Jika Juventus Juara (Lagi), Apa yang Perlu Dilakukan Roma dan Napoli?

Hanya sebuah kejutan atau barangkali, kecelakaan, yang bakal membuat Juventus urung berpesta di Turin, hari Minggu (21/5) mendatang. Crotone, sehebat apapun performa mereka belakangan ini, seharusnya tidak punya kuasa untuk menang di puri milik "Si Nyonya Tua".
Jika sudah begitu, artinya untuk keenam kalinya secara berturut-turut, Serie A bakal dikuasai oleh tim yang sama. Dalam sejarah, belum pernah ada tim Italia mana pun yang pernah melakukan hal ini.
Melihat hal demikian, bakal sangat keterlaluan kalau tim-tim besar Serie A lain, khususnya Roma dan Napoli yang selama bertahun-tahun ini secara konstan menjadi rival terberat Juventus, tidak merasa geram.
Akan tetapi, rasa geram saja tentunya tidak cukup. Bahkan, arogansi ala Radja Nainggolan yang menyerang fans Juventus setelah membawa Roma menang atas Juventus akhir pekan lalu pun tidak cukup.
Intinya, wahai Roma dan Napoli, mengungguli Juventus dalam satu-dua laga saja tidak cukup untuk memenangi scudetto. Kalau tak percaya, tengok saja bagaimana kiprah Liverpool di Premier League. Jika liga itu hanya diikuti oleh enam tim teratas saja, maka The Reds-lah yang bakal jadi kampiunnya.
Meski Liga Champions adalah pertaruhan paling sarat gengsi di daratan Eropa, ada alasan mengapa menjadi jawara di negeri sendiri punya prestise yang tak bisa digantikan oleh apapun. Pasalnya, untuk mencapai titik itu dibutuhkan tak hanya pemain-pemain bagus saja.
Lebih dari itu, menjuarai sebuah liga adalah adu konsistensi, adu kedalaman skuat, adu kejelian manajerial, adu kekuatan mental, dan adu kemampuan menjaga momentum. Apabila kini Juventus ada di ambang juara untuk kali keenam, artinya mereka memang unggul dalam hal-hal tersebut. Tak peduli jikalau "Si Nyonya Tua" selalu kesulitan menghadapi Roma dan Napoli, yang penting saat menghadapi tim-tim lain, mereka (hampir) selalu digdaya.
Tentunya, ada alasan-alasan mengapa Roma dan Napoli kalah dalam hal-hal itu dan salah satu musabab terbesarnya adalah fakta bahwa mereka tidak memiliki kekuatan finansial sehebat Juventus. Fakta bahwa pada awal musim ini membajak Miralem Pjanic dan Gonzalo Higuain adalah buktinya.
Roma akhirnya harus rela melepas Pjanic karena pertama, mereka butuh uang agar bisa mengikuti standar Financial Fair Play, dan kedua, karena si pemain sendiri sudah tidak sabar lagi untuk bisa menyentuh sebuah trofi. Kemudian, untuk Higuain, transfer itu sendiri tak ubahnya adalah ajang pamer saja bagi Juventus. Napoli sudah meminta harga selangit untuk membuat para peminat Pipita gentar. Celaka bagi Napoli, Juventus tidak gentar.
Juventus awalnya pun tidak sekuat sekarang. Semua pendukung Juventus ingat betul bagaimana Antonio Conte mengeluhkan betapa pelitnya manajemen klub dalam membeli pemain.
Conte memang tidak (sepenuhnya) salah. Sampai pada titik ketika Conte hengkang, Juventus memang masih dikenal sebagai klub yang doyan sekali mencari pemain-pemain gratisan. Bahkan, sampai awal musim ini pun trademark Giuseppe Marotta dan Fabio Paratici itu masih juga dilakukan dengan mendatangkan Dani Alves.
Dengan transfer-transfer yang luar biasa cerdas, Juventus pun mampu membangun tim yang awalnya cukup kuat untuk Italia dulu dan kini telah menjadi salah satu yang terkuat di Eropa. Progres pasti Juventus, khususnya di Eropa, itulah yang membuat mereka menjelma menjadi kekuatan yang tak tertandingi di Italia.
Pemasukan Juventus, entah itu dari uang hadiah, uang hak siar televisi, maupun dari hasil penjualan pemain -- bayangkan saja pemain macam Simone Zaza bisa dijual sampai 16 juta euro --, terus bertambah. Selain itu, dengan konsistensi prestasinya di Eropa, mereka pun bisa lebih mudah menggoda bintang-bintang untuk bergabung.
Nah, Roma dan Napoli pun sebenarnya sudah diberi contoh apa-apa saja yang kudu dilakukan. Banyak orang yang menyebut agar Roma dan Napoli berhenti menjadi selling club atau klub yang hanya bisa menjual pemain. Hal itu, meski terdengar benar, sebenarnya agak kurang tepat.

Ketika menyebut Juventus, orang tak pernah menyebut mereka sebagai selling club. Padahal, mereka adalah salah satu selling club paling cerdas di dunia.
Belajar dari Juventus, Roma dan Napoli seharusnya tidak sekadar menjadi selling club dan lebih agresif lagi dalam bergerak mendapatkan pemain-pemain incaran mereka. Kalau bisa, sebelum mereka menjual seorang pemain bintang, misalnya, mereka seharusnya sudah mendapat pengganti yang sepadan terlebih dahulu.
Untuk performa yang lebih baik di bursa transfer, Roma pun sudah bergerak dengan menunjuk Monchi sebagai direktur olahraga. Diharapkan, Monchi bakal bisa menjadi jawaban atas dominasi Marotta-Paratici di kubu Juventus. Jika dulu Monchi harus membangun Sevilla dari nol, kini tugasnya takkan seberat itu karena Roma sebenarnya sudah memiliki tulang punggung yang kuat.
Sampai saat ini, Roma sebenarnya sudah memiliki pemain-pemain seperti Radja Nainggolan, Edin Dzeko, dan Kevin Strootman. Jika Roma ingin benar-benar menjadi penantang serius Juventus, mereka mau tak mau harus membangun tim di sekeliling tiga orang ini. Caranya? Biar Monchi saja yang menjawab.
Kemudian, untuk Napoli sebenarnya tugas yang harus mereka lakukan lebih mudah dibanding Roma. Pasalnya, di tim Roma ada semacam ketidakpastian akan nasib allenatore mereka, Luciano Spalletti. Sementara itu, Napoli punya Maurizio Sarri yang diharapkan bisa menjadi Sir Alex Ferguson-nya tim berjuluk Partenopei itu.
Napoli saat ini memang sedang membangun tim dengan identitas yang kuat. Mengandalkan penguasaan bola, Marek Hamsik dkk. telah menjelma menjadi salah satu tim yang penampilannya paling enak dilihat, tak hanya di Italia tetapi juga di Eropa. Meski begitu, mereka masih kekurangan sosok yang bisa memimpin tim menuju kejayaan.
Saat ini, mereka praktis hanya memiliki Marek Hamsik sebagai sosok pemimpin. Satu-satunya cara agar Napoli bisa mendompleng dominasi Juventus adalah dengan menambah pemain-pemain bermental juara dan seorang penjaga gawang yang benar-benar bisa diandalkan. Kalau tidak, maka proyek yang mereka bangun di bawah Sarri ini bakal menjadi sia-sia nantinya.
