Grazie, Totti!

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Kesedihan Totti di laga perpisahannya. (Foto: Alberto Lingria/Reuters )
zoom-in-whitePerbesar
Kesedihan Totti di laga perpisahannya. (Foto: Alberto Lingria/Reuters )

Saya tidak akan lagi menghibur kalian dengan kaki saya, tapi hati saya akan selalu ada bersama kalian.

Sekarang, saya akan menuruni tangga dan memasuki ruang ganti yang menyambut saya saat kecil dahulu dan sekarang saya pergi sebagai seorang pria biasa.

Saya bangga dan senang telah memberi Anda cinta selama 28 tahun ini.

Saya mencintai kalian.

***

Serangkaian kalimat mendalam penuh makna itu dikutip dari barisan akhir pidato Fransesco Totti yang dibacakan di depan puluhan ribu Romanisti--sebutan suporter AS Roma. Karena terhitung sejak 28 Maret 2017, Sang Pangeran resmi menanggalkan jersey klub yang dibelanya sejak belia.

Selama 24 tahun, seorang Totti mengajarkan bagaimana sebuah loyalitas tak bisa ditebus dengan apapun. Bagaimana sebuah kecintaan teramat dalam mampu mengalahkan segalanya.

Terlahir di Kota Roma, di situ pula Un Capitano mengabdikan dirinya. 736 pertandingan, 307 gol: sederet angka yang mematenkan dirinya sebagai legenda Roma sepanjang masa.

Totti membela Roma selama 25 musim. (Foto: Stefano Rellandini/Reuters )
zoom-in-whitePerbesar
Totti membela Roma selama 25 musim. (Foto: Stefano Rellandini/Reuters )

Hingga waktunya pun tiba…

Totti menjalani partai pamungkasnya bersama Roma ketika mempersembahkan kemenangan atas Genoa di Stadion Olimpico. Sebuah kado spesial yang diberikan Totti kepada Romanisti, tentunya. Meski tak mencetak gol, pemain 40 tahun ini berkontribusi mengantarkan Roma menyegel tiket Liga Champions musim depan--sebuah trofi yang belum pernah dimenanginya.

Seremoni pun digelar untuk menghormati jasa ayah dari tiga orang anak ini selama membela Roma. Seperti sudah diduga, Olimpico berubah menjadi lautan air mata manakala Totti menjejakkan kakinya di tempat dimana ia menghadirkan scudetto pada 16 tahun silam.

Totti, ditemani istri dan anak-anaknya, berkeliling stadion untuk menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Romanisti. Tepuk tangan diiringi derai air mata menghiasi detik-detik terakhirnya.

Langkahnya kemudian sempat lama terhenti di Curva Sud--tempat suporter garis keras Roma. Pandangannya menatap jauh ke tribun stadion yang terkadang tak ramah terhadap klub sendiri. Akan tetapi, ia sadar betul. Merekalah yang selalu menghiasi perjalanan kariernya. Tanpa henti memberikan dukungan meski kerap dihadang kebijakan konyol para petinggi klub.

Pada saat itu pula, air mata Totti akhirnnya jatuh. Ia tak kuasa menahan haru. Sambil terus menundukkan kepalanya, memori pemilik nomor punggung 10 ini menerawang jauh ke masa-masa indah yang pernah dilaluinya sebagai pemain, kapten, dan…legenda.

Derby terakhir Totti? (Foto: AP Photo/Gregorio Borgia)
zoom-in-whitePerbesar
Derby terakhir Totti? (Foto: AP Photo/Gregorio Borgia)

“Selama beberapa bulan terakhir, saya bertanya pada diri sendiri mengapa saya terbangun dari mimpi ini. Bayangkan jika Anda adalah anak yang memiliki mimpi yang indah dan ibu Anda membangunkan Anda untuk pergi ke sekolah.

Anda ingin terus bermimpi... Anda mencoba menyelinap kembali ke dalam mimpi tapi Anda tidak pernah bisa. Sekarang ini bukan mimpi, tapi kenyataan. Dan saya tidak bisa lagi masuk ke dalam mimpi tersebut.

Saya ingin mempersembahkan surat ini untuk kalian semua - kepada semua anak-anak yang telah mendukung saya. Kepada anak-anak terdahulu, yang kini sudah tumbuh dewasa dan menjadi orang tua, kepada anak-anak di jaman sekarang, yang mungkin selalu meneriakkan 'Tottigol'.”

Ya, entah sudah berapa banyak anak-anak Roma yang tumbuh besar bersama Totti. Kini, anak-anak itu kebanyakan sudah berkeluarga. Bersiap untuk menceritakan kisah heroik tentang Sang Pangeran Roma kepada anak-anak mereka menjelang tidurnya.

Totti bersama keluarga yang selalu mendukungnya. (Foto: Stefano Rellandini/Reuters )
zoom-in-whitePerbesar
Totti bersama keluarga yang selalu mendukungnya. (Foto: Stefano Rellandini/Reuters )

“Dengan dukungan dari Anda, semoga saya berhasil untuk mengubah lembaran hidup saya dan menempatkan diri saya ke dalam sebuah petualangan yang baru.

Sekarang, inilah saatnya saya mengucapkan terima kasih kepada semua rekan satu tim, pelatih, direktur, presiden dan setiap orang yang telah bekerja sama dengan saya selama masa ini.

Kepada para penggemar dan Curva Sud serta untuk semua orang Romawi dan Romanisti.

Terlahir sebagai seorang Roman dan Romanisti adalah suatu hak yang istimewa.

Menjadi kapten tim ini adalah sebuah kehormatan.”

Grazie (terima kasih), Capitano! Sampai berjumpa lagi.