Menyambut Wajah Baru Wimbledon

Wimbledon 2019 baru akan berlangsung dua bulan lagi. Tapi, persiapan menyambut turnamen tenis terelite ini sudah dimulai sejak jauh-jauh hari.
Wimbledon 2019 yang akan digelar pada 1-14 Juli ini tidak akan berkisah tentang turnamen terakhir Sir Andy Murray saja, tapi juga pemberlakuan sejumlah kebijakan dan aturan baru. Berikut hal-hal baru yang akan mewarnai kemegahan Wimbledon 2019.
1. Total uang hadiah mencapai 38 juta poundsterling
Orang-orang awam boleh berkata, “Yang penting ‘kan gelar juaranya, prestisenya. Uang urusan belakangan.” Tapi, kondisi orang awam berbeda dengan para petenis profesional.
Yang perlu digarisbawahi, para petenis hidup dari uang hadiah dan sponsor. Itulah sebabnya uang hadiah menjadi persoalan penting. Kalau uang hadiah cuma menjadi remeh-temeh pelengkap, tak akan mungkin Billie Jean King sebegitu kukuh memperjuangkan kesetaraan uang hadiah untuk para petenis perempuan pada awal 1970-an.
Upaya itu berhasil, meski sempat ditentang di sana-sini, termasuk oleh Asosiasi Tenis Profesional. Menyusul ketiga seri Grand Slam lainnya, Wimbledon akhirnya menyamakan uang hadiah untuk petenis pria dan wanita pada 2007, yang dipicu oleh esai yang ditulis oleh Venus Williams di The London Times pada Juni 2006.
Australia Terbuka membuka Grand Slam 2019 dengan keputusan mengejutkan, tapi menggembirakan, dengan menetapkan uang hadiah hingga 65 juta dolar Australia atau setara dengan 42,8 juta dolar AS. Australia Terbuka tampaknya benar-benar belajar dari masa lalu, kala mereka menjadi Grand Slam yang paling tidak laku akibat uang hadiah yang begitu minim.
Gebrakan yang dilakukan oleh Australia Terbuka memicu seri-seri lain untuk meningkatkan uang hadiah, termasuk Wimbledon. Di edisi ke-133 ini, uang hadiah Wimbledon mencapai 38 juta poundsterling atau setara dengan 49 juta dolar AS.
Jumlahnya memang menggembirakan, tapi tetap kalah bila dibandingkan dengan uang hadiah AS Terbuka 2018. Turnamen yang ditutup dengan gelar Grand Slam pertama Naomi Osaka itu menetapkan uang hadiah sebesar 53 juta dolar AS. Angka itu menjadi uang hadiah tertinggi di sepanjang sejarah Grand Slam.
Bila dibedah, masing-masing juara di nomor tunggal putra dan putri Wimbledon 2019 akan menerima hadiah sebesar 2,35 juta poundsterling. Dibandingkan tahun lalu, jumlah ini meningkat sebesar 100 ribu poundsterling.
Petenis-petenis yang keluar di babak-babak awal pun akan diapresiasi lebih. Uang hadiah bagi mereka yang ada di kualifikasi pertama hingga ketiga juga akan meningkat 10%. Tahun lalu, total uang hadiah untuk mereka yang hanya bertahan sampai babak kualifikasi adalah 34.125 poundsterling.
Kabar baik lainnya, petenis yang terhenti di babak pertama (babak 128 besar) juga bakal merasakan efek peningkatan uang hadiah ini. Masing-masing nomor tunggal putra dan putri akan menerima 45 ribu poundsterling.
Efek domino gebrakan Australia Terbuka tak hanya melanda Wimbledon, tapi juga Prancis Terbuka. Turnamen berjuluk Roland Garros ini meningkatkan total hadiahnya sebesar delapan persen. Itu berarti, uang hadiah Prancis Terbuka 2019 mencapai 42,6 juta euro atau setara dengan 48 juta dolar AS.
2. Musim baru, wajah baru No.1 Court
Yang mengalami pembaruan bukan hanya uang hadiah, tapi juga lapangan di All England Lawn Tennis and Croquet Club yang menjadi kompleks arena para petenis memperebutkan trofi, termasuk Venus Rosewater Dish. Itu adalah nama trofi untuk nomor tunggal putri. Disebut dish karena bentuknya seperti piring raksasa berwarna perak.
