Inggris Bakal Larang Kacamata Meta Masuk Bioskop, Khawatir Dipakai buat Bajak

Bioskop di Inggris mulai mempertimbangkan untuk melarang penggunaan kacamata pintar berbasis kamera masuk ke dalam studio pemutaran film atau ruang teater pertunjukan, termasuk kacamata Meta AI. Langkah ini muncul karena adanya kekhawatiran perangkat kacamata AI dapat digunakan untuk merekam film secara diam-diam dan memicu pembajakan.
Asosiasi industri bioskop Inggris (UK Cinema Association/UKCA), mengatakan banyak jaringan bioskop kemungkinan akan membuat kebijakan untuk melarang atau membatasi penggunaan kacamata pintar yang dilengkapi kamera.
Chief Executive UKCA, Phil Clapp, mengatakan seluruh operator bioskop besar di Inggris sedang mempertimbangkan kebijakan masing-masing terkait teknologi tersebut. Perangkat ini bahkan mulai mendapat julukan “kacamata mata-mata” karena memungkinkan penggunanya merekam secara tersembunyi.
Kacamata pintar tersebut memiliki kamera yang tertanam di dalam bingkai. Ketika digunakan untuk merekam, terdapat lampu indikator kecil yang menyala. Kendati begitu, belum ada bioskop di Inggris yang secara resmi melarang penggunaan smart glasses ke dalam studio film, setidaknya berdasarkan informasi yang diketahui UKCA.
Operator bioskop masih mempertimbangkan antara risiko perekaman film dan masalah privasi dengan manfaat teknologi tersebut bagi sebagian penonton.
"Perangkat ini dapat berguna bagi sebagian penonton," kata Clapp sebagaimana dikutip Sky News.
Menurut dia, kacamata pintar dapat membantu penonton dengan gangguan penglihatan atau mereka yang memiliki masalah pendengaran. Beberapa perangkat bahkan dapat menyediakan teks terjemahan atau subtitle yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
Kacamata pintar sebenarnya bukan teknologi baru. Namun, produk smart glasses Meta belakangan makin populer. Lebih dari 7 juta unit kacamata Meta terjual sepanjang 2025. Popularitasnya juga meningkat setelah Meta menggandeng sejumlah publik figur dalam kampanye iklan, termasuk miliarder Kylie Jenner.
Kacamata tersebut tidak hanya dapat digunakan untuk mengambil foto dan merekam video, ini juga terintegrasi dengan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), sehingga pengguna dapat berinteraksi dengan asisten AI, mendengarkan musik, dan melakukan panggilan telepon.
Versi terbaru juga dilengkapi layar pada lensa kanan. Layar tersebut memungkinkan pengguna membaca pesan, menerjemahkan percakapan, hingga melihat peta tanpa perlu mengeluarkan smartphone. Kemampuan merekam video secara langsung dari kacamata inilah yang kemudian memunculkan kekhawatiran di tempat-tempat yang melarang aktivitas perekaman.
Sejumlah Tempat Mulai Membatasi
Kekhawatiran terhadap penggunaan kacamata pintar tidak hanya muncul di bioskop. Sejumlah teater, pub, dan restoran di Inggris juga mulai mengambil sikap seiring meningkatnya popularitas teknologi tersebut.
Salah satu jaringan pub terbesar di Inggris, Wetherspoons, telah menerapkan larangan efektif dengan tidak mengizinkan pengunjung merekam menggunakan kacamata pintar di dalam pub mereka. Sementara itu, ATG Theatres, operator sejumlah gedung pertunjukan seperti Edinburgh Playhouse dan Bristol Hippodrome, juga akan melarang pengunjung merekam menggunakan kacamata tersebut.
Larangan serupa bahkan berlaku di lingkungan pengadilan. Dilansir The Guardian, His Majesty's Courts and Tribunals Service mengatakan bahwa penggunaan kacamata Meta dilarang karena adanya aturan yang membatasi pengambilan foto dan video di dalam pengadilan maupun tribunal.
Meta membela penggunaan kacamata pintarnya dengan menyoroti manfaat perangkat tersebut bagi penyandang gangguan penglihatan. Juru bicara Meta mengatakan kacamata tersebut menghadirkan teknologi baru yang penting bagi komunitas tunanetra dan orang dengan gangguan penglihatan.
"Pembatasan terhadap cara orang menggunakan teknologi ini akan menjadi langkah mundur yang besar," kata Meta.
Perusahaan tersebut mengakui bahwa ada tempat-tempat tertentu yang memang tidak seharusnya direkam.
"Secara alami, ada tempat-tempat yang memang sama sekali tidak boleh direkam, dan itu masuk akal. Namun, aturan harus diterapkan secara konsisten," ujar juru bicara Meta.
Meta juga menegaskan bahwa kacamata mereka memiliki lampu indikator yang menyala ketika foto atau video direkam. Fitur tersebut, menurut Meta, memungkinkan orang di sekitar mengetahui bahwa kamera sedang digunakan.
"Hal itu tidak dimiliki smartphone dan kamera lainnya," kata Meta.
Bagi industri bioskop, persoalannya kini bukan sekadar apakah kacamata pintar dapat merekam film, tetapi juga bagaimana menyeimbangkan perlindungan hak cipta dan privasi dengan aksesibilitas teknologi bagi penonton yang membutuhkan.
