kumparan
25 April 2019 19:30

Kisah Perempuan dalam Melawan Stigma dan Stereotip di Masyarakat

Diskusi, Prempuan Melawan
Diskusi Perempuan Melawan. Foto: Ratmia Dewi/kumparan
Seiring berjalannya waktu isu mengenai ketimpangan gender dan peran perempuan di sektor publik menjadi isu yang kian akrab diperbincangkan dalam berbagai kesempatan.
ADVERTISEMENT
Dalam diskusi-diskusi tersebut, berbagai pertanyaan pun muncul. Misalnya mengenai benarkah perempuan adalah kelompok yang rentan? Apakah yang sesungguhnya diperjuangkan oleh perempuan? Bukankah perempuan sudah banyak menduduki posisi strategis di bidang pemerintahan dan korporasi? Apa lagi yang dituntut oleh perempuan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini terus menerus dihadirkan di berbagai kesempatan, seolah perempuan dianggap terlalu banyak menuntut dan berujung pada emansipasi yang dianggap kebablasan. Namun, pada kenyataannya perempuan di Indonesia hingga saat ini masih saja mengalami berbagai stigmasisasi, diskriminasi, persekusi dan berbagai tindakan kekerasan lainnya.
Begitu kira-kira poin yang dipaparkan dalam diskusi Ruang Kolaborasi bertema "Perempuan Melawan ____" yang diadakan oleh Opini.id dan dipandu oleh komika Sakdiyah Ma'ruf di Galeri Salihara, Rabu (24/4) lalu.
ADVERTISEMENT
Forum yang dibagi dalam tiga sesi ini menghadirkan lima perempuan sebagai pembicara, mereka adalah dr. Sophia Benedicta Hage salah satu pendiri Yayasan Lentera Sintas Indonesia, Katyana Wardana (pendiri inisiatif 'Sudah Dong'), Farwiza Farhan (chairwoman Yayasan HAKA), Eva Chairunisa (Vice President Corporate Communication PT KAI DAOP) dan Wa Ode (driver ojek online).
Melalui caranya masing-masing, para perempuan ini melawan berbagai stigma di masyarakat dan melakukan perbaikan dari sudut pandang perempuan. Isu yang diangkat pun beragam, mulai dari isu bullying, upaya melawan stereotip melalui prestasi perempuan dalam ranah profesional hingga isu kekerasan seksual.
Sebagai contoh, Dr.Sophia Benedicta Hage melalui Yayasan Lentera Sintas Indonesia sejak tahun 2011, aktif memberi bantuan psikologis pada penyintas kekerasan seksual dan aktif memberikan edukasi kepada masyarakat dan komunitas agar peduli terhadap isu ini.
Diskusi, Prempuan Melawan
dr. Sophia Benedicta Hage, salah satu pendiri Yayasan Lentera Sintas Indonesia. Foto: Ratmia Dewi/kumparan
"Menurut catatan tahunan yang diterbitkan Komnas Perempuan pada tahun 2015, setidaknya tiap dua jam sekali ada perempuan di Indonesia yang mengalami kekerasan seksual. Namun jika ditelisik penyebabnya, tidak ada satu sebab tunggal yang menyebabkan tindakan yang masih marak di masyarakat kita," ujar dr. Sophia.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, kondisi tersebut semakin nyata terjadi dengan perempuan Indonesia yang tumbuh di lingkungan yang sangat patriarkal. "Jadi perempuan dijadikan sebagai objek, sesimple saat melontarkan lelucon seksis yang megobjektifikasi kita sebagai perempuan. Saat hal tersebut dinormalkan dan dianggap sebagai lelucon semata, ini dapat berlanjut menjadi kekerasan seksual nantinya," ungkap dr. Sophia.
Kemudian ada sosok Katyana Wardana yang menginisiasi gerakan Sudah Dong sejak 2014 untuk melawan bullying. Inisiatif ini muncul saat usianya masih berusia 17 tahun. Katyana mengamati banyaknya kasus bullying disekitarnya yang Padang berakhir dengan perpoloncoan yang membuat nyawa melayang.
"Saat itu saya merasa tergugah karena banya sekali anak SD yang jadi sasaran bullying dan biasanya tindak bullying itu terjadi di sekolah," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya ada sosok Farwiza Farhan yang mendobrak stigma di dunia lingkungan hidup. Ia bekerja sebagai chairwoman Yayasan HAKA (Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh) yang bergerak dalam bidang konservasi ekosistme Leuseur di Aceh.
"Orang-orang yang bergerak di isu lingkungan sering diidentikkan dengan maskulinitas. Padahal bidang ini tidak butuh gender tertentu, perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama dengan expertise yang berbeda-beda. Setengah penduduk bumi ini adalah perempuan, kalau perempuan tidak dilibatkan dalam bidang lingkungan bagaimana suara perempuan dapat didengar," ujar Farwiza.
Serupa dengan Farwiza, sosok Eva Chairunisa juga menjadi bukti bentuk 'perlawanan' perempuan dalam mendobrak stigma atas perempuan. Perempuan yang akrap disapa Eva ini berhasil menduduki jabatan sebagai Vice President Corporate Communication PT KAI DAOP dan menjadi perempuan pertama yang menjadi VP di divisi ini.
Diskusi, Prempuan Melawan
Eva Chairunisa (Vice President Corporate Communication PT KAI DAOP). Foto: Ratmia Dewi/kumparan
Berada di posisi strategis, tentu merupakan pencapaian terbesar bagi karier Eva. Baginya baik perempuan maupun laki-laki memiliki kesempatan yang sama dalam berkarier. Namun stigma dan stereotip terhadap perempuan sendiri-lah yang membuat anggapan bahwa jika seorang perempuan ingin menduduki posisi strategis di suatu perusahaan, ia harus berusaha jauh lebih keras dibanding laki-laki.
ADVERTISEMENT
Begitupun Wa Ode, seorang driver ojek online yang berita tentang dirinya sempat viral beberapa waktu lalu. Ia dikenal publik karena membawa serta dua buah hatinya saat menjalankan tugasnya sebagai pengemudi ojek online pengantar barang. Demi kedua anaknya, Wa Ode melawan stigma sebagai ibu tunggal yang terus berjuang menafkahi anak-anaknya dengan jerih payahnya sendiri.
Semua stigma yang melanda para perempuan tersebut mengerucut pada satu penyebab, yakni pola pikir patriarki yang begitu melekat pada masyarakat kita. "Sayangnya konsep patriarki telah bersemayam di alam bawah sadar masyarakat kita yang terbentuk oleh budaya dan lingkungan," jelas dr.Sophia.
"Oleh karena itu untuk menggerusnya perlu dilakukan sebuah kontra narasi. Hal ini dapat dimulai dengan mengajak mereka untuk berdialog dan memposisikan diri kita untuk tidak menghakimi serta menggurui. Sehingga obrolan-obrolan seputar pertanyaan dari mana pola pikir patriarkal yang ia lontarkan terlihat jelas apa landasannya dan membuat adanya diskusi-diskusi lainnya untuk dikit demi sedikit mengikis konsep pemikiran ini," papar dr. Sophia
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan