Soal Disrupsinya ke Olahraga, Virus Corona Cuma Bisa Ditandingi Perang Dunia

Dalam sejarah, belum pernah ada krisis yang bisa mendisrupsi kompetisi olahraga secara global dan masif seperti virus corona. Bahkan, wabah-wabah seperti SARS, ebola, dan zika sekalipun efeknya tidak sampai separah ini.
Berdasarkan data yang dihimpun kumparanSPORT pada Kamis (12/3/2020) siang WIB, virus corona telah menyerang 126.380 orang di lebih dari 120 negara dengan angka kematian mencapai 4.634.
Masifnya penyebaran virus penyebab COVID-19 itu membuat dunia olahraga ikut lumpuh. Dua kompetisi akbar, Liga Italia Serie A dan NBA, bahkan harus mengalami penangguhan secara total.
Sementara itu, di kompetisi lain, sejumlah pertandingan harus ditunda seperti Manchester City vs Arsenal di Premier League dan Persija vs Persebaya di Liga 1 atau digelar secara tertutup seperti Valencia vs Atalanta di Liga Champions.
Penundaan-penundaan ini tentunya bakal berpengaruh besar pada penyelenggaraan kejuaraan antarnegara di jeda antarmusim nanti seperti Euro 2020 dan Olimpiade Tokyo.
Itulah mengapa wacana dan desakan untuk menunda Euro 2020 serta Olimpiade sebenarnya terus menguat dari hari ke hari. Meski demikian, sampai saat ini belum ada keputusan final untuk membatalkan atau menunda dua ajang tersebut.
Sebenarnya, rasio kematian akibat virus corona ini tidaklah setinggi SARS atau MERS. Jika rasio kematian SARS mencapai 10 persen dan MERS 34 persen, virus corona kali ini 2-3 persen rasio kematiannya.
Akan tetapi, rasio penyebaran virus corona ini memang lebih tinggi. Berdasarkan data WHO, angka reproduktif COVID-19 ini mencapai 1,5-3,5. Sebagai perbandingan, SARS pada 2003 lalu sampai di angka 2.0.
Itulah mengapa, jumlah orang yang meninggal akibat virus corona ini jadi jauh lebih tinggi ketimbang SARS. Pada 2003 lalu, wabah SARS membunuh 774 orang di 20-an negara.
Tingginya tingkat penyebaran inilah yang membuat aktivitas-aktivitas olahraga jadi terdisrupsi. Sebab, di acara-acara olahraga itulah orang berkumpul dan dari situ risiko penyebaran jadi meningkat berkali-kali lipat.
COVID-19 sendiri saat ini sudah menjangkiti dua atlet ternama: Daniele Rugani dan Rudy Gobert. Rugani adalah pesepak bola yang bermain untuk Juventus, sementara Gobert merupakan bintang basket Utah Jazz.
Rugani adalah bukti bahwa memainkan pertandingan sepak bola tanpa penonton tidak lantas membuat para pemain jadi terhindar dari virus corona karena memang virus ini bisa datang dari mana saja.
Maka dari itu, menghentikan semua aktivitas olahraga sepenuhnya menjadi opsi yang masuk akal. Pasalnya, aktivitas olahraga, setertutup apa pun, pasti akan melibatkan banyak orang juga.
Ambil contoh pertandingan Valencia vs Atalanta dan PSG vs Dortmund di Liga Champions. Sudah ada pengumuman jelas bahwa kedua laga itu akan digelar secara tertutup tetapi kerumunan massa tetap tercipta di luar stadion.
Selain itu, pertandingan juga pasti akan melibatkan sejumlah petugas mulai dari polisi, paramedis, panitia pertandingan, sampai steward. Artinya, itu semua sia-sia jika tujuannya adalah menahan laju persebaran corona.
Apa yang terjadi saat ini memang benar-benar baru. Sebelumnya, belum pernah ada wabah yang bisa merusak kompetisi olahraga dengan skala semasif ini.
Ketika SARS merebak pada 2003 di China, hanya ada dua event yang terkena dampak yaitu Piala Dunia Wanita dan Kejuaraan Dunia Hoki Putri. Event pertama akhirnya dipindah ke Amerika, sementara event kedua dibatalkan.
