FBI: Ada Lonjakan Penipuan Transfer Rekening Melalui Email Palsu

Aksi penipuan siber transfer rekening, khususnya melalui email yang mengaku berasal dari rekan bisnis tepercaya, semakin meningkat dalam tujuh bulan terakhir di tahun 2016. Hal ini disampaikan langsung oleh Biro Investigasi Federal (FBI). Dalam sebuah laporan yang dirilis di Pusat Pengaduan Kejahatan Internet pada Kamis, (4/5), FBI menyebutkan para penipu berusaha mencuri 5,3 miliar dolar AS (Rp 70 triliun) melalui skema email phising (pengelabuan) dari Oktober 2013 sampai Desember 2016. Angka tersebut naik tajam dari laporan FBI sebelumnya yang mengatakan penipu berusaha mencuri 3,1 miliar dolar AS (Rp 41 triliun) dari Oktober 2013 sampai Mei 2016, berdasarkan sebuah survei terhadap sejumlah kasus dari berbagai badan penegak hukum di seluruh dunia. Jumlah kasus kejahatan pengelabuan siber, di mana pelaku meminta transfer rekening melalui email yang mirip dengan eksekutif perusahaan atau rekan bisis yang secara teratur meminta pembayaran, meningkat dari 22.143 kasus menjadi 40.203 kasus pada Mei hingga Desember tahun lalu.

Robert Holmes, ahli keamanan siber dari perusahaan Proofpoint Inc, memperkirakan insiden yang dikumpulkan oleh FBI ini hanya mewakili 20 persen dari total keseluruhan dan angka total kerugian bisa saja lebih besar dari yang laporan FBI. "Ini bukan permainan volume, ini adalah hasil penelitian yang cermat," ucap Holmes seperti dikutip Reuters. Holmes menambahkan, Amerika Serikat masih menjadi sasaran pasar terbesar para penjahat siber, walau penipu mulai merambah ke negara maju lainnya, seperti Australia, Inggris, Perancis, dan Jerman. Baca juga: Facebook dan Google Jadi Korban Email Penipuan Rp 1,3 Triliun Bulan Maret lalu, Departemen Kehakiman Amerika Serikat menuding seorang pria Lithuania telah melakukan penipuan, pencurian identitas yang berat, dan pencucian uang, setelah muncul sebuah dokumen mengatakan ia telah membobol sistem keamanan dua perusahaan teknologi besar dengan kerugian mencapai 100 juta dolar AS (sekitar Rp 1,3 triliun) berkat aksi menyamar sebagai produsen alat elektronik asal Taiwan. Laporan Fortune kemudian mengidentifikasi bahwa dua perusahaan yang terkena dampak itu adalah Facebook dan Google. Dua perusahaan teknologi besar itu mengkonfirmasi kepada Fortune bahwa karyawannya telah menjadi korban aksi email phising (pengelabuan). Email itu berisi penawaran, faktur, dan kontrak, untuk membayar barang elektronik. Segala pembayaran dari email pengelabuan tersebut disimpan ke rekening bank di Latvia, Siprus, Hong Kong, Slovenia, Hungaria, dan Lituania. Pelakunya kemudian diketahui bernama Evaldas Rimasauskas, usia 48 tahun.
