Bola & Sports
·
13 Maret 2017 16:17

Marcus Gideon: DNA Bulu Tangkis dan Perjalanan yang Tak Mudah

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Marcus Gideon: DNA Bulu Tangkis dan Perjalanan yang Tak Mudah (163222)
Kevin dan Marcus di All England 2017. (Foto: Andrew Boyers/Reuters)
Agustus 2016, Marcus Fernaldi Gideon menderita cedera lutut yang lumayan parah. Alhasil, ia harus absen dari lapangan selama kurang lebih dua bulan. Pada November, sekembalinya dari cedera, Marcus langsung berprestasi. Bersama pasangannya, Kevin Sanjaya, ia sukses membawa pulang gelar China Terbuka.
ADVERTISEMENT
Empat bulan kemudian, atau tepatnya Maret 2017, Marcus bersama pasangannya itu kembali meraih prestasi. Kali ini mereka meraih gelar juara salah satu ajang penuh prestise di kancah bulu tangkis internasional: All England. Minggu (12/3) malam di Birmingham, Inggris, Marcus/Kevin sukses menumbangkan pasangan China, Li Junhui dan Liu Yuchen.
Kesuksesan Marcus/Kevin di All England itu berhasil menahbiskan mereka sebagai ganda putra terbaik milik Indonesia saat ini. Dan untuk mencapai level itu, mereka berdua harus meniti karier yang tak mudah. Marcus, bahkan, harus melewati pelbagai masalah sebelum bisa mencatatkan sejarah di usia 26 tahun.
Marcus Gideon: DNA Bulu Tangkis dan Perjalanan yang Tak Mudah (163223)
Pose Marcus/Kevin dengan trofi All England. (Foto: REUTERS/Andrew Boyers)
***
Marcus Fernaldi Gideon tumbuh di keluarga yang kental dengan bulu tangkis. Sang ayah, Kurniahu, adalah atlet bulu tangkis legendaris Indonesia era 1970-1990an. Terlebih, kemudian sang ayah juga menjadi pelatih bulu tangkis dan membentuk sebuah klub bernama PB Tangkas. Dan dari klub itulah awal karier Marcus berawal.
ADVERTISEMENT
Pada awalnya, karier Marcus dimulai sebagai pebulu tangkis tunggal. Pada tahun 2009, kala bertanding di salah satu turnamen setipe Series di Australia, yakni Victoria Internasional Series, Gideon berhasil meraih juara pertama. Saat itu, ia mampu menumbangkan pebulu tangkis tuan rumah, Joe Wu, di partai final.
Namun, perjalanan tunggal pria kelahiran Jakarta itu tak berlangsung lama. Pada tahun 2011, ia memilih berkarier di sektor ganda putra. Keputusan yang dipilihnya tepat. Di tahun yang sama, Marcus berhasil meraih gelar perdananya sebagai ganda di ajang Singapura Internasional Series. Kala itu ia berpasangan dengan Agripina Prima Rahmanto.
Satu tahun berselang, bersama pasangan yang sama, Marcus kembali menjadi juara. Kali ini ia dan Agripina mampu merebut gelar Iran Fajr Internasional Series. Setelah itu pun karier Marcus menanjak. Ia mulai menjadi atlet potensial di Pelatnas Cipayung. Sayangnya satu tahun berselang, ada sedikit polemik yang menimpanya.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 2013 itu, Marcus memutuskan mundur dari Pelatnas Cipayung. Kala itu, dikabarkan ia kecewa lantaran bersama sang pasangan, Agripina, tak dibawa tim pelatih untuk mengikuti ajang All England. Terlebih, yang kemudian dibawa oleh tim pelatih dari Pelatnas Cipayung adalah pasangan-pasangan yang peringkatnya di bawah duet Marcus/Agripina.
Lantas, Marcus pun memilih keluar dan menjadi pemain "swasta". Namun, kendati tak lagi menjadi pemain Pelatnas Cipayung, pria bertinggi 167 sentimeter itu tak berhenti berprestasi. Bersama atlet ganda putra ternama Indonesia, Markis Kido, Marcus mampu memenangi berbagai gelar.
Yang pertama, pasangan tersebut mampu menjadi kampiun Prancis Terbuka 2013 setelah menaklukkan pasangan Malaysia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong, di partai final dengan dua gim langsung. Satu tahun berselang, pasangan Marcus/Markis mampu menjadi juara di negeri sendiri dengan mengangkat trofi Indonesia Master.
ADVERTISEMENT
Rentetan prestasi itu pun membuat Marcus kembali dipanggil untuk masuk Pelatnas Cipayung. Pada tahun 2014 itu, kebetulan, salah satu atlet ganda Indonesia, Selvanus Geh, keluar dari Cipayung karena sakit. Marcus pun kembali dan ini menjadi titik balik kariernya.
Prestasi tersebut pula yang kemudian membuat Marcus disebut sebagai pemain spesialis ganda. Dari segi permainan sendiri, ia merupakan pemain belakang yang memiliki kecepatan untuk meng-cover pemain depan dengan lugas dan memiliki pukulan-pukulan kencang.
Selepas kembali masuk Pelatnas Cipayung, Marcus kemudian berduet dengan pasangan anyar, yakni Kevin Sanjaya. Bersama Kevin inilah karier Marcus bisa semakin melejit. Duet mereka mampu menciptakan banyak gelar. Pada 2015-2016, keduanya sudah meraih lima gelar, yakni Taiwan Master, Malaysia Master, India Terbuka, Australis Terbuka, dan China Terbuka.
ADVERTISEMENT
Dan deretan gelar itu kemudian disempurnakan dengan gelar All England yang diraih keduanya pada Minggu (12/3) malam kemarin. Bersama Kevin, Marcus juga berhasil mencapai peringkat dunia tertinggi sepanjang kariernya, yakni peringkat dua dunia yang mereka raih pada Desember 2016 lalu.
Kini, di usia 26 tahun, Marcus sudah menjadi salah satu atlet andalan Indonesia. Dan bersama Kevin, duet itu menjadi duet ganda putra terbaik Indonesia saat ini. Keduanya pun diharapkan bisa melebihi atau paling tidak menyamai, pencapaian kedua eks-pasangan sekaligus senirnya, Markis Kido dan Hendra Setiawan.