Berikutnya, pada 2015, ketika virus ebola menyebar dengan cepat di Afrika Barat, turnamen Piala Afrika tetap terselenggara dengan cara memindah lokasi turnamen dari Maroko ke Guinea Khatulistiwa.
Lalu, pada Olimpiade 2016 silam sempat ada kekhawatiran akan virus zika di Brasil. Namun, event empat tahunan itu nyatanya tetap digelar tanpa masalah berarti dari aspek kesehatan.
Bahkan, ketika WHO menetapkan wabah kolera sebagai pandemi pada 1961-1973 dulu, praktis tidak ada kompetisi olahraga yang terdampak serius karenanya. Serie A sempat tertunda, memang, tetapi tidak lama.
Impak corona terhadap olahraga hanya bisa disamai oleh Perang Dunia. Pada 1916, Olimpiade yang sedianya bakal digelar di Berlin harus dibatalkan akibat Perang Dunia I.
Di era tersebut sebenarnya ada sebuah wabah mengerikan yang membunuh belasan juta manusia. Wabah bernama Flu Spanyol itu terjadi pada 1918-1920. Namun, nyatanya Olimpiade 1920 di Prancis tetap dilangsungkan.
Kemudian, pada Perang Dunia II (1939-1945), turnamen olahraga akbar seperti Piala Dunia dan Olimpiade memang harus berhenti total. Akan tetapi, di level domestik, kejuaraan-kejuaraan olahraga sebenarnya masih berjalan.
Serie A, misalnya, baru benar-benar berhenti pada musim 1944/45. Kemudian, di Indonesia, ketika Perang Dunia II masuk dalam bentuk Pendudukan Jepang, kompetisi Perserikatan masih berlangsung sampai 1943 dengan Persis Solo sebagai juaranya.
Di situasi krisis seperti ini, olahraga memang bakal terlihat sangat remeh. Akan tetapi, olahraga sebenarnya merupakan tolok ukur yang cukup akurat untuk melihat seberapa parah sebuah krisis mendera.
Dalam jumpa pers jelang menghadapi Valencia, pelatih Atalanta, Gian Piero Gasperini, menyebut bahwa pertandingan olahraga di masa krisis bisa menjadi menenangkan orang-orang yang harus berdiam di rumah.
Gasperini benar. Ketika kompetisi olahraga masih bisa digelar, dengan kondisi seterbatas apa pun, itu artinya situasi masih bisa dikontrol. Hal itu akan memberi rasa optimistis kepada khalayak.
Atas alasan inilah, pemerintah Amerika Serikat di masa Perang Dunia II tetap meminta kompetisi bisbol diselenggarakan. Bisbol dilihat sebagai national pastime yang bisa mendongkrak morel penduduk di situasi krisis.
Namun, tentunya situasi krisis akibat perang dan wabah sangat berbeda. Amerika bisa terus menggelar kompetisi bisbol ketika itu karena wilayah mereka yang terdampak perang secara langsung hanyalah Pearl Harbor di Hawaii.
Sementara, wabah seperti corona bisa benar-benar menyerang siapa pun di mana pun. Sebagai contoh, ada satu kasus COVID-19 di Korea Selatan yang menyerang pria 57 tahun tanpa histori perjalanan ke luar negeri.
Ini berarti, cara memperlakukan olahraga di dua situasi krisis itu pun semestinya berbeda. Corona adalah virus berbahaya yang bisa menyebar dengan cepat dan, untuk saat ini, dunia olahraga sudah semestinya mengalah.
Yang jadi persoalan, tentu saja, adalah uang yang terlibat di dalamnya. Kompetisi seperti Euro dan Olimpiade merupakan kompetisi bermodal besar yang juga diproyeksikan mendatangkan untung besar.
Jika sampai batal, imbas finansialnya memang tidak main-main. Namun, NBA pun termasuk kompetisi dengan pertaruhan finansial besar dan mereka tetap memutuskan untuk berhenti sementara waktu.
Langkah NBA itu layak dicontoh karena, pada akhirnya, tidak ada yang lebih penting dibanding kesehatan. Di situasi krisis seperti ini, apa yang harus diprioritaskan wajib diprioritaskan. Tidak ada pilihan lain.
