Francisca Alyssa: Minder Tubuh Besar Berujung Bulimia

kumparanSTYLEverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Francisca Alyssa (Foto: Garin Gustavian Irawan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Francisca Alyssa (Foto: Garin Gustavian Irawan/kumparan)

Memiliki tubuh tinggi besar— atau bongsor sedari kecil, membuat Francisca Alyssa (26) ‘kenyang’ mendapatkan cemoohan dan bully-an tentang bentuk tubuh yang dimilikinya.

Alyssa, begitu ia disapa, selalu membendung cemoohan tersebut di dalam hati, yang secara tak disadari, sempat mempengaruhi sisi psikologi dirinya yang saat itu masih berusia belia.

Alyssa menjadi salah satu dari delapan perempuan yang kumparanSTYLE undang dalam pembahasan seputar body diversity atau keragaman bentuk tubuh.

Kepada kumparanSTYLE, ia bercerita tentang pengalamannya menghadapi cemoohan, kesulitannya dalam menerima diri sendiri, hingga pandangan pribadinya terhadap isu yang terkadang masih disepelekan, khususnya oleh masyarakat Indonesia sendiri.

“Cemoohan tersebut pernah membuat saya menjadi seorang anak yang mudah stress dan grogi. Semua itu saya take in ke dalam diri saya,” papar Francisca Alyssa saat berkunjung ke kantor kumparan, beberapa waktu lalu.

Begitu banyak paradigma dan standar kecantikan yang didesain oleh lingkungan sosial, yang seringkali ‘menjauh’ dari apa yang Alyssa miliki pada tubuhnya sendiri.

Francisca Alyssa (Foto: Garin Gustavian Irawan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Francisca Alyssa (Foto: Garin Gustavian Irawan/kumparan)

Dalam ceritanya, Alyssa terlahir sedikit berbeda dari bayi pada umumnya, yaitu memiliki bobot tubuh yang lebih besar. Pertumbuhannya pun terbilang sangat cepat. Di usia dua minggu, Alyssa sudah bisa bergerak tengkurap sendiri, dan di usia satu tahun ia sudah fasih berbicara, juga pandai berlari. “Saya lahir seperti jumbo baby, dan masa pertumbuhan yang sangat cepat,” kenangnya.

Pertumbuhannya yang cepat tersebut, terus berangsur hingga ia memasuki masa sekolah dasar. Alyssa selalu menjadi yang tertinggi dan besar di lingkungan pertemanannya.

“Karena badan saya gede banget, teman-teman tingginya hanya setengah saya. Payudara pun tumbuh duluan dibanding (teman-teman) yang lain,” tambahnya.

Alyssa yang gemar berolahraga pun sering merasa minder, terutama saat di pelajaran olahraga. Alasannya, ia sering mendapat olok-olok dari teman sebayanya. Meski begitu, di hadapan teman-temannya, Alyssa selalu memperlihatkan sisi yang menerima apa adanya terhadap segala ejekan tersebut.

Semua cemoohan itu ia tampung di dalam hati, yang secara tak disadari, membuat Alyssa yang masih duduk di bangku sekolah dasar merasa stres dan minder.

“Saya suka olahraga, dulu SD saya ikut basket. Dan selalu dipanggil Busway karena menurut mereka saya nyeruduk-nyeruduk kalau main. Jadi ya, saya si busway,” ceritanya.

Saking stres dan minder, setiap Alyssa akan tampil di sebuah pertandingan olahraga, ia selalu muntah-muntah dan gelisah. Bukan karena ia merasa deg-degan atas pertandingan yang akan dihadapinya, namun karena ia merasa takut akan mendapatkan ejekan tentang bentuk tubuhnya.

“Si bongsor! si bongsor! Itu yang selalu ada di pikiran saya. Saya merasa kalau ada di center of attention, mereka hanya akan fokus kepada fisik saya,” tambahnya.

embed from external kumparan

Ketagihan Fat Burner

Saat menginjak masa SMA kelas 2, bobot tubuhnya sudah mencapai 90 kilogram. Hal itu sempat membawa kekhawatiran kepada sang ibu, yang akhirnya membantu Alyssa menemui Dokter Ahli Gizi.

