Kisah Charles Oliveira: Berhenti Main Bola karena Radang Sendi, Kini Juara UFC

Jauh sebelum menjadi juara kelas ringan UFC, Charles Oliveira adalah seorang anak kecil biasa di kota Guarajua, Sao Paulo, Brasil, yang suka bermain sepak bola.
Kendati demikian, ia tak diberkati dengan fisik yang prima. Oliveira didiagnosis memiliki murmur jantung yang tak normal dan menderita rheumatoid arthritis, radang sendi yang menyerang pergelangan kakinya pada usia dini.
Dengan kondisi seperti itu, Oliveira tak mampu melakukan hal-hal dasar dalam hidupnya, misalnya untuk berdiri tegak. Sampai-sampai, ia divonis tak bisa melakoni olahraga apa pun.
"Aku dirawat di rumah sakit selama dua tahun dan dokter memberi tahu ibuku bahwa aku tidak bisa berolahraga lagi," kata Oliveira dikutip dari MMA Fighting.
"Aku menyukai sepak bola pada saat itu, aku tidak tahu apa itu olahraga pertarungan, tetapi harus mendekam dua tahun di rumah sakit. Menyebalkan. Orang tuaku bekerja jadi aku sendirian sepanjang pagi. Sulit untuk terbiasa," sambungnya.
Sang ayah, Francisco Antonio da Silva, bekerja di rumah pemotongan hewan dan menjual telur. Sementara Ozana Pereira de Oliveira menjadi petugas kebersihan di sekolah dan rumah kepala sekolah.
Dengan pekerjaan seperti itu, tentu keduanya kesulitan membayar perawatan Oliveira. Akan tetapi, bantuan dari bos Ozana meringankan upaya penyembuhan tersebut.
"Ketika dokter mengatakan bahwa anak kami memiliki suatu kondisi dan dia mungkin tidak pernah berjalan lagi, saya berkata bahwa saya percaya kepada tuhan," ungkap Ozana.
Kenangan Ozana tentang masa-masa itu masih jelas tercetak. Ia tidur di lantai rumah sakit dekat ranjang Oliveira. Ia bangun pagi-pagi sekali untuk bekerja dan kembali merawat anaknya.
Oliveira baru keluar dari rumah sakit ketika usianya menginjak 11 tahun. Belum pulih 100 persen, dokter menyarankan untuk tidak melakukan aktivitas yang berat, termasuk sepak bola kesayangannya.
Ia juga harus menerima suntikan obat berkala tiap dua minggu dan sebulan sekali. Dua bulan kemudian, Oliveira sudah kembali berolahraga. Kini, ia memilih Jiu-jitsu Brasil.
"Dia mulai berlatih Jiu-jitsu dua bulan setelah keluar dari rumah sakit dan memenangkan kejuaraan lokal dua bulan kemudian," ungkap Francisco.
"Ketika kami kembali ke dokter dan dokter mengatakan itu dilarang, Oliveira sudah memiliki dua medali emas," lanjutnya.
Oliveira terus menerima suntikan obat sampai berusia 18 tahun ketika dia sudah muak dan memutuskan untuk berhenti.
"Aku lebih baik mati daripada terus seperti ini dan tidak dapat melakukan hal-hal yang aku sukai," kata Oliveira kala itu.
Oliveira berhenti dari sepak bola dan berlatih Jiu-jitsu saat usianya menginjak 12 tahun. Ericson Cardoso, pelatih Bronx Gold's Team memberinya kelas gratis karena permintaan seorang rekannya.
Cardoso menyadari bahwa Oliveira memiliki keunikan setelah melihat bagaimana ia menangani kala dipukuli di hari pertama. Seperti anak-anak lainnya, Oliveira banyak melakukan kesalahan.
Namun, sikap Oliveira agak melenceng. Ia menunjukkan keinginan untuk terus belajar dan menjadi pemenang. Akan tetapi, ia menggunakan kekuatannya untuk memukuli perempuan.
"Saya sangat marah padanya. Dia pikir dia bisa datang ke sini dan menyakiti semua orang hanya karena dia laki-laki dan lebih besar dari perempuan?" ucap Joyce Matias, perempuan yang lebih muda darinya di sasana.
"Saya memukulinya sehingga dia tidak akan menyakiti siapa pun lagi," lanjutnya seraya tertawa.
Matias telah berlatih Jiu-jitsu setahun lebih lama dari Oliveira. Saat ia memukulinya seperti itu, dipikirnya Oliveira tidak akan kembali. Namun, fakta menunjukkan sebaliknya.
"Dia kembali dan berkata dia akan berlatih keras untuk mengalahkan saya," ungkap Matias.
"Dia tidak menyukai saya karena orang-orang mengolok-olok dia setelah kalah dari saya. Dia terus berlatih tetapi tetap kalah dari saya berulang kali," lanjutnya.
Oliveira kemudian melakoni debut amatirnya di MMA pada 2007 di mana ia menang dengan kuncian. Kemenangan itu membuat semua orang gemetar, kecuali ibunya.
"Ayahnya tahu tentang itu dan mengizinkannya, tetapi saya baru mengetahuinya ketika dia pulang dengan ayahnya dan pelatihnya mengatakan dia menang," cerita Ozana.
"Saya tidak berbicara dengan mereka selama berhari-hari. Bagaimana jika dia terluka? Anda tidak tahu betapa marahnya saya," sambungnya.
Oliveira kemudian ditawari kesempatan untuk melakukan debut profesionalnya di MMA pada usia 18 tahun. Kala itu, rekan setimnya mundur dari pertarungan kelas welter di Predator FC.
15 Maret 2018, Oliveira menandakan kelahirannya di jagad MMA. Ia berhasil memenangi 3 laga dalam semalam. Satu menang kuncian, sisanya dibungkus dengan kemenangan KO.
Sisanya terukir manis dalam sejarah. Oliveira akhirnya bergabung dengan pentas MMA terbesar di dunia, yakni UFC, dengan bekal 12 kemenangan beruntun.
Kariernya di UFC bermula saat bentrok dengan Darren Elkins, 1 Agustus 2010 silam. Ia berhasil menang dengan kuncian armbar hanya dalam 41 detik.
Meskipun menjalani debutnya dengan baik, karier Oliveira di UFC tak selalu berjalan mulus. Secara total, ia telah menelan delapan kekalahan.
Kendati demikian, Oliveira terus memperbaiki performanya sehingga mendapatkan kesempatan untuk memperebutkan gelar juara kelas ringan UFC yang kosong di UFC 262, Minggu (16/5) pagi WIB.
Menghadapi Chandler, Oliveira memiliki catatan delapan kemenangan beruntun. Petarung asal Brasil itu berhasil menghentikan jagoan tuan rumah.
Oliveira mampu menuntaskan perlawanan Chandler dengan kemenangan KO di ronde kedua. Dengan itu ia berhak mewarisi gelar yang sebelumnya dimiliki Khabib Nurmagomedov.
Oliveira lahir dari kota kecil yang kumuh di Brasil, sempat divonis tak bisa berdiri dan meninggalkan sepak bola yang dicintainya, namun kini seorang juara dunia.
****
