Refleksi 10 Tahun LIMA: Ubah Paradigma, Angkat Derajat Mahasiswa Lewat Olahraga
ยทwaktu baca 5 menit

Liga Mahasiswa (LIMA) telah berdiri dan berkontribusi untuk olahraga Indonesia sejak 2012. Mereka terus konsisten memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat di level kampus atau universitas.
Founder and Commissioner LIMA, Ryan Gozali, bercerita tentang pengalamannya dalam memulai segalanya. Baginya, untuk membuat industri olahraga Indonesia semakin maju, ada tiga hal krusial yang perlu diubah: Paradigma, pengembangan bakat muda, dan manajemen.
Ryan ingin menjadi salah satu solusi dalam hal-hal tersebut dan ia memulainya dengan mendirikan LIMA. Akan tetapi, langkah awal yang dimulainya terasa begitu berat.
"LIMA mulai pada 2012, pada tahun pertama, basket menurut saya, berdasarkan survei cepat di antara universitas-universitas ketika itu, kampus yang memiliki program basket yang layak dengan beasiswa dan lain-lain cuma 4 dari ribuan kampus," kenang Ryan saat berbincang dengan kumparan saat Turnamen Basket Universitas Dunia di Tokyo, Jepang.
Empat kampus yang dimaksud adalah Ubaya, UPH, Universitas Esa Unggul, dan Perbanas. Alhasil, turnamen di tahun pertama LIMA bisa dibilang sepi peminat.
"Saya ingat di tahun pertama, kami membikin basket di GOR Citra. Seperempat doang keisi itu GOR, mau promo gimana? Tahun kedua, keisi setengah. Tahun ketiga, tiga perempat. Tahun keempat, hampir full. Tahun kelima, full," kenang Ryan.
"Tahun keenam, kami diomeli fan. Nih, saya mengutip kata ibu-ibu pada waktu itu, 'Masa sekelas LIMA pilih GOR-nya sekecil ini sih?' Hahaha...," lanjutnya.
Ya, seiring berjalannya waktu, LIMA memberi dampak atas meningkatnya kesadaran beberapa kampus di Indonesia untuk mengembangkan olahraga.
"Pada tahun kelima LIMA, kami teliti lagi, dari 4 naik menjadi 44 kampus. Memang, 44 itu beragam, ada yang full memberi banyak hal untuk mahasiswa, sampai hanya subsidi seperti diskon 50 persen uang pendidikan. Tapi intinya, ada insentif, kalau jago dalam olahraga, mahasiswa bisa mendapat sesuatu," ucapnya.
Secara perlahan, Ryan Gozali ingin LIMA berkontribusi lebih luas. Alhasil, ia menambah cabang olahraga (cabor) selain basket. Jadilah, saat ini LIMA memiliki turnamen basket, bulu tangkis, futsal, dan eSport.
Tujuannya, kami memang ingin memasyarakat olahraga dan mengolahragakan masyarakat di kampus. Jangan sampai olahraga malah menjadi beban kampus, sebaliknya harusnya itu bisa menjadi bahan promosi kampus," tutur Ryan.
"Kalau basket doang, enggak semua orang main basket. Makanya, sekarang ada bulu tangkis, futsal, dan eSport. Jadi, dengan ini, kami ingin menjangkau semua kampus dan memulai tradisi olahraga di setiap kampus."
"Kalau itu terjadi, berkesinambungan terus, apalagi sekarang ada kejuaraan dunia, harapannya kampus melihat ini sebagai kesempatan. Kalau memang ada demand atau pergerakan dari para mahasiswanya, ini akan menjadi budaya," tambahnya.
Baru-baru ini, tim basket UPH bertanding di Turnamen Basket Universitas Dunia (WUBS) 2022 yang berlangsung di Tokyo, Jepang pada 9-11 Agustus lalu. UPH Eagles adalah juara LIMA musim 2021 yang mewakili Indonesia di tingkat dunia.
Namun begitu, Ryan Gozali enggan jemawa. Baginya, LIMA bukanlah jawaban dari segala masalah yang ada di industri olahraga Indonesia. Ia hanya ingin LIMA menjadi bagian dari solusi.
LIMA ingin menjadi bagian dari solusi. Kami enggak mungkin bisa langsung seperti NCAA [National Collegiate Athletic Association] di Amerika Serikat, mungkin dalam 100 tahun kita lihatlah. Sekarang, kami hanya ingin berkontribusi ke perkembangan olahraga Indonesia," tegasnya.
Terlebih dalam hal pembinaan, Ryan menegaskan bahwa itu bukan tugas LIMA. Idealnya, pembinaan atlet usia muda dimulai sejak usia 6 tahun dan mereka sudah menguasai dasar olahraga di umur 12 tahun. Maka semestinya, lanjut Ryan, jika level mahasiswa itu sudah masuk ranah mental, bukan dasar lagi.
"Karena pembinaan itu semestinya bukan di LIMA, LIMA tuh cuma eksekusi strategi, formasi, lebih ke mental, sudah tahap segitu misalnya. Ini menjelang masuk dewasa. Kalau di Eropa, bahkan usia 18 sudah sign contract. Kalau di Indonesia, telat," kata pria yang juga menjabat sebagai Perwakilan Rakuten Sports di Indonesia ini.
Jadi, muara pembinaan itu harus dimulai sejak dini. Bahkan, jika dimulai dari sejak SMP atau SMA pun hitungannya sudah terlambat. Ryan berharap, suatu saat level kompetisi di Indonesia bisa terus meningkat.
Jadi, level kompetisinya masih segitu. Kami, LIMA, cuma mengolah apa yang kita terima dari muaranya. Indonesia butuh 'langit' [standar] baru. Saya sebal karena belum bisa menaikkan yang sekarang sampai sedemikian rupa. Balik lagi, masalah terpenting adalah pembinaan dari muaranya harus bagus," tegasnya.
Jika bicara tujuan yang lebih luas, LIMA juga sebetulnya tidak mau cuma berkontribusi menelurkan atlet yang bisa lanjut ke jenjang profesional. Ryan menjelaskan soal ini lebih lanjut.
"Dalam 10 tahun ini, saya enggak sengaja mendapat pengalaman, ketemu orang yang bilang begini, 'Wah, Pak Ryan, ya? Oh, saya dulu ikut liga futsal mahasiswa dari UNJ, sekarang saya kerja jadi fisio Barito Putera'. Ada juga yang lain bilang, 'Saya dari Unpar, sekarang kerja di media', dan lain-lain banyak banget. Saya cukup senang," ucapnya.
"Dulu sebelum pandemi, saya biasa keliling 25 kampus dalam setahun untuk jadi pembicara. Setiap akhir sesi, saya selalu tantang, 'Saya menantang kalian untuk datang kepada saya dan mengatakan bahwa suatu hari saya berharap saya bisa di industri olahraga'. Dan itu terjadi, banyak," tambahnya.
Maksud Ryan Gozali, para eks peserta LIMA juga bisa mengejar karier sebagai guru, pelatih, dan profesi lain di industri olahraga. Itu juga termasuk media dan lainnya. Dengan begitu, misi LIMA untuk memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat akan berpengaruh secara lebih luas.
"Guru-guru, pelatih, orang yang bekerja di industri olahraga, orang yang bekerja di brand dan mengerti kekuatan olahraga lalu memanfaatkannya, sehingga itu menjadi semua ekosistem," tandasnya.
