Wawancara Desak Made: Tantangan & Bully di Awal Karier, Jaga Asa Juara Olimpiade

kumparanSPORTverified-green

·waktu baca 13 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Atlet panjat tebing Indonesia Desak Made Rita Kusuma Dewi melakukan selebrasi usai menang melawan atlet China Lijuan Deng saat final speed putri Asian Games 2022 di Shaoxing Keqiao Yangshan Sport Climbing Centre, Shaoxing, China, Selasa (3/10/2023). Foto: Hafidz Mubarak A/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Atlet panjat tebing Indonesia Desak Made Rita Kusuma Dewi melakukan selebrasi usai menang melawan atlet China Lijuan Deng saat final speed putri Asian Games 2022 di Shaoxing Keqiao Yangshan Sport Climbing Centre, Shaoxing, China, Selasa (3/10/2023). Foto: Hafidz Mubarak A/Antara Foto

Desak Made Rita Kusuma Dewi kini telah menjadi salah satu atlet panjat tebing andalan Indonesia untuk kategori speed putri. Sejumlah prestasi mentereng telah ditorehkan oleh atlet asal Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, ini.

Pada 2025, Desak telah menggamit dua medali emas. Satu dari IFSC Climbing World Cup (Piala Dunia Panjat Tebing) yang diadakan di Krakow, Polandia. Yang kedua adalah medali emas The World Games yang digelar di Chengdu, China. Selain itu, ia juga menggamit perak Piala Dunia Panjat Tebing di Chamonix, Prancis.

Tarik ke belakang, Desak juga pernah meraih medali emas Asian Games 2022 dan World Championships 2023. Namun, masih ada satu medali emas yang sangat penasaran ingin bisa diraihnya: Olimpiade. Pada edisi 2024, ia gagal memenangkan satu medali pun.

Perjuangan Desak untuk sampai di titik ini juga tidak gampang. Ada tantangan yang harus kuat dihadapinya hingga menjadi seorang juara. Simak wawancara secara eksklusif atlet 24 tahun ini dalam program Nusa Juara kumparan di sini.

Atlet panjat tebing Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi, saat ditemui di pelatnas yang terletak di Bekasi, Jawa Barat, pada Agustus 2025. Foto: Katondio Bayumitra Wedya/kumparan

Tolong ceritakan bagaimana awalnya bisa tertarik ikut panjat tebing.

Jadi awalnya tuh saya cuma nemenin bibi saya ke tempat latihan. Nah, di sana ditawarin coba-coba manjat sama pelatih di sana. Sekali, dua kali coba, terus bibi berangkat latihan, saya tetap ikut. Jadi semenjak itu saya suka panjat tebing. Bibi saya memang atlet panjat tebing tingkat daerah.

Di umur berapa mulai coba?

Kurang lebih di umur 8 tahun saya pertama kali mencoba panjat tebing.

Apa yang membuat Desak tertarik untuk mencoba panjat tebing?

Kalau pertama itu karena teman-teman di sana seru. Jadi, selain manjat, kita juga bermain di tempat panjat tebing. Gitu. Terus kemudian, latihan-latihan-latihan, pertama kali mengikuti kompetisi, di tingkat kecamatan, terus dapat juara. Nah, dari situ sekolah mendukung tuh. Dapat apresiasi, setiap kenaikan kelas dapat buku, terus dapat uang saku. Nah, dari situ saya sangat semangat terus latihan panjat tebing.

Juga mungkin karena saya juga dari desa, dari kecilnya juga suka manjat-manjat. Manjat pohon mangga, pohon rambutan. Jadi ya seru kalau manjat. Terus, kalau dibilang seram, enggak juga ya. Karena kalau sudah mencapai ketinggian, pas turunnya tuh asyik, dapat ayunan. Jadi, ya seru.

Lebih seram mana panjat pohon tinggi atau panjat tebing?

Lebih menantang ini. Kalau lebih seram, kalau waktu kecil itu kan cuma manjat-manjat ya, iseng-iseng ngambil-ngambil buah. Nah, dapat ininya. Kalau sekarang ini kan kecepatan. Jadi lebih, seram menantang ini.

Mungkin basic skill dari manjat tebing justru lahir dari dulu manjat pohon gitu ya?

Bisa dibilang begitu.

Atlet panjat tebing Desak Made Rita Kusuma Dewi pada pertandingan Olimpiade Paris 2024 di Porte De La Chapella Arena, Paris, Prancis. Foto: NOC Indonesia

Kalau orang tua bagaimana soal Anda jadi atlet panjat tebing?

Kalau awal-awal memang orang tua saya, tipe yang cuek ya. Jadi, pertama kali saya berangkat ke tempat latihan sama bibi pun orang tua enggak tahu. Karena waktu itu masih main ke rumah bibi, ditawarin, "Ikut ke Taman Kota, yuk, nemenin bibi latihan," gitu. "Ya sudah, kamu main aja di sana". Pas sampai sana ditawarin manjat, manjat-manjat. Nah, sampai di rumah, ditanya, "Kamu habis dari mana?" "Ikut dari Taman Kota, ikut bibi latihan".

Nah, besokannya, pergi lagi sama bibi latihan, orang tua enggak tahu. Maksudnya, eh, panjat tebing, eh, orang tua tuh enggak tahu panjat tebing itu gimana. Cuma tahunya saya tuh latihan panjat tebing. Nah, beberapa kali pas bibi saya enggak latihan, orang tua saya yang mengantar.

Nah, di situ baru orang tua saya kayak, "Kamu enggak usah deh manjat-manjat, ini seram. Kamu kan cewek," kayak gitu. Tapi dengan, apa ya, kayak saya membuktikan kalau saya itu dengan memanjat tebing, saya bisa berprestasi. Nah, dari situ orang tua sangat mendukung.

Katanya pas latihan aja sampai harus nebeng orang lain ya?

Karena saya terlahir dari keluarga yang dibilang kurang mampu. Jadi, motor, kendaraan cuma punya satu. Dipakai bapak saya kerja. Jadi kalau latihan, waktu itu kebetulan bibi saya sudah pensiun, jadi saya enggak bisa berangkat latihan karena enggak ada yang mengantarkan, kayak gitu.

Jadi kebetulan tetangga saya juga ikut berlatih panjat tebing. Ya sudah, saya ngomong sama tetangga, saya numpang latihan panjat tebing. Kadang juga guru mengantarkan ke tempat latihan karena memang orang tua enggak bisa mengantarkan.

Memang agak jauh ya dari rumah ke tempat latihan dulu?

Lumayan. Bisa 15 sampai 20 menitan.

Lalu yang perlu diluruskan juga nih. Katanya waktu awal-awal, latihannya talinya itu bukan yang proper, tapi tali sapi gitu?

Oh, iya. Kan untuk latihan panjat tebing, selain latihan memanjat, kita juga latihan kekuatan. Nah, pelatih itu, memberikan program kalau latihan tuh di rumah juga tetap latihan. Jadi kalau latihan, pull up kayak gitu, pakai tali sapi. Karena enggak punya alat yang memadai buat latihan. Itu nya untuk pull up. Bukan untuk latihan memanjatnya. Jadi, pas di rumah. Latihan di rumah mandiri. Latihan fisik aja.

Jadi kan, kalau latihannya, ada latihan penguatan. Latihan penguatannya tuh latihan beban. Nah, untuk latihan bebannya pakai latihan itu, pakai tali-tali sapi buat ngikat bebannya buat diikat di pinggang. Jadi buat latihan pull up. Bukan buat naik.

Kalau misalkan fasilitas di tempat panjat tebingnya sudah ada pas dulu di Bali itu?

Sudah memadai.

Atlet panjat tebing Desak Made Rita Kusuma Dewi pada pertandingan Olimpiade Paris 2024 di Porte De La Chapella Arena, Paris, Prancis. Foto: NOC Indonesia

Nah, katanya Anda berprestasi juga di bidang pendidikan. Nah, itu kalau memang iya, bagaimana dulu bagi waktu latihan dan sekolah?

Saya sangat bersyukur, di tempat saya sekolah, dulu dari SD, SMP, SMA, itu sangat mendukung muridnya berprestasi di non-akademik. Jadi teman-teman juga saling support. Jadi enggak terlalu mengganggu. Kalau ada tugas kelompok, teman enggak terlalu nuntut ke saya untuk harus datang kelompok gitu. Jadi bisa mengimbangi.

Tapi tantangannya apa dari sekolah dan latihan itu yang dirasakan?

Kalau dulu sih waktu SMA itu paling beratnya karena saya sekolahnya di SMK. Karena harus latihan-latihan praktik kayak gitu, itu yang paling susah. Apalagi waktu itu sering mengikuti kompetisi nasional, provinsi, jadi jarang sekolah. Nah, pas di sekolah ada tugas praktik, saya enggak bisa karena sehari ketinggalan praktik pun susah ngejarnya.

Waktu SMK-nya jurusannya apa?

Dulu SMK-nya Teknik Komputer Jaringan. Di SMK 3 Singaraja. Habis lulus SMK, langsung kuliah jurusan olahraga. Langsung ke olahraga biar nyambung.

Di kampus mana?

Di Universitas Pendidikan Ganesha.

Apakah selama merintis karier sebagai atlet, Anda pernah merasakan cibiran atau bully?

Jadi, kalau di panjat tebing kan identik dengan memanjat dengan badan yang kurus dan ringan. Sedangkan untuk yang saya rasakan dulu, badan saya tuh lebih ke besar. Jadi orang-orang banyak yang ngomongin kayak gitu. Latihan, pas latihan, dibilang gendut, dibilang gembrot, kayak gitu.

Terus kalau giliran manjat, orang-orang kadang mau, nge-belayer saya manjat, itu takut karena saya berat. Jadi kayak gitu. Nah, sering apa ya, kalau pulang latihan di rumah tuh nangis, "Oh, di tempat latihan dibilang gini, dibilang gitu," gitu kan cerita sama orang tua. Terus bapak saya kayak menguatkan saya. "Enggak apa-apa, kamu buktiin aja sama prestasi kamu. Jangan dengerin orang-orang lain," kayak gitu.

Ya masih tetap berat sih. Karena, saya orangnya juga tipe yang pemikir jadi sedikit diomongin tuh kepikiran terus. Nah, semenjak saya masuk ke Pelatnas, pelatih tuh ngasih tahu saya, "Kamu enggak usah dengerin kata orang," gitu. "Badan kamu memang besar, tapi kamu punya tenaga yang kuat. Ditambah lagi kalau kamu bisa gunakan kaki kamu dengan lincah."

Itu yang mengubah pola pikir saya kalau, "Oh, ternyata badan saya yang besar ini saya memiliki kekuatan yang, tenaga yang kuat buat memanjat agar bisa lebih kencang."

Sekarang kan Anda sudah sukses, orang-orang yang dulu bully gitu apakah masih ada komunikasi?

Masih. Aman-aman sih sampai sekarang. Tetap berhubungan baik.

Atlet panjat tebing Indonesia Desak Made Rita Kusuma Dewi mencatatkan waktu 6,364 detik saat melawan atlet China Lijuan Deng pada final speed putri Asian Games 2022 di Shaoxing Keqiao Yangshan Sport Climbing Centre, Shaoxing, China, Selasa (3/10). Foto: Hafidz Mubarak A/Antara Foto

Riwayat cedera apa yang pernah dialami?

Ya, dibilang cedera ya, kayaknya hampir semua atlet yang berkecimpung di dunia olahraga, apalagi yang mau ke kancah internasional gitu, pasti pernah mengalami cedera lah. Kalau saya ya pernah juga. Tapi saya bersyukurnya, masih cedera yang ringan. Jadi untuk istirahat, cepat pemulihan.

Biasanya cederanya atlet panjat tebing apa?

Kalau saya lebih ke jari, terus, trisep sakit, kayak gitu. Otot-otot. Lebih ke otot lengan.

Sejak merintis jadi atlet hingga sekarang, pernah enggak merasakan tantangan kesulitan dana untuk berlatih & bertanding?

Pernah. Pastinya. Waktu itu saya mengikuti kejuaraan Pekan Olahraga Seni Pelajar tingkat provinsi Bali. Nah, saya enggak punya alat manjat yang memadai. Contoh kayak sepatu, sit harness, cuma punya chalk bag. Jadi kalau kompetisi itu harus, harus memakai yang lengkap gitu.

Jadi, saya enggak punya sepatu, sepatu pinjam. Enggak punya harness, juga harness-nya minjam. Waktu itu saya ingat banget sepatu-sepatunya sudah bolong, jadi saya lakbanin biar enggak kelihatan bolong, gitu.

Ngomong sama orang tua, minta tolong beliin sepatu panjat pun katanya, "Ya, besok diusahain ya". Besok, tapi besoknya nanya lagi, "Ya, besok lagi". Akhirnya, di kejuaraan provinsi saya dapat juara. Nah, bonus dari itu saya gunakan untuk membeli alat-alat panjat. Sepatu dan sit harness.

Beralih ke IFSC yang digelar di Bali pada Mei 2025, apa yang membuat Anda gagal dapat medali di kandang sendiri?

Mungkin waktu itu saya terlalu menekan diri saya untuk bisa juara. Jadi saya lupa akan proses memanjatnya. Malah saya fokus pada pikiran saya ingin menjadi juara. Gitu. Jadi, untuk di kualifikasi saya, apa ya, bisa dibilang saya gagal mengikuti babak di kualifikasi karena kedua, kedua pemanjatan pun saya error terus gitu. Nah, untuk di final, saya mencoba untuk, jangan mikirin apa pun, fokus sama dirimu sendiri. Nah, saya mencoba untuk itu.

Akhirnya di final, di babak 16 besar, saya mampu untuk mengalahkan pikiran saya itu. Dan untuk di delapan besar, ternyata, agak sedikit error, jadi agak sedikit kecewa sih. Ternyata, pikiran saya itu sangat mengganggu konsentrasi saya.

Waktu itu yang berkecamuk itu apa juga yang kayaknya nih jadi beban pikiran banget?

Itu, karena diri pengin, pengin banget juara. Di Indonesia menjadi tuan rumah, terus di Bali tempat kelahiran saya. Ya bayangan saya itu setiap hari adalah juara, podium. Nah, itu yang membuat saya lupa akan proses saya memanjat.

Waktu itu keluarga bagaimana?

Itu kompetisi pertama kali keluarga saya menonton saya di kompetisi panjat tebing. Di daerah pun sebelumnya enggak pernah ditonton. Dan mungkin itu juga yang membuat saya merasa nervous, deg-degan, ditonton sama keluarga.

Terus, waktu itu keluarga sih banyak yang bilang, "Enggak apa-apa, kamu sudah tampil maksimal. Besok di kompetisi selanjutnya kami yakin kamu pasti bisa."

Walaupun sempat gagal di kandang tapi ketika bermain di luar negeri, syukurnya dapat medali emas dan perak. Apa kunci bangkitnya?

Saya lebih menikmati proses saya di sana. Jadi dari yang masuk karantina, pemanasan, "Oke, sekarang hari ini saya pemanasan". Saya menikmati proses saya pemanasan.

Terus masuk ke ruang transit, ketemu apa namanya, kompetitor. "Oh, ini nanti lawan saya, orang ini menjadi kompetitor saya di wall nanti".

Oke, saya menikmati itu. Terus, tarik napas yang dalam, pakai sepatu, menikmati pakai sepatu. Jadi saya menikmati setiap-tiap, step by step saya sebelum ke depan dinding.

