Kisah Petinju Inggris: Dulu Dipecat Klub Sepak Bola, Kini Sabet Medali Olimpiade

kumparanSPORTverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petnju Inggris Ben Whittaker. Foto: Mark Metcalfe/Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Petnju Inggris Ben Whittaker. Foto: Mark Metcalfe/Getty Images

Petinju Inggris, Ben Whittaker, sempat menjadi sorotan di ajang Olimpiade 2020. Pasalnya, dia menangis dan enggan memakai medali perak yang ia dapat usai kalah dari wakil Kuba, Arlen Lopez, pada Rabu (4/8).

Turun di kelas berat ringan putra, Whittaker sukses mengalahkan wakil ROC, Imam Khataev di semifinal. Sayang, kalah di laga final dari wakil Kuba, Arlen Lopez membuatnya begitu emosional.

"Saya melakukannya untuk semua orang di rumah dan saya merasa gagal," kata Whittaker dikutip dari Sky Sports.

“Pada saat itu, saya seharusnya mengalungkan medali perak yang indah ini di leher saya dan tersenyum karena ini bukan hanya untuk saya, ini untuk negara [Inggris]," tambahnya menyesal.

Terlepas dari sorotan tersebut, ternyata Ben Whittaker memiliki kisah perjuangan dalam hidupnya sebelum berada di titik ini. Per talkSPORT, petinju Inggris itu menceritakan pahitnya putus sekolah dan dipecat dari pekerjaan.

X post embed

Jauh sebelum insiden tangisan, pujian dari petinju Inggris, Anthony Joshua, dan meraih medali Olimpiade 2020, Whittaker hanyalah anak biasa dengan berbagai mimpinya. Ia sempat bekerja di toko olahraga usai dikeluarkan dari sekolah.

“Saya dikeluarkan dari sekolah, lalu saya pergi ke JD Sports,” katanya kepada talkSPORT usai menyabet medali perak.

“Saat itu adalah Boxing Day dan itu [pekerjaan] terlalu berat bagi saya. Jadi saya bersembunyi di toilet, tapi saya ketahuan dan akhirnya dipecat," jelasnya.

Meski dikeluarkan dari sekolah dan dipecat pada pekerjaan pertamanya, pria kelahiran Wolherhampton itu tak putus asa. Ia kemudian mendapatkan pekerjaan baru di klub sepak bola lokal dan bekerja sebagai pelayan.

“Kemudian saya pergi ke klub sepak bola lokal di kota saya, yaitu Wolverhampton Wanderers. Saya menjadi seorang pelayan," ucap petinju kelahiran 1997 itu.

“Namun, [pekerjaan] itu terlalu kaku untuk saya, saya tidak tahan lagi, jadi saya bersembunyi di toilet dan ketahuan tengah makan Pukka Pies [kue pie]. Saya pun dipecat lagi!" tambahnya.

Petnju Inggris Ben Whittaker. Foto: Barrington Coombs/Getty Images

Merasakan pahitnya dua kali dipecat, Whittaker pun berpikir untuk menjalani pekerjaan yang baru. Dikenalkan tinju oleh sang ayah, ia merasa memiliki bakat di sana dan memutuskan untuk menggeluti olahraga tersebut.

“Kemudian saya berkata pada diri sendiri, ‘Satu-satunya hal yang tampaknya saya kuasai adalah tinju, jadi mari kita coba dan lihat seberapa jauh saya bisa mencapainya'," kenang Whittaker ketika pertama kali memutuskan terjun ke dunia tinju.

"Dan saya baru saja mencapai final Olimpiade, jadi itu tidak terlalu buruk!" tandasnya.

Ben Whittaker tercatat sebagai seorang petinju amatir asal Inggris. Pada 2018, ia terpilih untuk mewakili Inggris di Commonwealth Games 2018 yang berlangsung di Gold Coast, Australia.

Selain medali perak di Olimpiade 2020, prestasi lainnya yang dimiliki Whittaker selama mewakili Inggris, yaitu medali emas dalam ajang Kejuaraan Tinju Amatir Eropa 2019 di Valladolid, Spanyol dan perunggu di Kejuaraan Dunia 2019 di Yekaterinburg, Rusia.

X post embed

Kini, Whittaker tak hanya menjalani karier sebagai seorang petinju. Ia juga memiliki kegiatan lain, yaitu menjadi seorang rapper. Dirinya bahkan sudah memiliki satu buah lagu berjudul '120'.

"Selain tinju, saya juga menjadi seorang rapper sekarang. Itu ada di YouTube GRM Daily, saya juga sedikit melakukan dance di musik video tersebut," ucapnya dikutip dari Twitter Olympics.

"Untuk saya semuanya itu menjadi sebuah kombinasi, itu menjadi sebuah ritme. Ketika kalian menyaksikan saya bertinju, saya selalu dalam ritme. Saya menyukai ritme itu, jadi saya serba bisa ketika saya menjadi ahli," tandasnya.