Jalan Berangin Bastian Schweinsteiger

kumparanSPORTverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Schweinsteiger meninggalkan United. (Foto: Gareth Copley/Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Schweinsteiger meninggalkan United. (Foto: Gareth Copley/Getty Images)

Masa depan Bastian Schweinsteiger terletak jauh dari Manchester. Ia, masa depan itu, melempar sauh di sebuah kota berangin bernama Chicago.

Jika hidup adalah serangkaian ironi, entah apa namanya karier Schweinsteiger. Lahir beberapa bulan setelah Tim Nasional Jerman Barat gagal lolos dari fase grup Piala Eropa 1984, Schweinsteiger tumbuh dan besar menjadi salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Die Mannschaft.

Di Bayern Muenchen, Schweinsteiger punya sebutan unik. Tiap kali namanya disebutkan oleh announcer di Allianz Arena, serempak para pendukung Die Roten berteriak “Fußballgott!”

Sesungguhnya, “Fußballgott”, yang berarti “Football God” atau “Dewa Sepak Bola”, adalah frase umum. Tapi, jika Anda mengetiknya di Google, entah bagaimana yang keluar adalah profil Wikipedia dari Schweinsteiger. Seolah-olah sebutan itu memang untuknya seorang.

Schweinsteiger memang tidak hanya diberkahi fisik yang kokoh. Dengan badannya yang relatif gempal, ia sempat menjajal bermain sebagai seorang winger dan sukses. Padahal, biasanya posisi winger diperuntukkan bagi mereka yang lincah dan berbadan ringan.

Ketika Louis van Gaal datang untuk menangani Bayern, barulah posisinya berubah. Melihat kemampuan Schweinsteiger membaca permainan dan energi yang seakan tak ada habis-habisnya, Van Gaal mengubahnya menjadi seorang gelandang tengah.

Dari posisinya sebagai gelandang tengah itulah Schweinsteiger menahbiskan dirinya sebagai “Fußballgott” di mata pendukung Bayern. Schweinsteiger adalah dinamo lini tengah Bayern, sampai kemudian cedera menggerogotinya dan membuatnya sering absen lama.

Di tengah kelimbungan itulah Manchester United datang mengetuk. United lalu meminangnya dengan mahar yang cukup murah untuk ukuran seorang pemain yang pernah menjuarai Piala Dunia dan menjadi legenda di klubnya sendiri: 6,5 juta poundsterling.

Schweinsteiger menyambut pinangan itu. Selain karena United kala itu ditangani Van Gaal, usut punya usut, Schweinsteiger —bersama kakaknya, Tobias— adalah pengagum terselubung United sejak kecil, kendatipun keduanya berkarier sepak bola sebagai pemain Bayern dan Bayern Muenchen II.

Semestinya —ya, semestinya— pinangan itu berakhir menjadi pernikahan yang serasi. Alasannya jelas, selain karena bertemu pelatih yang pernah membesarkannya, Schweinsteiger bergabung dengan klub yang (katanya) sedang berencana membangun ulang kejayaan dengan rencana yang matang.

Schweinsteiger pada laga melawan Blackburn Rovers. (Foto: Phil Noble/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Schweinsteiger pada laga melawan Blackburn Rovers. (Foto: Phil Noble/Reuters)

Namun, seperti halnya “filosofi” Van Gaal, cerita itu adalah isapan jempol semata, lebih enak didengar tapi betul-betul basi jika dilihat kenyataannya.

Schweinsteiger sempat tampil oke di lini tengah United, sampai kemudian di pertengahan musim cedera datang dan menghajarnya kembali. Ia absen lama, lalu kemudian Van Gaal dipecat, dan manajer asal Belanda itu digantikan oleh Jose Mourinho.

Cerita Schweinsteiger yang awalnya tampak cerah berakhir dengan dingin pada sebuah kota yang saban hari hanya diwarnai oleh hujan dan mendung.

***

Mourinho betul-betul mimpi buruk untuk Schweinsteiger. Jauh-jauh hari, bahkan sebelum United menjalani pertandingan pramusim mereka, manajer asal Portugal itu sudah mengatakan tidak akan menggunakan jasa Schweinsteiger. Sang pemain diizinkan tetap bersama tim, tetapi tidak untuk berlatih bersama tim utama.

Yang bisa dilakukan Schweinsteiger dalam masa-masa pengasingan itu hanyalah mendukung timnya dari jauh. Mencuitkan beberapa patah kata berisikan ucapan untuk tetap semangat lewat Twitter atau sekadar mengunggah foto ia sedang menonton dari tribun.

Beberapa pihak berang melihat perlakuan Mourinho ini, tak terkecuali Tobias dan para petinggi Bayern. Sementara para pendukung United cukup senang melihat pemain pujaan mereka masih mendukung dari jauh, tapi juga dilematis karena melihat pemain sekaliber Schweinsteiger ditepikan begitu saja. Well, setidaknya chant “Deutscher Fußballmeister… Bastian!” masih kerap mereka nyanyikan.

Entah bagaimana, begitu musim memasuki pertengahan, Mourinho melunak. Schweinsteiger mulai dimasukkan ke dalam skuat, lalu ke bangku cadangan, dan akhirnya dimainkan pada pertandingan-pertandingan non-liga melawan tim yang sebenarnya tidak besar-besar amat.

Namun, begitulah nasib. Jika hidup adalah serangkaian ironi, maka dari menjadi juara dunia lalu berubah menjadi orang terbuang adalah salah satu dari rangkaian itu. Schweinsteiger baru berusia 32 tahun —sudah cukup tua, tapi semestinya masih terlalu dini untuk menyebut kariernya sudah berakhir — ketika mengalami ini.

X post embed

Ketika akhirnya klub asal liga sepak bola Amerika Serikat, MLS, Chicago Fire, datang mengetuk, Schweinsteiger pun menyambut. United pun tidak menghalang-halanginya. Pada Selasa (21/3/2017), United mengumumkan lewat situs resmi klub kalau Schweinsteiger tinggal menjalani tes medis untuk meresmikan transfernya ke Fire.

“Saya sedih meninggalkan begitu banyak teman di Manchester United. Namun, saya bersyukur pihak klub mengizinkan saya untuk menghadapi tantangan baru di Chicago Fire. Saya menikmati kerja sama saya dengan manajer, para pemain, dan juga staf di sini. Saya mendoakan yang terbaik untuk semuanya di masa depan,” kata Schweinsteiger.

Cerita yang awalnya tampak hangat ini kemudian berakhir seperti lagu balada yang ditulis oleh Paul McCartney. Sebuah jalan berangin yang mengiringi perjalanan Schweinsteiger menuju pelabuhan selanjutnya, di sebuah kota yang berangin pula.

Semoga beruntung, Basti.

video youtube embed