Sementara trofi tunggal pria akrab dengan gelar trofi nanas. Bukan karena secara keseluruhan trofi itu berbentuk nanas, tapi karena puncak trofi itu menyerupai nanas berwarna emas. Itulah sebabnya, tak jarang para penggila tenis menonton langsung final Wimbledon dengan berkostum nanas.
Yaaaah… hitung-hitung menyemarakkan tema musim panas yang diangkat. Kostum nanas sambil makan camilan stroberi dan krim, perpaduan yang pas, ‘kan?
Kembali ke lapangan, Wimbledon 2019 sekaligus menjadi ajang perkenalan para pegiat dan penikmat tenis dengan wajah baru No.1 Court. Lokasi lapangan ini berada di sebelah Centre Court. Untuk menyamakan persepsi, lapangan utama ini tak sekadar lapangan, tapi dikelilingi oleh tribune penonton.
Gambaran sederhananya, lapangan sepak bola di stadion-stadion papan atas. Nah, wajah barunya adalah retractable roof alias atap yang bisa dibuka dan ditutup sewaktu-waktu. Penambahan retractable roof untuk No. 1 Court bukan proyek yang setahun jadi. Rencananya sudah mencuat sejak April 2013.
Teknologi ini sudah diterapkan di Centre Court sejak 2009. Para atlet di Olimpiade London 2012 bahkan merasakan sendiri seperti apa rasanya bertanding dengan bantuan teknologi ini.
Kapasitas penonton di No.1 Court pun ditambah, dari 11.360 penonton menjadi 12.345 penonton. Meski jumlahnya membikin merinding, No.1 Court masih berstatus sebagai stadion tenis berkapasitas terbesar kedua.
Hingga kini, pemuncaknya masih Arthur Ashe Stadium alias lapangan utama USTA Billie Jean King National Tennis Center yang merupakan venue AS Terbuka. Stadion yang mengambil nama legenda tenis Amerika Serikat ini berkapasitas 23.771 penonton.
Uji coba wajah baru No.1 Court bakal digelar pada Minggu (19/5/2019) waktu Inggris. Legenda hidup, John McEnroe dan Martina Navratilova, akan ambil bagian dalam prosesi ini.
Wimbledon dan McEnroe memiliki hubungan spesial. Final tunggal putra 1980 menampilkan pertandingan legendaris antara McEnroe dan legenda hidup asal Prancis, Bjorn Borg. McEnroe yang waktu itu masih hijau dan bengal berhasil memberikan perlawanan brilian kepada Borg yang bertanding sambil memanggul asa merengkuh gelar juara kelima secara beruntun di Wimbledon.
Laga sakral ini bahkan diangkat ke dalam film berjudul Borg vs McEnroe yang rilis pada 2017. Borg diperankan oleh Sverrir Gudnason, sementara McEnroe diperankan oleh Shia LaBeouf.
Kisah yang tak kalah magis juga dimiliki oleh Navratilova. Petenis yang sempat bertanding di bawah bendera Republik Ceko sebelum pindah kewarganegaraan menjadi Amerika Serikat ini mengoleksi delapan gelar juara nomor tunggal putri Wimbledon.
Tapi, pencapaian Navratilova lebih dari itu. Ia menjadi satu dari tiga petenis yang meraih gelar ‘Grand Slam Boxed Set’. Gelar ini diberikan kepada para petenis yang meraih juara di seluruh seri Grand Slam untuk semua nomor yang mungkin ia ikuti.
Itu berarti, Navratilova pernah menjadi juara di nomor tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran di Australia Terbuka, Prancis Terbuka, Wimbledon, dan AS Terbuka. Dua petenis lainnya yang meraih gelar ini adalah Margaret Court dan Doris Hart.
Ya, belum ada petenis pria yang sanggup merengkuh gelar ini dengan menjadi juara di nomor tunggal dan ganda putra serta ganda campuran di seluruh seri Grand Slam. Kapan-kapan, kami akan bercerita lebih jauh soal McEnroe dan Navratilova.
