kumparan
17 November 2019 14:48

Cara Orang Mesir Kuno Dapatkan Jutaan Burung Ibis untuk Tumbal

Makam Kuno Mesir
Makam Kuno Mesir. Foto: AP
Katakomba kuno, sebuah situs bersejarah di Mesir menyimpan jutaan mumi burung dari spesies Threskiornis aethiopicus, atau lebih dikenal sebagai burung keramat ibis Afrika. Kini, para peneliti mendapat titik terang, ihwal bagaimana orang Mesir kuno bisa memperoleh ibis dengan jumlah yang sangat banyak.
ADVERTISEMENT
Dahulu, sekitar tahun 665 Sebelum Masehi (SM) hingga 250 Masehi (M), orang-orang Mesir kuno kerap melakukan ritual dengan cara mengorbankan dan membuat mumi burung ibis untuk menghormati Dewa Toth, yakni dewa keadilan, kebijaksanaan, sihir, dan bulan, yang sering digambarkan sebagai seorang lelaki dengan kepala ibis.
Sebagian kecil ibis hidup di kuil-kuil dan disembah sebagai penjelmaan Toth. Mereka yang dikorbankan kemudian ditemukan oleh peneliti bertumpuk di langit-langit sepanjang Katakombe. Namun, selama bertahun-tahun pula para peneliti kebingungan tentang bagaimana orang Mesir bisa mengumpulkan burung ibis dengan jumlah yang sangat besar.
Beberapa teks sejarah menjelaskan, kemungkinan burung ibis telah diternakkan dalam skala yang cukup besar oleh orang-orang Mesir kuno. Mereka menempatkannya di fasilitas khusus, bisa di luar atau di dalam kompleks kuil.
Burung Ibis
Burung Ibis jenis scarlet Foto: Pixabay
Bahkan, dalam sepucuk tulisan dari pastor sekaligus penulis, Hor of Sebennytos, yang hidup pada abad kedua SM (Sebelum Masehi), menjelaskan bahwa secara teratur ia memberi makan ribuan ibis suci dengan semanggi dan roti.
ADVERTISEMENT
Diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE, guna mengetahui bagaimana orang Mesir mendapatkan ribuan burung ibis untuk pengorbanan dan mumifikasi, sebuah tim dari Griffith University Australia yang dipimpin Sally Wasef menganalisis genom, atau kumpulan gen lengkap yang ada dalam sel atau organisme, dari 14 mumi burung ibis suci yang pernah hidup sekitar 2.500 tahun lalu.
Mereka juga melakukan hal yang sama pada 26 spesimen modern yang ditemukan di alam liar di Afrika dan lantas membandingkan data keduanya.
Menurut peneliti, jika orang Mesir memelihara ibis dalam jangka panjang, maka keragaman genetik pada burung mumi kuno akan sangat rendah karena perkawinan sedarah. Namun, hal itu justru tidak terjadi, mereka justru menemukan fakta bahwa burung ibis yang dimumikan memiliki keragaman genetik yang sama banyaknya dengan ibis liar modern.
ADVERTISEMENT
Menurut tim, ini artinya orang Mesir kuno mendapatkan ribuan burung ibis bukan dengan cara berternak, melainkan dengan cara menjinakkan ibis dari alam liar. Peneliti menduga, para imam kuil telah menjinakkan burung-burung itu di alam liar, atau mungkin memeliharanya dalam waktu-waktu tertentu hanya untuk memenuhi permintaan ritual tahunan.
“Anehnya dan terlepas dari jutaan mumi yang ditemukan, tidak ada tanda-tanda perkawinan sedarah jangka panjang yang ditemukan dalam DNA ibis suci,” ujar Sally Wasef, penulis utama studi dari Griffith University di Australia, kepada Newsweek. “Kemungkinan besar, para imam menjinakkan burung-burung ibis liar dengan memancingnya menggunakan makanan di habitat alami mereka, seperti danau atau lahan basah yang menutupi kuil.”
Makam Kuno Mesir
Makam Kuno Mesir. Foto: AP
"Studi ini menyoroti ritual yang dilakukan orang Mesir kuno selama bertahun-tahun, dan bagaimana para imam memperoleh jutaan burung ibis yang sakral untuk dikorbankan setiap tahunnya," sambungnya.
ADVERTISEMENT
Ibis suci bukan satu-satunya hewan yang dimumikan oleh orang Mesir. Para peneliti juga menemukan berbagai macam hewan lain yang juga dimumikan, kendati ibis adalah hewan yang paling banyak ditemukan.
"Daftarnya sangat panjang, kamu dapat menyebut sebagian besar hewan dan burung yang dikenal orang Mesir kuno sebagai mumi," kata Wasef. "Beberapa di antaranya adalah hewan peliharaan, yang juga dianggap sebagai dewa, seperti kucing, anjing, elang, monyet, ular, buaya, sapi, dan masih banyak lagi."
Adapun jumlah mumi ibis suci terbesar dapat ditemukan di 'kota mati' Tuna el-Gebel di Mesir Tengah, yang menampung sekitar empat juta mumi burung ibis.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan