ATSI: Target Pemerataan Internet 100 Mbps Masih Hadapi Tantangan di Luar Jawa
·waktu baca 2 menit

Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) menilai target pemerataan internet cepat 100 Mbps di Indonesia masih menghadapi tantangan. Ketua Umum ATSI sekaligus Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan bahwa tantangan terbesar ada pada pemerataan infrastruktur di luar Pulau Jawa.
Untuk mencapai kecepatan internet 100 Mbps diperlukan jaringan kabel serat optik (fiber optic) yang mumpuni, tidak hanya backbone tetapi juga akses. Sedangkan pembangunan infrastruktur telekomunikasi di luar Jawa masih lebih mahal karena infrastruktur dasar seperti listrik dan transportasi belum merata.
Dian menambahkan, operator juga harus mempertimbangkan struktur biaya dan daya beli masyarakat. Selain itu, jika layanan internet 100 Mbps disalurkan melalui seluler, maka dibutuhkan dukungan perangkat 5G.
"Kalau ini (internet 100 Mbps) disalurkan melalui fiber optic, bagaimana operator ini mendapatkan infrastruktur yang lebih baik. Kedua, kalau akan diberikan layanan ini melalui selular tentu memerlukan perangkat 5G, karena memberikan layanan 100 Mbps dengan spektrum yang ada sekarang di 4G itu masih belum cukup."
Sementara itu, Direktur Eksekutif ATSI, Marwan O. Baasir, menekankan pentingnya klasifikasi dalam pengukuran kecepatan internet. Menurutnya, speed test sebaiknya dipisahkan antara pengguna broadband pemula, mobile broadband, dan fixed broadband.
Kalau digabung menjadi satu angka rata-rata, seolah-olah kecepatan internet rendah. Padahal, di banyak kota besar, kecepatan internet sudah sangat tinggi.
"Usulan ATSI, pengukuran parameter pada speed test atau kecepatan hendaknya diklasifikasi, tidak digabung atau di-average menjadi satu, sehingga speed kita kelihatan jelas,” ujar Marwan di sela acara Rapat Umum Anggota ATSI 2025 di Jakarta, Senin (29/9).
ATSI menegaskan dukungannya terhadap upaya pemerataan layanan internet berkecepatan tinggi di Indonesia. Meski begitu, asosiasi meminta agar kebijakan dan pengukuran kualitas layanan dilakukan secara komprehensif agar lebih mencerminkan kondisi di lapangan.