Untuk mencegah badannya bertambah besar, dokter menyarankan agar Alyssa mengkonsumsi makanan sehat yang teratur, dengan dibantu oleh fat burner, sebuah obat resep yang bisa membantu proses pembakaran lemak. Fat burner tersebut harus dimakan sesuai dengan jadwal yang dokter berikan, juga asupan makan yang cukup.

Tapi, karena benar-benar ingin mendapatkan tubuh yang kurus secara kilat, Alyssa mulai ‘melenceng’ dari saran dokter. Ia mengkonsumsi fat burner, namun tak dibarengi dengan pola makan yang sehat. Alyssa mengurangi porsi makan dan menggantinya dengan tiga buah apel dalam sehari. Ia juga membarengi rutinitas makan tak lazim tersebut dengan olahraga yang berlebihan.

“Saya sampai di titik di mana saya ketagihan oleh fat burner itu. Saya suka sensasi deg-degan yang dihasilkan dari fat burner. Sampai akhirnya, saya nakal dan membeli fat burner sendiri di luar aturan dokter,” jelas Alyssa.

Tidak sampai di situ, Alyssa mulai menunjukkan gejala bulimia. Setiap makan, ia akan langsung memuntahkan makanannya. Ia juga jadi gelisah setiap ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.

“Ini saya lakukan karena berawal dari minder itu. Namanya juga anak SMA kan, saya juga udah mulai suka dengan lawan jenis, jadi ya minder karena menurut mereka, saya bukan perempuan, tapi ‘bro’,” imbuh perempuan asal Bandung ini.

Hingga dalam masa enam bulan, Alyssa mampu mendapatkan berat badan menjadi 58 kilogram, dengan melalui proses makan yang tidak sehat, yaitu tiga apel dalam sehari, fat burner, olahraga berlebihan, dan memuntahkan makanan.

“Saya hanya ingin air saja yang ada di tubuh saya,” tambah Alyssa.

Dampaknya?

Alyssa sempat didiagnosa oleh dokter memiliki kista di rahimnya dengan berukuran lumayan besar. Dalam pemaparan Alyssa, hal itu diakibatkan oleh pola makannya yang sangat tidak sehat, terutama dibarengi oleh berbagai obat pelangsing peluntur lemak.

Francisca Alyssa (Foto: Garin Gustavian Irawan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Francisca Alyssa (Foto: Garin Gustavian Irawan/kumparan)

Mulai Memahami Body Diversity

Memasuki kuliah, Alyssa terkadang masih ‘nakal’ dengan menggunakan fat burner. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai memahami bentuk tubuh dan keberagaman tubuh yang dimiliki perempuan. Terutama, saat ia melanjutkan studi di luar negeri, yang memiliki pemikiran jauh lebih terbuka.

“Saya melihat, banyak yang lebih besar dari saya, tapi mereka sangat percaya diri. Mereka berbicara di depan umum, pertemanan mereka banyak. Saya sadar, fisik bukan menjadi takaran,” ungkap perempuan berusia 26 tahun ini.

Di masa perkuliahan tersebut, Alyssa melihat banyak perempuan yang ‘jauh’ dari standar kecantikan yang dibentuk oleh masyarakat, namun berhasil dihargai layaknya perempuan pada umumnya dari pemikiran, prestasi, dan kepribadian. Semua ini menjadi sebuah eye-opening bagi Alyssa yang menghabiskan masa tumbuhnya sempat menjadi perempuan yang sering minder.

“Saya berpikir, oh, ini bukan soal bentuk tubuh, tapi mindset. Society yang membuat kita jadi minder dan tidak mencintai tubuh sendiri,”

Menurutnya, sampai kapan pun, bentuk tubuh itu seperti harta, tidak akan ada puas dan habisnya. Akan selalu ada yang dirasa kurang. Sehingga, memang sudah saatnya setiap perempuan mengapresiasi apa yang diberikan.

Kini, Alyssa berprofesi sebagai arsitek muda yang sudah memiliki banyak proyek di beberapa wilayah Indonesia. Memang, meski menurutnya ia masih terbilang ‘bongsor’, namun, Alyssa jauh lebih merasa bahagia.

“Dari segi kualitas diri, tentu saya lebih percaya diri. Sekarang, yang penting saya sehat, makan teratur, olahraga sewajarnya, dan fokus pada cita-cita,” tutupnya.