Kumparan Logo

Facebook dan Instagram Gugat Perusahaan yang Jual Akun Palsu

kumparanTECHverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perusahaan media sosial Facebook. Foto: Yves Herman/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Perusahaan media sosial Facebook. Foto: Yves Herman/Reuters

Facebook dan anak perusahaannya, Instagram, menggugat empat perusahaan dan tiga orang di China. Perusahaan dan orang-orang itu dituduh telah membuat dan mempromosikan penjualan akun palsu, like, serta follower di platform mereka.

Gugatan itu telah diajukan ke pengadilan federal AS, di mana perusahaan dan orang-orang itu telah melanggar hukum kekayaan intelektual AS dengan secara ilegal menggunakan merek Facebook serta Instagram dalam melancarkan aksinya.

"Dengan mengajukan gugatan hukum, kami berharap dapat memperkuat jika aktivitas penipuan ini tidak ditoleransi dan kami akan bersikap keras untuk melindungi integritas platform kami," ujar Paul Grewal, VP dan Deputy General Counsel of Litigation Facebook, dilansir CNET.

Dalam pengumuman di blog resminya, Facebook tidak menyebutkan nama-nama perusahaan dan individu yang digugat tersebut. Tapi, mereka mengatakan perusahaan dan orang-orang itu juga mempromosikan akun palsu di Apple, Amazon, Google, LinkedIn, dan Twitter.

Facebook. Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Saat ini, perusahaan media sosial sedang berada dalam pengawasan agar mereka melakukan lebih banyak upaya untuk melawan informasi tidak benar di platform mereka setelah pemilihan presiden 2016 di AS.

Di Indonesia, menjamurnya akun palsu memang menjadi salah satu masalah yang ingin diatasi Facebook. Awal Februari lalu, Facebook mengumumkan telah memblokir 800 akun, yang di antaranya dianggap sebagai penyebar informasi palsu dan akun palsu.

Sementara di Instagram, ada 208 akun yang dihapus karena misinformasi dan akun palsu.

"Kami menutup halaman, grup, dan akun ini dikarenakan pola perilaku mereka, bukan karena konten yang mereka post. Dalam kasus ini, orang-orang yang berada di balik aktivitas ini berkoordinasi satu sama lain dan menggunakan akun palsu untuk menggambarkan identitas yang tidak otentik, dan hal ini yang menjadi dasar dari tindakan yang kami lakukan," ujar Kepala Kebijakan Keamanan Cybersecurity Facebook, Nathaniel Gleicher.