Tawa Dybala, Sesal Donnarumma

kumparanSPORTverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Paulo Dybala, permata berharga. (Foto: REUTERS/Giorgio Perottino)
zoom-in-whitePerbesar
Paulo Dybala, permata berharga. (Foto: REUTERS/Giorgio Perottino)

Drama menegangkan baru saja tersaji di J-Stadium, Turin. Pada laga Serie A Italia pekan ke-28, Sabtu (11/3) dini hari WIB, yang mempertemukan Juventus dengan Milan, Paulo Dybala menjadi pahlawan kemenangan tuan rumah dengan golnya di detik terakhir pertandingan.

Juventus unggul lebih dulu lewat aksi Medhi Benatia sebelum dibalas oleh Milan lewat sontekan Carlos Bacca. Namun, setelah pertandingan tampaknya bakal berakhir imbang, kapten Milan, Mattia De Sciglio, melakukan handsball di kotak penalti. Dybala yang menjadi eksekutor pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan memberi kemenangan bagi Juventus.

kumparan menyaksikan laga tersebut dengan saksama dan berhasil mengumpulkan lima hal penting darinya.

1) Bek Tengah Sebagai Bek Kanan

Baik Massimiliano Allegri maupun Vincenzo Montella sama-sama memasang bek tengah sebagai full-back kanan. Dari kubu Juventus, ada nama Andrea Barzagli, sementara di kubu Milan, Cristian Zapata jadi orang yang dipercaya.

Alasan Allegri sebenarnya lebih didasarkan pada ketiadaan pemain. Dengan hukuman larangan bermain bagi Juan Cuadrado, Allegri meminta Dani Alves untuk bermain sebagai gelandang sayap kanan. Barzagli pun kemudian dikorbankan untuk bermain di posisi yang hampir tak pernah dihuninya itu.

Sementara itu, Milan memasang Zapata untuk membendung Mario Mandzukic yang sedianya bakal bermain sebagai sayap kiri. Namun, Mandzukic urung bermain lantaran mengidap sakit perut.

Jika Zapata mampu menunaikan tugasnya dengan cukup baik, tidak demikian dengan Barzagli. Bek gaek itu menjadi biang keladi gol Carlos Bacca setelah sebelumnya kalah adu lari dengan Gerard Deulofeu.

2) Pressing Milan yang Aneh

Milan sendiri pada laga ini bermain dengan cara yang agak aneh. Tiga pemain depan mereka, khususnya Lucas Ocampos dan Deulofeu, hampir selalu melakukan pressing pada lini belakang Juventus. Akan tetapi, lini tengah mereka hampir tidak pernah melakukan hal tersebut dan garis pertahanan mereka pun tidak terlalu tinggi.

Pressing yang aneh ini sebenarnya mampu membuat Juventus agak kerepotan. Namun di sisi lain, Juventus pun menjadi semakin mudah menembus lini tengah Milan yang praktis tanpa proteksi.

3) Cerita Dua Gianluigi

Pada laga ini, Gianluigi Buffon memainkan laga Serie A ke-613. Raihan Buffon ini secara resmi melampaui milik Francesco Totti. Namun, Buffon sendiri tidak mendapat banyak ujian pada laga ini serta harus kemasukan satu gol.

Sebaliknya, Gianluigi Donnarumma yang berusia 20 tahun lebih muda dibanding Buffon justru dipaksa melakukan banyak sekali penyelamatan. Berulang kali upaya Juventus kandas di tangan pemuda satu ini.

Gol Dybala, sesal Donnarumma. (Foto: REUTERS/Giorgio Perottino)
zoom-in-whitePerbesar
Gol Dybala, sesal Donnarumma. (Foto: REUTERS/Giorgio Perottino)

Sayang, meski tampil lebih gemilang, Donnarumma-lah yang harus pulang dengan tangan hampa. Setelah sembilan penyelamatan, sepakan penalti Paulo Dybala pada menit ke-90+7 gagal dibendungnya.

4) Juventus Sangat Butuh Dybala

Memang benar bahwa Paulo Dybala adalah pencetak gol kemenangan Juventus. Namun, kontribusi mantan pemain Palermo ini jauh dari sekadar itu.

Dalam setiap bangun serangan Juventus, dia selalu turut serta sebagai salah satu kreator. Kemauannya untuk menjemput bola di belakang membuatnya pemain yanng sangat dinamis bagi lini depan "Si Nyonya Tua". Selain itu, kemampuan teknikalnya yang mumpuni juga membuat Dybala jadi permata tak ternilai bagi timnya.

5) Milan Perlu Mempertahankan Pemain-Pemainnya

Di skuat Milan saat ini, ada banyak pemain pinjaman seperti Mario Pasalic, Lucas Ocampos, dan Gerard Deulofeu. Penampilan mereka, dengan bantuan pemain-pemain tersebut, sebenarnya sudah cukup apik musim ini.

Maka dari itu, Milan butuh sosok-sosok yang sama untuk benar-benar membangun tim dari awal dan menjadikan para pemain itu sebagai fondasi. Jika skuat muda Milan ini bisa berkembang dengan baik, Milan rasanya bakal bisa kembali di jalur juara dalam beberapa musim lagi.