Sebagus Apa Jordan Pickford Sebenarnya?

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Jordan Pickford, salah satu pemain muda terbaik. (Foto: Reuters/Craig Brough)
zoom-in-whitePerbesar
Jordan Pickford, salah satu pemain muda terbaik. (Foto: Reuters/Craig Brough)

Sudah 32 pekan Premier League 2016/17 berjalan dan Sunderland masih belum mampu beranjak dari dasar klasemen. Jika pada dua musim sebelumnya mereka selalu berhasil membuat keajaiban dengan lolos dari zona degradasi pada detik-detik akhir, musim ini ceritanya (bakal) lain.

Sekarang, publik rupanya sudah enggan memihak kepada mereka. Pasalnya, selain sudah tertinggal 10 poin dari Hull City yang berada di strip terakhir zona aman, jika mereka masih juga membutuhkan keajaiban, artinya Sunderland memang tidak layak lagi bertahan di Premier League.

Berbagai catatan negatif pun mewarnai perjalanan mereka musim ini. Salah satu yang paling mengenaskan adalah kegagalan mereka membobol gawang lawan selama lebih dari dua bulan.

Sejak kalah 1-3 dari Stoke City 14 Februari 2017 lalu, The Black Cats belum pernah lagi mencetak gol. Padahal, penyerang andalan mereka, Jermain Defoe, sempat dipanggil Tim Nasional Inggris dan mencetak satu gol ke gawang Lithuania akhir Maret lalu.

Namun, tak semua yang berbau Sunderland pasti buruk. Dari segala catatan negatif itu, ada satu orang yang setidaknya mampu menyelamatkan muka pemilik Stadium of Light itu. Namanya Jordan Pickford, penjaga gawang 23 tahun yang pada musim ini menggantikan Vito Mannone di bawah mistar.

Meski prestasi klubnya amburadul, tidak demikian dengan performa Pickford. Kiper jebolan akademi Sunderland itu baru saja masuk daftar nominasi PFA Young Player of the Year Award. Bersama Dele Alli, Harry Kane, Romelu Lukaku, Leroy Sane, dan Michael Keane, dia termasuk sebagai salah satu pemain muda terbaik Premier League.

instagram embed

Sebelum sama-sama menyepakati bahwa capaian Pickford itu fenomenal mengingat klubnya adalah Sunderland, ada baiknya kita mencoba mengulik lebih jauh sebagus apa sebenarnya kiper satu ini.

Menurut WhoScored, kekuatan utama Pickford ada pada penyelamatan jarak dekat, konsentrasi, dan refleksnya. Kemudian, dia juga suka meninju bola dan keluar dari sarangnya untuk memotong bola.

Hal itu sangat bisa didukung dengan fakta bahwa sampai saat ini, sudah 108 penyelamatan dibuat oleh Pickford. Dia hanya kalah dari rekan setim Keane, Tom Heaton, yang mengawal gawang Burnley (122). Namun, mengingat buruknya Sunderland secara tim, dari 22 laga yang dijalaninya musim ini, hanya tiga clean sheet yang berhasil dicatatkannya. Dalam kurun waktu itu, dia kebobolan 37 kali.

Heaton yang kini menjadi deputi Joe Hart di Timnas Inggris sebenarnya juga kebobolan dengan jumlah gol yang sama. Namun, kiper jebolan akademi Manchester United itu memainkan tujuh laga lebih banyak dibanding Pickford serta mampu mencatatkan rasio penyelamatan hingga 77%.

Pickford sendiri sampai saat ini mampu menyelamatkan 73% tendangan yang mengarah ke gawangnya. Dari 147 upaya tepat sasaran yang dihadapi, 108 berhasil diselamatkannya. Rasio penyelamatan per golnya pun mencapai angka 2,91.

Untuk urusan penyelamatan ini, Pickford bahkan lebih unggul dibanding Petr Cech dan Kasper Schmeichel yang sama-sama "hanya" mampu menggagalkan 72% upaya tepat sasaran lawan. Tak heran jika nama Pickford kemudian sempat dikait-kaitkan dengan Arsenal untuk menjadi suksesor Cech.

Cech menua, menurun, dan rentan cedera. (Foto: Reuters/Andrew Boyers)
zoom-in-whitePerbesar
Cech menua, menurun, dan rentan cedera. (Foto: Reuters/Andrew Boyers)

Meski masih jauh dari status kelas dunia, setidaknya Pickford mampu menunjukkan bahwa dia punya potensi yang perlu ditempa dengan benar. Apabila Sunderland nantinya benar-benar terdegradasi, Pickford harus cepat-cepat diselamatkan.

Memang untuk menjadi penjaga gawang tim sekelas Arsenal, barangkali Pickford masih bakal kesulitan. Namun, untuk tim seperti, Everton, misalnya, kiper bertinggi 185 cm ini rasanya dan seharusnya sudah siap.

Sepeninggal Tim Howard, Everton harus bergantung pada Joel Robles dan Maarten Stekelenburg yang sama-sama tidak bisa diandalkan. Rasio penyelamatan Joel hanya mencapai angka 71%, sementara catatan Stekelenburg malah lebih parah lagi: 62,5%. Kemudian, angka penyelamatan per gol Joel (2,81) dan Stekelenburg (1,75) pun jelas masih kalah dibanding Pickford.

Tim asuhan Ronald Koeman sendiri dikenal dengan pertahanannya yang sulit ditembus. Hal itu, dipadukan dengan kesigapan Pickford di bawah mistar, tentunya bakal menjadi modal kuat bagi The Toffees untuk menatap masa depan.

Akan tetapi, ini hanyalah pengandaian. Sampai saat ini pun belum ada ketertarikan dari pihak Everton dan belum tentu pula Pickford mau pindah dari klub kesayangannya ini. Namun, tetap saja sangat disayangkan jika salah satu pemain muda terbaik di Inggris harus bermain di kompetisi level kedua, bukan?