kumparan
17 September 2018 18:07

Mengenang Path, Aplikasi Berbagi Momen yang 'Tenggelam' di Era Medsos

Salam perpisahan aplikasi Path
Salam perpisahan aplikasi Path. (Foto: Astrid Rahadiani/kumparan)
Path, platform berbagi momen, ternyata harus menelan pil pahit dan mundur dari persaingan di industri media sosial. Pengelola aplikasi bahwa resmi memutuskan menutup layanan pada 18 Oktober mendatang.
ADVERTISEMENT
Aplikasi yang didirikan oleh Dave Morin dan Shawn Fanning pada November 2010 ini memang sedikit berbeda dengan aplikasi media sosial lainnya. Path mengusung konsep "simplicity, quality, dan privacy", sehingga hanya pengguna yang terkonfirmasi sebagai teman saja yang bisa mengakses profil seseorang.
Awalnya, aplikasi ini hanya mengizinkan penggunanya untuk memiliki 50 teman saja dan kemudian diperluas menjadi 150 teman. Lambat laun, nilai simplicity dan privacy hanya menjadi embel-embel belaka karena batasan pertemanan semakin longgar dan Path kehilangan karakteristiknya.
Aplikasi ini juga memiliki popularitas yang terbilang sangat cepat melesat. Tak butuh waktu lama bagi mereka menyamakan kedudukan dengan media sosial lain, seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan Pinterest.
Path menjadi aplikasi yang sangat populer di Indonesia pada masanya. Banyak orang yang menggunakan aplikasi ini untuk berbagi kegiatan sehari-hari.
Aplikasi Path
Aplikasi media sosial Path. (Foto: Path)
Adapun beberapa fitur utama Path ialah untuk berbagi foto dan video. Dalam fitur ini, pengguna juga bisa sekaligus mempercantik tampilan foto dan video teresebut dengan beberapa tool dan fiter efek. Pengguna juga bisa update lokasi tempat ia berada, film yang sedang ditonton dan buku yang sedang dibaca.
ADVERTISEMENT
Selain itu, fitur yang paling digemari oleh pengguna Indonesia adalah fitur berbagi lagu. Fitur ini selain bertukar pengetahuan mengenai musik, biasanya juga dijadikan alat untuk 'kode' ke gebetan tentang perasaan mereka.
Sempat Ditawar Google
Awalnya, Morin dan Fanning mendanai aplikasi yang mereka kembangkan tersebut secara independen. Dalam upaya menghasilkan uang, Path meraihnya dengan berjualan akun premium, stiker digital, dan filter foto.
Pada November 2010, Path mendapatkan dana segar dari mantan karyawan Facebook, Marc Bodnick. Pendanaan untuk Path dari investor berlanjut dengan babak investasi 2,5 juta dolar AS, yang di dalamnya ada suntikan dari aktor Hollywood Ashton Kutcher.
Logo Google
Logo Google (Foto: REUTERS/Thomas Peter)
Path kemudian menerima suntikan dana dari Kleiner Perkins Caufield & Byers dan Index Ventures pada Februari 2011 lalu, yang total dananya mencapai 8,5 juta dolar AS.
ADVERTISEMENT
Nama yang terus tenar membuat Google kepincut untuk mengakuisisinya pada 2011 lalu. Menurut laporan TechCrunch, raksasa teknologi itu pernah menawar Path sebesar 100 juta dolar AS. Sayang, tawaran tersebut ditolak dan manajemen lebih memilih mengunci kesepakatan dengan Kleiner dan Index.
Popularitas Path yang terus meningkat, khususnya di Indonesia yang menyumbang 4 juta pengguna per 20014 lalu, menarik perhatian perusahaan konglomerat asal Indonesia, Bakrie Global Group, yang ikut dalam pendanaan Seri C pada Januari 2014. Di babak itu, Path meraih 25 juta dolar AS (kala itu sekitar Rp 304 miliar).
Di tahun 2015, Path membuka kantor di Jakarta karena di sini mereka memiliki banyak pengguna. Path sempat menunjuk William Tunggaldjaja sebagai Country Manager Path.
ADVERTISEMENT
Path Diakuisisi Daum Kakao
Seiring berjalannya waktu, nama Path tak lagi jadi mindset utama pengguna media sosial. Kompetitornya macam Facebook, Instagram, dan lain-lain terus melakukan inovasi dan perlahan menarik perhatian pengguna.
Menimbang popularitasnya yang sudah ringkih, Path akhirnya rela menjual aplikasinya tersebut kepada perusahaan asal Korea Selatan, Daum Kakao, pada 2015. Kesepakatan yang nilainya dirahasiakan ini merupakan akuisisi aset, yang berarti perusahaan Path Inc tidak ikut dijual.
Aplikasi Path
Aplikasi Path. (Foto: Astrid Rahadiani/kumparan)
Keputusan tersebut diambil karena menurut Morin, ia harus melepasnya kepada pihak yang memahami betul pasar Asia Tenggara, terutama Indonesia yang menjadi basis pengguna terbesar Path.
Sayangnya, akuisisi tersebut tampaknya tak mampu mengembalikan Path ke popularitas sebelumnya. Daum Kakao tidak melakukan banyak inovasi fitur yang membuat aplikasi Path kian tenggalam di era media sosial.
ADVERTISEMENT
Dan pada akhirnya mereka terpaksa mengambil keputusan berat, yakni menutup layanannya yang telah berjalan selama lima tahun. Manajemen memutuskan menutup aplikasi Path per 17 Oktober 2018.
Jadwal Penutupan Bertahap Aplkasi Path
Jadwal Penutupan Bertahap Aplkasi Path. (Foto: Sabryna Muviola/kumparan)
Penutupan aplikasi Path akan melewati sejumlah proses, mulai dari pemberitahuan yang dikeluarkan pada 17 September, kemudian dilanjutkan aplikasi Path tidak akan bisa lagi di-download baik di Google Play Store maupun Apple App Store mulai 1 Oktober.
Sebentar lagi para pengguna Path harus mengucapkan selamat tinggal kepada Gberbagi momen tersebut. Selamat tinggal Path, tanpamu kami tidak akan bisa beri 'kode' kepada gebetan kami.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan