Bidang Kecantikan Bisa Jadi Lahan Kerja Bagi Perempuan Difabel

kumparanSTYLEverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perempuan disabilitas mengikuti Inclusive Makeup Class dari L'Oreal Indonesia (Foto: L'Oreal Indonesia)
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan disabilitas mengikuti Inclusive Makeup Class dari L'Oreal Indonesia (Foto: L'Oreal Indonesia)

Sudah saatnya perempuan disabilitas mendapatkan kesempatan yang sama dalam berkarier di bidang apapun, termasuk di bidang kecantikan. Hal ini sebenarnya sudah didukung oleh peraturan undang-undang. Pemerintah telah menerapkan UU No. 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat yang mewajibkan penyedia kerja memberikan kuota satu persen bagi masyarakat difabel sebagai bagian dari tenaga kerja mereka. Dan kemudian diperkuat dengan UU Penyandang Disabilitas yang disahkan pada tahun 2016 lalu, yang mewajibkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mempekerjakan difabel dengan jumlah setidaknya 2 persen dari jumlah pekerjanya.

Namun ternyata, jumlah pekerja disabilitas masih sangat sedikit. Hasil analisis dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menjelaskan bahwa dari survei Ketenagakerjaan Nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik tahun 2016, diperkirakan jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai angka 12.15 persen. Penyandang disabilitas perempuan sebanyak 53.37 persen dan laki-laki 46.63 persen.

Dari jumlah tersebut, hanya 51.12 persen penyandang disabilitas yang bekerja. Kebanyakan dari mereka bekerja di bidang informal, seperti menjadi petani, memiliki usaha sendiri, bekerja serabutan, hingga bekerja tanpa upah.

Melihat angka tersebut, Angkie Yudistia seorang perempuan tunarungu, kemudian berinisiatif untuk mendirikan ThisAble Enterprise pada tahun 2011, yakni wadah pengembangan diri bagi sesama difabel agar kemampuan mereka meningkat dan dapat bekerja layaknya orang lainnya.

Sejak tahun 2011, ThisAble Enterprise hingga kini telah mencatat sebanyak 1.500 penyandang disabilitas yang berada pada usia produktif dan memiliki tujuan untuk bisa bekerja. ThisAble Enterprise menyediakan pusat pembelajaran bagi mereka yang ingin mengembangkan diri.

“Sebenarnya saat ini masyarakat sudah mendukung teman-teman difabel dalam berbagai hal. Tujuan dari pusat pembelajaran dari ThisAble ini adalah untuk mempersiapkan kemampuan teman-teman ThisAble agar dapat bekerja. Semua pembelajaran yang kami lakukan telah disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan kemampuan penyandang disabilitas itu sendiri,” ungkap Angkie saat tim kumparanSTYLE temui dalam acara Perayaan Keberagaman dari L’Oreal Indonesia pada 24 Juli 2018 lalu.

Perempuan disabilitas mengikuti Inclusive Makeup Class dari L'Oreal Indonesia (Foto: L'Oreal Indonesia)
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan disabilitas mengikuti Inclusive Makeup Class dari L'Oreal Indonesia (Foto: L'Oreal Indonesia)

Pusat pembelajaran yang dimiliki oleh ThisAble Enterprise memberikan pendidikan umum yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dan dibutuhkan untuk masyarakat. Mulai dari bidang kebersihan, call center, massage, cuci mobil, hingga kecantikan. Namun untuk saat ini menurut Angkie permintaan tenaga kerja kebanyakan datang dari bidang yang cenderung dikerjakan laki-laki.

Agar para perempuan disabilitas mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkarier, Angkie banyak memusatkan perhatiannya pada bidang kecantikan yang memiliki korelasi langsung dengan perempuan. Ia menyadari bahwa dunia kecantikan masih akan terus berkembang. Berbagai macam jenis makeup, peralatan, dan tekniknya juga akan terus bertambah.

Itu artinya kemampuan perempuan disabilitas di bidang kecantikan juga harus ditambah. Karena menurut Angkie, selama ini hal yang mereka ketahui dari makeup hanyalah seputar bedak dan lipstik saja.

Oleh karena itu, ketika perempuan berusia 31 tahun itu bergabung dengan L’Oreal Indonesia dalam pembuatan video makeup tutorial pertama untuk para perempuan disabilitas, ia merasa begitu senang. Dari situ, ia kembali menyadari bahwa perempuan disabilitas juga perlu untuk mengikuti kelas makeup khusus untuk meningkatkan kemampuan mereka di dunia kecantikan. Agar mereka juga tahu bahwa bekerja tidak harus menjadi pegawai pabrik, tetapi di luar sana masih banyak sekali jenis pekerjaan yang bisa dijalani oleh perempuan disabilitas jika mereka mau belajar dan terus didukung.

Santika Purnasari mengajarkan kosa isyarat dari eyeshadow kepada Velove Vexia dan Ryan Ogilvy (Foto: Avissa Harness/ kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Santika Purnasari mengajarkan kosa isyarat dari eyeshadow kepada Velove Vexia dan Ryan Ogilvy (Foto: Avissa Harness/ kumparan)

Selain bisa membantu perempuan difabel untuk dapat berkarier di bidang kecantikan, program seperti kelas makeup tersebut bisa meningkatkan rasa percaya diri para perempuan disabilitas. Karena perempuan disabilitas selalu menyadari bahwa mereka memiliki kekurangan dan merasa berbeda dengan perempuan lain.

Bersama dengan L’Oreal Indonesia, ThisAble mengajak 50 teman-teman perempuan difabel untuk mengikuti kelas makeup inklusif bersama dengan Ryan Ogilvy, Official Makeup Artist dari Maybelline.

Mereka merasa sangat antusias ketika mengikuti kelas makeup tersebut. “Senang sekali, saya banyak belajar, sekarang jadi lebih tahu tentang makeup dan bisa tampil lebih cantik,” cerita Santika Purnasari, salah satu peserta kelas makeup inklusif dari L’Oreal.

“Program dari L’Oreal ini sangat cocok dengan misi ThisAble Enterprise untuk membantu teman-teman difabel agar lebih percaya diri. Karena perempuan difabel selalu merasa bahwa diri mereka berbeda dan suka membandingkan diri dengan perempuan lain. Melalui kerja sama ini saya ingin menunjukkan pada teman-teman bahwa bekerja tidak harus di perusahaan, tetapi bisa dimana saja termasuk di bidang kecantikan. Menjadi makeup artist misalnya,” ungkap Angkie.

Jika semua perempuan di dunia masih harus terus berjuang untuk mendapatkan kesetaraan di dunia kerja, maka perempuan disabilitas harus melakukan perjuangan tersebut dua kali lipat lebih keras. Untuk itu, mereka membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama para penyedia lapangan kerja agar lebih terbuka dalam menerima penyandang disabilitas, terutama perempuan.