Kirim Video di WhatsApp Bikin Operator Seluler Untung Besar?

Aplikasi pesan instan saat ini menjadi bagian penting dalam komunikasi yang dilakukan manusia. WhatsApp, Line, Telegram, dan BlackBerry Messenger, perlahan menyingkirkan SMS karena lebih hemat dan interaktif. Pengiriman pesan di aplikasi-aplikasi tersebut tidak menghabiskan pulsa seperti SMS, tetapi mengurangi kuota data internet. Aplikasi pesan instan juga lebih kaya fitur karena memungkinkan pengguna melakukan panggilan telepon berbasis Voice over Internet Protocol, sampai dengan mengirim file gambar, audio, dan video yang berukuran besar. Khusus untuk video, audio, dan gambar ini, seorang pengguna harus melakukan proses unduh jika ingin melihat isi konten tersebut. Semua kemudahan fitur yang disediakan oleh aplikasi pesan instan ini ternyata juga menimbulkan perdebatan, karena ada pihak yang merasa keberatan dengan pengiriman konten multimedia dalam jumlah besar, termasuk konten video. Mereka keberatan dengan pengiriman konten video yang tidak relevan karena itu secara tak langsung memaksa pengguna untuk mengunduh konten dan jika semua anggota dalam grup WhatsApp mengunduh video tersebut, makan pihak operator seluler adalah pihak yang paling diuntungkan. [Baca juga: Waspada Penipuan Ubah Tampilan WhatsApp Jadi Warna-warni] Protes dalam Pesan Berantai Protes semacam ini, disampaikan dalam sebuah pesan berantai di WhatsApp yang mengatakan pengiriman video di grup obrolan aplikasi tersebut dapat membuat operator untung besar. Dalam pesan itu disebutkan contoh kasusnya. Misalnya, paket data internet untuk kuota 2 GB dibanderol Rp 100 ribu. Untuk 1 GB berarti ada kuota 1.024 MB. Berarti harga per 1 MB adalah Rp 48,8. Lalu, jika salah satu anggota grup mengirim video sebesar 7,1 MB ke dalam grup, maka biaya yang telah dikeluarkan adalah Rp 341,6.

Dalam grup WhatsApp yang misalnya beranggotakan 30 orang, lalu semuanya membuka video tersebut, berapa kira-kira data yang keluar? Setelah dihitung dalam satu kiriman dengan ukuran video 7,1 MB dan dibuka oleh 30 orang, maka biaya yang keluar mencapai Rp 72.760. Angka ini berlaku di dalam satu grup, jika melihat pengguna WhatsApp yang sampai jutaan dan banyaknya grup yang ada sekarang ini, bisa dibayangkan berapa banyak kuota data yang keluar ketika mengirim dan membuka video. Akhir pesan berantai itu pun mengimbau agar para pengguna WhatsApp lebih bijak dalam mengirimkan konten-konten video yang dianggap tidak penting. Memang pengiriman video sekarang sering dilakukan di aplikasi pesan tersebut, terutama untuk konten-konten lucu dan menghibur, tapi apakah karena hal ini para pengguna harus menahan diri berbagi tawa dengan teman-temannya? Ubah Pengaturan Di WhatsApp, konten-konten foto dan video yang dikirim biasanya memang langsung terunduh secara otomatis dan masuk ke dalam galeri ponsle. Tapi, pengaturan seperti itu sejatinya bisa diubah. Sebenarnya, untuk lebih hemat saat menggunakan WhatsApp, di bagian 'Setting' dalam aplikasi, pengguna bisa mengatur konten apa yang akan terunduh secara otomatis. Pengguna bisa melihat bagian 'Data Usage' di dalam 'Setting', kemudian pilih konten apa yang akan diunduh otomatis atau tidak. Pilihannya ada foto, video, atau dokumen. Jadi, jika sekiranya video yang dikirimkan tidak ingin dilihat atau memang sedang dalam kondisi kuota data yang terbatas, pengguna bisa melakukan pengaturan ini dan tidak mengunduh konten video yang diterima. [Baca juga: Rudiantara Sebut Admin Grup WhatsApp Bisa Dilaporkan ke Polisi]
