Lewis Dunk, Si Pahlawan Lokal yang Malang

Seumur hidupnya, Lewis Dunk hampir tidak pernah beranjak dari kota kelahirannya, Brighton. Di kota pesisir itu dia lahir, besar, hingga akhirnya, kini dirinya menjadi pahlawan masyarakat setempat. Hanya sekali, tepatnya pada 2013 silam, dirinya harus pergi sejenak untuk menimba ilmu di Bristol.
Perjalanan Brighton and Hove Albion di jagat persepakbolaan Inggris memang tak ubahnya dongeng. Dua puluh tahun silam, mereka harus kehilangan rumah dan kini, tak hanya sudah memiliki rumah baru yang megah, mereka juga berada sejajar dengan kesebelasan-kesebelasan terbesar Inggris di Premier League.
Keberhasilan Brighton ini, tentu saja, tidak bisa dilepaskan dari sumbangsih Dunk. Sejak masih kanak-kanak, dia sudah berada di klub ini sampai akhirnya, pada 2010 lalu, ketika usianya menginjak angka 19, dia menandatangani kontrak profesional pertamanya. Setahun berikutnya, dia menjadi salah satu pemain yang turun berlaga pada pertandingan perdana The Seagulls di rumah anyar mereka, Amex Stadium, di Falmer.
Namun, kariernya tidak selalu mulus. Awalnya, dia harus bersaing dengan nama-nama yang lebih senior seperti Tommy Elphick, Adam El-Abd, dan mantan kapten tim, Gordon Greer. Itulah mengapa, dirinya kemudian sempat disekolahkan ke Bristol City. Di sana, Dunk gagal total karena hanya berkesempatan turun berlaga sebanyak dua kali.
Namun, itu tidak menyurutkan kepercayaan Brighton terhadapnya. Bersamaan dengan kedatangan Chris Hughton pada 2014 ke kursi manajerial, Dunk pun diberi kontrak baru yang mengikatnya selama empat musim.
Dunk pun akhirnya mampu membayar lunas kepercayaan Brighton dengan membawa klub kelahiran 1901 itu promosi untuk pertama kalinya ke Premier League. Kini, 13 laga telah mereka lalui dan Brighton and Hove Albion duduk di peringkat kesembilan klasemen sementara. Mereka pun menjadi klub promosi dengan peringkat terbaik di atas Huddersfield Town yang ada setingkat di bawahnya dan Newcastle United yang terperosok di urutan ke-13.
Satu hal yang membuat Brighton begitu impresif musim ini adalah bagaimana mereka bertahan. Dengan hanya baru kemasukan 14 gol, mereka hanya berselisih satu gol dari Chelsea. Mereka bahkan lebih kuat dalam bertahan ketimbang Liverpool yang sudah kemasukan 18 kali.
Catatan menawan Brighton ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari apiknya performa Dunk. Berduet bersama Shane Duffy di jantung pertahanan, pemain 26 tahun ini selalu bermain penuh di 13 laga yang telah dilakoni The Seagulls.
Dari sana, catatan statitstiknya pun terbilang lumayan dengan kemampuan melakukan intersep sebagai keunggulan utamanya. Berdasarkan catatan WhoScored, sejauh ini Dunk sudah mampu membukukan 1,8 intersep di tiap laganya. Tak cuma itu, Dunk yang berpostur 192 cm ini juga punya kelebihan dalam melepas umpan-umpan panjang. Di sini, dirinya pun menjadi tandem sempurna untuk Duffy yang cara bermainnya lebih klasik.

Akan tetapi, di balik semua itu, ada satu hal yang mengganjal bagi seorang Lewis Dunk. Ganjalan yang dimaksud adalah bagaimana dirinya jutru menjadi biang kerok kekalahan Brighton dari duo Manchester. Dalam dua laga itu, Dunk mencetak dua gol bunuh diri.
Pada laga menghadapi Manchester City pertengahan Agustus silam, dia mencetak gol bunuh diri dengan kepalanya. Lalu, pada laga menghadapi Manchester United semalam (25/11/2017), Dunk yang coba menghalau tendangan jarak jauh Ashley Young justru memasukkan bola ke gawang sendiri karena kiper Brighton, Matt Ryan, mati langkah.
Dengan demikian, Dunk pun kini punya catatan minor yang rasanya sulit disamai oleh siapa pun. Dia adalah pemain pertama yang mencetak dua gol bunuh diri dalam laga menghadapi duo Manchester dalam satu musim. Namun, seharusnya hal tersebut tidak akan menjadi ganjalan bagi Dunk ke depannya.
Saat ini, penampilan apiknya bersama Brighton telah membuat dirinya dikait-kaitkan dengan tim-tim Premier League yang lebih besar. Tak cuma itu, dia pun juga telah berani menargetkan satu tempat di skuat Inggris untuk Piala Dunia 2018 mendatang. Apabila performa ini bisa terus dipertahankan sampai akhir musim, well, siapa yang tahu?