Berhubungan dengan lapangan, tahun ini Wimbledon akan memperkenalkan 100 persen botol air daur ulang dan dapat didaur ulang lagi. Raket para pemain yang diperbaiki senarnya pun tidak akan dibungkus dengan plastik. Kebijakan ini diperkirakan akan menghemat 4.500 kantong plastik.
3. Pemberlakuan final-set tie-break at 12-12 dan tanpa shot clock
Perubahan aturan terjadi di Wimbledon 2019. Kali ini, mereka memberlakukan final-set tie-break at 12-12.
Jadi kalau kedudukan di final set mencapai 12-12, bakal diberlakukan tie break. Siapa yang lebih dulu mencapai angka tujuh, tentu dengan jarak minimal dua poin, dia yang menang. Final set untuk tunggal dan ganda putri serta ganda campuran adalah set ketiga, sementara tunggal dan ganda putra adalah set kelima.
Yang menjadi dasar aturan ini adalah laga semifinal tunggal putra musim lalu yang mempertemukan John Isner dan Kevin Anderson. Laga itu berlangsung selama enam jam 36 menit. Laga lima set itu tuntas dengan skor 7-6(6), 6-7(5), 6-7(9), 6-4, 26-24 bagi kemenangan Anderson.
Ini tidak menjadi laga terpanjang yang pernah dilalui oleh Isner, petenis asal Amerika Serikat itu. Delapan tahun sebelumnya, tepatnya di Wimbledon 2010, Isner sudah melakoni laga gila melawan Nicolas Mahut yang berkebangsaan Prancis, selama 11 jam 5 menit, yang berlangsung selama tiga hari. Memang edan betul si Isner ini.
Dasar pemberlakukan aturan baru ini sederhana. Operator pelaksana Wimbledon (AELTC) menginginkan laga tetap berlangsung kompetitif, tapi tidak menghabiskan waktu yang kelewat lama.
Dengan pemberlakuan ini, keempat seri Grand Slam menerapkan aturan berbeda. Australia Terbuka menggunakan aturan a first-to-10 point tiebreak at 6-6 in final set, Prancis Terbuka kukuh dengan long deciding sets.
Sementara, AS Terbuka menggunakan first-to-seven point tiebreaker at 6-6 in final set. Itu berarti, setiap petenis mesti menerapkan strategi berbeda di keempat kompetisi Grand Slam.
Kabar baik bagi para petenis, Wimbledon tidak akan memberlakukan aturan 25 seconds shot clock untuk tahun ini. Sayangnya, kabar baik ini diprediksi tak akan berumur panjang. CEO AELTC, Richard Lewis, mengisyaratkan, aturan ini akan mulai diperkenalkan di Wimbledon pada 2020.
Shot clock sendiri membuat para petenis memiliki batas waktu untuk mengeksekusi servis. Jika 25 seconds shot clock berarti, para petenis hanya memiliki waktu 25 detik untuk melakukan servis.
Hampir semua petenis memiliki ritual servis sendiri. Novak Djokovic, misalnya. Dalam pertandingan tensi tinggi atau skor krusial, ia akan memukul-mukulkan bola ke lapangan lebih lebih lama daripada biasanya. Dengan aturan ini, Djokovic tak boleh melewati waktu 25 detik.
Aturan ini pertama kali diperkenalkan pada Australia Terbuka 2019. Sejak diwacanakan, aturan ini mendapat penolakan dari sejumlah petenis, salah satunya dari Rafael Nadal.
Juara tunggal putra Prancis Terbuka 2018 ini menegaskan, para petenis bukan mesin yang segalanya bisa diatur. Servis bisa saja menjadi penentu. Maka, tak jarang para petenis membutuhkan timing yang tepat. Toh, mereka juga tidak akan memulainya dalam waktu yang kelewat lama.
Ya, begitulah beberapa hal baru di Wimbledon 2019. Semuanya dirancang demi kualitas turnamen yang lebih baik, terlebih, nama besar Wimbledon begitu masyhur. Maka, tak ada salahnya kita berharapa Wimbledon tahun ini akan melahirkan kejutan baru.
