kumparan
27 Maret 2019 13:47

Power Woman: Sepak Terjang Perdana Menteri Inggris Theresa May

Theresa May
Theresa May. Foto: REUTERS/Peter Nicholls
Pada tanggal 12 April nanti Inggris Raya akan memisahkan diri (Brexit) dari Uni Eropa. Setelah 46 tahun menjadi anggota Uni Eropa, melalui referendum yang berlangsung pada Kamis (23/6/2016), terhimpun suara rakyat Inggris yang memilih Brexit dengan persentase sebanyak 52 persen, sedangkan 48 persen lainnya memilih tetap menjadi bagian dari Uni Eropa.
ADVERTISEMENT
Peristiwa Brexit tentu menjadi hal yang cukup menggemparkan dunia. Terhitung setelah tiga tahun pasca referendum pada tahun 2016, masih banyak kalangan yang menentang keputusan Inggris untuk benar-benar keluar dari kesatuan Uni Eropa.
Salah satunya datang dari Perdana Menteri Inggris, Theresa May, yang mulai menjabat sejak 13 Juli 2016. May menekankan bahwa Inggris harus tetap menjalin hubungan ekonomi dengan Uni Eropa. Melansir Reuters, banyak yang khawatir jika Inggris otomatis keluar dari keanggotan Uni Eropa, akan terjadi kekacauan misalnya warga Inggris yang tinggal dan bekerja di negara Uni Eropa secara mendadak tidak berhak lagi mendapat izin tinggal dan bekerja, demikian juga sebaliknya berlaku bagi warga Uni Eropa yang tinggal dan bekerja di Inggris.
Theresa May
Theresa May. Foto: REUTERS/Peter Nicholls
May yang memiliki latar belakang sebagai financial consultant bersama suara minoritas yang kontra Brexit pun menghimpun suara untuk mengajukan proposal Brexit sehingga di saat Inggris keluar dari Uni Eropa, ada tata tertib beserta kesepakatan yang tidak akan merugikan Inggris.
ADVERTISEMENT
Theresa May memang menjadi sosok penting dalam isu Brexit ini. Kariernya sejak menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris pada 2016 lalu berfokus pada isu penting ini.
Seperti apakah sosok pemimpin perempuan kedua di negara Inggris ini?
Awal Karier dan Perjalanan Politik
Theresa May lahir pada 1 Oktober 1956 di Sussex, ia adalah anak dari seorang pendeta dan ibunya bekerja di rumah.
Memasuki bangku kuliah, perempuan yang memang memiliki keinginan menjadi perdana menteri dari dulu ini mengambil jurusan geografi di Universitas Oxford. Uniknya, walaupun mendapat gelar di bidang Geografi dan berhasil menduduki posisi Perdana Menteri, Theresa May tak mengawali karier di bidang Geografi maupun politik.
Di awal kariernya, ia bekerja di Bank Sentral Inggris, BoE (Bank of England) selama 6 tahun (1997 - 1983) dan dilanjutkan sebagai financial consultant di beberapa perusahaan setelahnya.
Perdana Menteri Theresa May
Theresa May Foto: Reuters/Kevin Coombs
Karier politiknya dimulai saat May tergabung dengan asosiasi Partai Konservatif pada 1986 hingga 1994.
ADVERTISEMENT
Perempuan yang dikenal bersahabat dengan Benazir Bhutto ini pun mulai masuk ke dalam parlemen saat ia terpilih sebagai anggota parlemen mewakili wilayah Maidenhead di pemilihan umum Mei 1997. Sejak berhasil masuk parlemen, May pun mulai menduduki berbagai posisi di pemerintahan. Diantaranya May sempat memegang beberapa jabatan di Kabinet Oposisi pimpinan William Hague, Iain Duncan Smith, Michael Howard, dan David Cameron, termasuk Ketua Oposisi House of Commons dan Menteri Oposisi Bidang Pekerjaan dan Pensiun.
Perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua Partai Konservatif Inggris
Memulai karier dalam bidang politik sejak tahun 1997, perjalanan karier politik May dapat dikatakan cukup mulus. Dalam jangka waktu lima tahun saja, ia berhasil menjadi perempuan pertama di Inggris yang menduduki jabatan sebagai ketua Partai Konservatif pada tahun 2002 sampai 2003.
ADVERTISEMENT
Setelah itu kariernya semakin bersinar. Dimulai pada pembentukan pemerintahan koalisi pasca-pemilu 2010, May ditunjuk sebagai Menteri Dalam Negeri dan menjabat Menteri Perempuan dan Kesetaraan. Namun sayang kemudian ia mundur dari jabatan ini pada tahun 2012. Setelah Partai Konservatif kembali menang pemilu tahun 2015, May kembali menjadi Menteri Dalam Negeri dengan masa jabatan terpanjang dalam kurun 60 tahun sejak politisi partai buruh James Chuter Ede.
Perdana Menteri Theresa May
Theresa May Foto: Reuters/Kevin Coombs
Tercatat selama May menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, angka kejahatan di Inggris menurun. Adanya rencana teror pun berhasil digagalkan pada 2013, dan ia mendeportasi ulama radikal Abu Qatada. Selain itu, May juga membenahi kepolisian.
Namun May juga sempat dikritik ketika terjadi keterlambatan penerbitan paspor dan dianggap gagal memenuhi target masuknya pendatang di bawah 100.000 orang per tahun.
ADVERTISEMENT
Memasuki tahun 2016, kursi pemimpin partai kosong menyusul keputusan Perdana Menteri David Cameron untuk mundur setelah adanya referendum Uni Eropa yang menunjukkan pemilih ingin Inggris keluar dari organisasi tersebut. Sebagai politikus perempuan paling senior di Partai Konservatif Inggris, Theresa May pun menjadi kandidat kuat untuk menggantikan PM David Cameron.
Perempuan bertangan dingin dengan pernyataan sikap yang kontroversial
Meskipun Theresa May berhasil memenangkan pemilu pada 2016, uniknya kemenangannya tersebut tidak terlalu menimbulkan efek selebrasi aktivis feminis.
Di awal kemunculannya, May memang sempat menimbulkan kesan mendukung kesetaraan, salah satunya melalui dukungannya terhadap legalisasi pernikahan sesama jenis dan menentang rasisme. Tapi ia juga menentang UU 28 yang melarang sekolah mempromosikan nilai-nilai homoseksualitas, serta menguatkan implementasi hukum terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga. Di waktu yang bersamaan ia justru menunjukkan sikap ketidakpedulian terhadap pengadaan fasilitas pengobatan bagi migran perempuan serta menolak mengakhiri masa penahanan bagi narapidana yang sedang hamil di Pusat Penahanan Imigrasi Yarl’s Wood.
ADVERTISEMENT
Sebagai sosok yang pernah menjabat sebagai Menteri untuk Perempuan dan Kesetaraan, May dikritik oleh Partai Buruh karena mengabaikan upaya terkait pengurangan kesenjangan kelas dengan membuat kebijakan penghematan fiskal yang berdampak pada perempuan.
Sosok yang tertutup namun memiliki statement dalam fashion
Tak banyak hal yang begitu diketahui dari sosok politikus yang hobi memasak ini. Theresa May dikenal sebagai figur yang serius dan cukup tertutup, ia memang sangat menjaga privasinya dari mata publik.
Bahkan Robin Oakley dari CNN mengungkapkan, reputasi May sebagai seorang "workaholic" yang selalu serius membuatnya menjadi tokoh yang paling mirip dengan Margaret Thatcher dalam perpolitikan Inggris masa kini.
Selain workaholic, sosok May juga dikenal sebagai seorang aktivis yang sempat peduli akan isu kesetaraan sehingga tak mengherankan jika ia menjalin hubungan baik dengan sosok Benazir Bhutto.
ADVERTISEMENT
Melansir BBC, hubungan baiknya dengan Perdana Menteri Pakistan ini disebabkan karena Benazir menjadi mak comblang hubungan asmaranya dengan Philip May, yang kini menjadi suaminya.
Diketahui keduanya dipertemukan saat menghadiri satu pesta. Philip sendiri merupakan presiden organisasi mahasiswa di Oxford yang sering disebut sebagai ladang persemaian para pemimpin masa depan Inggris.
Terlepas dari sosok Theresa May di dunia perpolitikan, tentu sudah bukan rahasia umum lagi jika ia adalah salah satu pemimpin perempuan yang 'melek' fashion. Salah satu item fashion yang mendapat sorotan adalah sepatu bermotif leopard print yang pernah ia kenakan. Bahkan Theresa May tak segan mengenakan busana lansiran desainer dunia, salah satunya suits rancangan Vivienne Westwood saat masa-masa kampanyenya.
ADVERTISEMENT
Simak cerita perempuan inspiratif lainnya hanya di topik sheinspiresme.