Sejumput Pelajaran dari Kekalahan Juventus di Luigi Ferraris

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ekspresi frustrasi Higuain. (Foto: Reuters/Stringer)
zoom-in-whitePerbesar
Ekspresi frustrasi Higuain. (Foto: Reuters/Stringer)

Lima gol tercipta dalam pertarungan sengit antara Sampdoria dan Juventus di Stadio Luigi Ferraris, Minggu (19/11/2017) malam WIB. Pada laga Serie A pekan ke-13 itu, tuan rumah menang dengan skor tipis 3-2.

Sampdoria sempat unggul tiga gol lebih dulu melalui aksi Duvan Zapata, Lucas Torreira, dan Gian Marco Ferrari. Juventus kemudian memperkecil ketertinggalan lewat Gonzalo Higuain dan Paulo Dybala.

Bagi Juventus, ini adalah kekalahan kedua mereka musim ini di Serie A. Sedangkan, bagi Sampdoria, ini adalah kemenangan kedua mereka atas klub besar di kandang sendiri. Sebelumnya, mereka juga telah mengandaskan perlawanan Milan.

Dari laga ini, kami berhasil mengumpulkan lima hal menarik dan di sini, kami sajikan untuk Anda.

1) Kontrasnya Kualitas Penyelesaian Akhir

Juventus, pada laga ini, tampil betul-betul mubazir. Seharusnya, mereka tidak harus kalah di sini seandainya mereka mampu memanfaatkan peluang-peluang mereka sejak awal. Total, Juventus mampu membukukan 19 upaya mencetak gol. Namun, dari sana hanya empat yang tepat sasaran di mana dua di antaranya menjadi gol.

Sebaliknya, Sampdoria sepanjang laga hanya mampu menghasilkan lima upaya, tetapi empat di antaranya mengarah ke gawang dan tiga di antaranya menjadi gol. Bahkan, gol pertama mereka lewat Zapata pun lahir dari upaya tepat sasaran pertama.

X post embed

2) Mimpi Buruk Itu Bernama Duvan Zapata

Jika Duvan Zapata mampu mengemas satu gol dari laga ini, itu sudah sewajarnya. Pasalnya, sedari awal pun bomber asal Kolombia ini sudah senantiasa meneror pertahanan Juventus, terutama dalam duel bola-bola atas. Total, ada lima duel udara yang berhasil dimenangi penyerang 26 tahun ini dan gol yang dia lesakkan pun lahir dari keberhasilannya memenangi duel udara dengan Stephan Lichtsteiner.

Selebrasi gol Duvan Zapata. (Foto: AFP/Marco Bertorello)
zoom-in-whitePerbesar
Selebrasi gol Duvan Zapata. (Foto: AFP/Marco Bertorello)

3) Trengginasnya Lucas Torreira

Tidak salah jika Lucas Torreira kini menjadi incaran banyak klub raksasa. Sebabnya, penampilan gelandang mungil asal Uruguay ini memang betul-betul khas Uruguay yang keras tetapi taktis.

Pada pertandingan ini, dirinya mampu mencetak sebiji gol via kolaborasi dengan Gaston Ramirez. Namun, bukan itu saja kontribusi Torreira. Di lini tengah, dia berhasil menjadi fregat yang sempurna dengan catatan lima tekel dan tiga intersepnya.

Torreira merayakan gol. (Foto: AFP/Marco Bertorello)
zoom-in-whitePerbesar
Torreira merayakan gol. (Foto: AFP/Marco Bertorello)

4) Sedikit Hiburan untuk Paulo Dybala

Paulo Dybala memulai musim 2017/18 dengan catatan menawan. Enam laga Serie A dilalui, dirinya mampu mencetak sepuluh gol. Namun, keran golnya kemudian mampet setelah hanya mampu mencetak satu gol dari enam laga berikutnya.

Pada pertandingan ini, Dybala masuk di babak kedua menggantikan Federico Bernardeschi. Meski terlambat, pemain 24 tahun ini kemudian mampu mencetak satu gol lewat aksi individual menawan. Gol ini pun menjadi gol pertama Dybala sejak akhir Oktober lalu.

Dybala mencetak gol kedua Juventus. (Foto: Reuters/Stringer)
zoom-in-whitePerbesar
Dybala mencetak gol kedua Juventus. (Foto: Reuters/Stringer)

5) Pertahanan Bukan Lagi Kekuatan Juventus

Sah sudah bahwa kini, pertahanan bukan lagi kekuatan utama Juventus. Bagaimana tidak? Di ajang Serie A musim ini, dari 13 pekan yang telah dilalui, mereka hanya mampu mencatatkan lima clean sheet. Catatan kemasukan mereka pun jadi yang terburuk (14 gol) di antara empat kesebelasan teratas Serie A. Walau begitu, mereka sampai sekarang masih menjadi tim paling produktif dengan 37 golnya.

Pertahanan Juventus sangat buruk musim ini. (Foto: Reuters/Stringer)
zoom-in-whitePerbesar
Pertahanan Juventus sangat buruk musim ini. (Foto: Reuters/Stringer)