahan Graham. Keputusannya untuk bergabung dengan Portsmouth dan Crystal Palace, dan California Surf juga jadi kesalahan Graham dalam memilih jalan karier. Karier sepak bola Graham ditutup dengan cara yang sama sekali tidak indah.
Beragam kesalahan Graham tertolong dengan keputusannya pasca-pensiun sebagai pesepak bola. Menimba ilmu sebanyak-banyaknya di Crystal Palace dan Queens Park Rangers, keberuntungan Graham dimulai ketika dilantik sebagai manajer Milwall pada musim 1982/83.
Di Milwall, Graham membangun fondasi timnya dengan apik. Seperti yang dituturkan oleh FourFourTwo, Graham membentuk Milwall sebagai kesebelasan yang memiliki pertahanan kokoh dan mental bermain hebat.
Dengan skuat yang begitu buruk, Graham membawa Milwall bertahan di Third Division dan promosi ke Second Division, dua musim kemudian. Pada musim ketiganya, Milwall bahkan tampil mengejutkan dan menempati posisi kesembilan Second Division.
Apa yang sudah dilakukan Graham di Milwall menarik perhatian banyak kesebelasan First Division, termasuk Arsenal, yang sebelumnya ditinggal oleh Don Howe. Dengan pemahamannya akan kultur Arsenal, Graham diyakini bakal mudah beradaptasi.
Kendati demikian, Graham bukanlah calon tunggal. Di atas Graham, ada nama Terry Venables, yang ketika itu menjabat sebagai pelatih Barcelona dan Sir Alex Ferguson, yang ketika itu sedang menangani Aberdeen.
Dua calon tersebut pada akhirnya tidak menjadi pilihan Arsenal. Per 14 Mei 1986, Graham dilantik sebagai manajer Arsenal.
Kebijakan berani lantas diambil Graham atas nama perbaikan. Nama-nama lawas, seperti Tony Woodcock, Tommy Caton, dan Ian Allinson disingkirkan. Tak hanya itu, Graham juga membuat kebijakan yang menyebabkan pemain dan pelatih berjarak.
Keputusan Graham kemudian dikritik oleh pemain-pemain senior. Bagi mereka, apa yang dilakukan olehnya bisa merusak suasana tim yang tengah buruk-buruknya. Meski demikian, ia tetap percaya diri.
Kepercayaan diri Graham tidak ia wujudkan di atas lapangan. Di atas lapangan, ia berupaya membuat timnya aman dari serangan lawan, bagaimana pun caranya. Frasa "Boring, Boring Arsenal" kemudian sering dikumandangkan.
Setahun berselang, Graham membawa Arsenal menjuarai Piala Liga. Pada musim 1988/89, Arsenal menjuarai First Division. Dua musim berselang, ia membuat Arsenal menjuarai First Division keduanya, setelah hanya sekali kalah selama satu musim.
Pada akhir musim 1992/93, Arsenal mendapatkan gelar ganda setelah memengakhiri Piala Liga dan Piala FA dengan status juara. Puncaknya, pada Mei 1994, Graham mendapatkan gelar Eropa pertamanya setelah merengkuh gelar Piala Winners.
Serangkaian prestasi yang dicatat oleh Graham tidak membuat kariernya benar-benar suci. Pada Desember 1994, Premier League melakukan investigasi soal keterlibatan Graham dengan Rune Hauge, agen pemain yang diketahui kerap memberi suap.
Tiga bulan berselang, Premier League menyatakan bahwa Graham resmi menjadi tersangka dan dihukum larangan terlibat dalam sepak bola selama satu tahun, setelah menerima uang senilai 425 ribu poundsterling dari Hauge. Uang ini diberikan kepada Graham ketika ia menyetujui pembelian dua pemain yang diageni Hauge, John Jensen dan Pal Lydersen.
Sejak itu, nama Graham yang mulanya dielu-elukan mendadak kotor. Seketika itu, ia berubah menjadi sosok pesakitan di mata petinggi Arsenal. Seketika itu pula, ia dipecat oleh Peter Hill-Wood.
Satu musim lamanya Graham menganggur karena hukuman dari Premier League. Setelah itu, ia memutuskan menerima tawaran dari Leeds United untuk menjadi pengganti Howard Wilkinson.
Dua tahun di Leeds United, Graham mengambil sebuah keputusan berani dalam kariernya: menjadi arsitek rival tradisional Arsenal, Tottenham Hotspur. Mengejutkan memang, tetapi bagaimana lagi, itu adalah jalan hidup yang dipilih Graham.
Di Spurs, ia mereplika apa yang ia lakukan di Arsenal. Ia melakukan apa saja demi membawa Spurs meraih gelar. Ia tak mau menyerahkan urusan remeh-temeh kepada orang lain, karena ia akan melakukan semuanya sendirian.
Masalahnya, bergabung dengan Spurs bukan pilihan bijak. Pertikaian Arsenal dengan Spurs membuat Graham kerap jadi korban. November 1998, spanduk bertuliskan “George Judas, Graham Traitor” yang terkenal itu, terpampang di sudut Highbury.
Tak berhenti sampai di sana, gelar Piala Liga yang diberikan oleh Graham kepada Spurs pada akhir musim 1998/99 menyakiti pendukung Arsenal. Akibat keberhasilan itu, nama Graham semakin melekat sebagai pengkhianat.
Karier Graham di Spurs tak lama. Keputusan Spurs menerima investasi ENIC membuat nasibnya dan banyak orang lain tak berlanjut di White Hart Lane. Andai hal tersebut tak terjadi, kemarahan pendukung Arsenal kepadanya mungkin bisa jauh lebih parah.