Dan dan waktu manjat pun lebih fokus pada diri sendiri, enggak ke lawan lagi. Dan saya berharap di kompetisi selanjutnya saya bisa terus mengulangi menikmati setiap proses sebelum pemanjatan.

Kiri-ke-kanan: Emma Hunt, Desak Made, dan Aleksandra Miroslaw di podium speed putri IFSC Climbing World Cup (Kejuaraan Dunia Panjat Tebing) Krakow 2025 di Polandia, Minggu (6/7). Foto: Instagram @ifsclimbing

Selama proses itu berinteraksi dengan rival-rival, apakah antar-atlet friendly? Apakah ada psywar?

Oh, hampir semuanya friendly banget. Jadi kita tuh sudah kayak seperti keluarga. Kalau kita ketemu langsung say hello, pelukan, ngobrol-ngobrol. Tapi kalau sudah di depan wall, nah itu baru berbeda.

Setelah berprestasi di tingkat internasional, ada enggak, perbedaan di hidup yang dirasakan oleh Anda?

Hidup? Pastinya ada ya. Saya sangat bersyukur sekali, saya bisa mewakili Indonesia di kancah internasional dan bergabung di tim nasional panjat tebing Indonesia. Berkat di sini ya kehidupan keluarga saya sekarang sudah lebih membaik.

Dan untuk saya sendiri juga banyak perubahan dari yang awalnya enggak bisa ngobrol, susah berinteraksi, dan banyak belajar lah di dunia panjat tebing ini. Dan saya memiliki banyak keluarga di panjat tebing.

Entah itu dari Kemenpora kah atau mungkin bonus dari KONI, segala macam. Nah, selama ini bagaimana, bonus-bonus yang didapat dan sebagainya?

Bonus-bonus dari, ya dari pemerintah itu luar biasa ya, banyak banget. Dan saya sangat bersyukur dan berterima kasih sekali. Ya berkat support dari pemerintah, saya bisa terus fokus berprestasi dan tidak memikirkan apa pun lagi.

Anda sudah diangkat ASN kah atau bagaimana?

Eh, belum. Kemungkinan akhir tahun ini sama Kemenpora.

Nah, kemudian kalau selama ini kalau boleh tahu ya, bonus-bonus itu dipakai untuk apa aja, Kak?

Bonusnya lebih banyak ke ditabung sih, Kak. Tabung dan investasi. Keluarga juga.

Tapi pernah enggak merasa atlet panjat tebing 'kurang dapat tunjangan' dibandingkan atlet lain yang cabornya 'lebih populer'?

Enggak sih. Saya merasa untuk support dari pemerintah ke panjat tebing sangat luar biasa. Sehingga kita ya bisa terus fokus berlatih, terus semangat berlatih untuk mengejar prestasi. Dan, saya berharap juga dari berita-berita yang sebelumnya, cabang olahraga, cabang olahraga yang lain mendapatkan perlakuan yang sama agar mereka bisa fokus berprestasi.

Mungkin bisa dibilang sudah cukup oke, tapi perlu ditingkatkan lagi kali ya?

Iya. Dipertahankan.

Kalau fasilitas di sini, di Pelatnas Hotel Santika Bekasi ini, menurut Anda bagaimana?

Sangat bagus banget. Sudah [standar internasional]. Dari wall yang sangat megah ini. Penginapan, gym, terus, nutrisi yang terpenuhi. Kalau ahli gizi sih enggak ada, cuma untuk makanan yang kita butuhkan ini sudah lengkap di sini.

Kalau kita tuh makan bebas asal yang ada di hotel. Karena yang kita hindari itu, makanan yang ciki-cikian sama minyak yang ya gorengan-gorengan di luar. Tapi kalau yang tersedia di hotel kita bebas mau makan apa aja, enggak ada larangan.

Atlet panjat tebing Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi, saat ditemui di pelatnas yang terletak di Bekasi, Jawa Barat, pada Agustus 2025. Foto: Katondio Bayumitra Wedya/kumparan

Soal Olimpiade. Bagaimana persiapan untuk 2028?

Memang Olimpiade masih jauh. Tapi kalau dihitung dari sekarang, karena peta kekuatan lawan pun hampir semuanya rata. Dan untuk di cabang olahraga panjat tebing, khususnya di kategori speed, bisa dibilang, orang yang menjadi juara itu tuh kadang enggak ketebak.

Karena, ya, banyak faktor. Jadi salah satunya ya faktor pikiran, faktor error pada saat memanjat. Jadi ya memang dari sekarang dipersiapkan sekali untuk kecepatannya, terus, kontrol pikiran juga.

Sudah ada target belum di Olimpiade?

Kemarin saya gagal dan hanya berhenti di peringkat enam. Dan mimpi saya enggak pernah berubah yaitu medali emas Olimpiade Los Angeles 2028.

Bagaimana nih cara memotivasi diri untuk enggak cepat puas dan enggak cepat menyerah?

Kalau dari saya pribadi, karena kompetisi enggak berakhir di sini. Maksudnya, satu kompetisi berakhir, tidak stop di situ. Masih ada kompetisi yang selanjutnya. Dan kita harus bisa kontrol diri. Ya, enggak terlalu euforia banget kalau kalah, eh kalau menang. Terus enggak terlalu sedih banget pada saat kalah. Ya itu, balik lagi ke mimpinya. Puncaknya adalah Olimpiade.

Apakah Anda menunda nikah demi fokus ke Olimpiade?

Bisa dibilang iya [nunda nikah]. Karena, ya itu salah satunya. Pikiran sangat mempengaruhi banget di kategori speed ini. Karena kadang kita mau latihan aja kan moody-an. Ya, apalagi kalau nanti seumpamanya punya ini [pasangan hidup], itu bisa sangat mengganggu. Jadi, saya, plan saya sih setelah emas Olimpiade Los Angeles baru menikah.

Peta persaingan sekarang siapa sih yang paling kuat?

Tiga atlet. Amerika, Polandia, Cina.

Atlet panjat tebing Indonesia Desak Made Rita Kusuma Dewi (kiri) dan Rajiah Sallsabillah menunjukkan medali nomor speed putri Asian Games 2022 di Shaoxing Keqiao Yangshan Sport Climbing Centre, Shaoxing, China, Selasa (3/10/2023). Foto: Hafidz Mubarak A/Antara Foto

Kalau bicara rival, sesama atlet Indonesia juga ada rival dong. Bagaimana kalian di sini kompak, saling mendukung, tiba-tiba harus bersaing?

Yang saya rasakan dari pertama kali masuk Pelatnas dan saya bertemu senior-senior seperti Kak Rajiah, Kak Nurul Iqamah, dan sampai sekarang pun untuk di dalam proses berlatih, kita sangat, apa ya, suportif gitu, saling dukung. Jadi, di lingkungan pelatihan kita berkeluarga, tapi nanti kalau sudah di depan wall kompetisi, itu sudah beda cerita. Ya memang ini speed ini apalagi kan kompetisi apa ya, individu gitu. Jadi kalau, ya di wall kita bertarung, tapi kalau di luar itu kita tetap keluarga.

Pernah ada kesal dan dendam gitu enggak dengan Rajiah?

Oh, enggak pernah. Kompak terus.

Apakah profesi atlet panjat tebing itu menjanjikan secara finansial, passion, dan lain-lain?

Tergantung individu masing-masing ya, Kak. Kalau memang berfokus di dunia olahraga, apalagi di panjat tebing, ya memang harus fokus banget. Sekali kecebur, ya kecebur basah, basah semua lah. Jadi, cara nabungnya juga. Jadi tergantung masing-masing individu. Kalau memang pintar untuk menabung, sangat menjanjikan.

Pernah ada rumor katanya Desak Made ditawari pindah negara atau membela negara lain, benar enggak itu?

Enggak. Enggak pernah.

Kalau misalkan tiba-tiba ada tawaran, tergiur enggak kira-kira?

Tetap Indonesia.