Kumparan Logo

Pendiri Microsoft Bikin Pesawat Besar untuk Bawa Roket ke Antariksa

kumparanTECHverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Pesawat Stratolaunch tampak atas. (Foto: Stratolaunch Systems)
zoom-in-whitePerbesar
Pesawat Stratolaunch tampak atas. (Foto: Stratolaunch Systems)

Pendiri Microsoft Paul Allen, telah menghabiskan enam tahun waktunya belakangan ini untuk bekerja membangun pesawat raksasa yang kelak, bisa meluncurkan roket ke luar angkasa. Nama perusahaan itu adalah Stratolaunch Systems. Akhirnya, mereka untuk pertama kalinya resmi meluncurkan pesawat itu dari hanggarnya di Gurun Mojave, California, AS. Pesawat ini disebut Stratolaunch, yang memiliki ukuran sangat besar. Sayapnya terbentang luas 35,7 meter dan ini membuatnya menjadi pesawat dengan bentang sayap sedemikian besar. Bobotnya, sekitar 226.796 kilogram yang bisa menampung berat hingga 589.670 kilo gram jika ia sudah terbang. Pesawat ini jika di darat ditopang oleh 28 buah roda, dan mesinnya didukung oleh enam mesin Boeing 747.

Pesawat Stratolaunch tampak depan. (Foto: Stratolaunch Systems)
zoom-in-whitePerbesar
Pesawat Stratolaunch tampak depan. (Foto: Stratolaunch Systems)

Buntut pesawat Stratolaunch. (Foto: Stratolaunch Systems)
zoom-in-whitePerbesar
Buntut pesawat Stratolaunch. (Foto: Stratolaunch Systems)

Mengapa pesawat ini dirancang begitu besar? Allen berencana menggunakan Stratolaunch sebagai peluncur roket. Alih-alih lepas landas dari sebuah fasilitas peluncuran roket yang membutuhkan banyak bahan bakar, Stratolaunch akan membawa roket dari Bumi dan membawa mereka ke angkasa. Setelah berada di angkasa, barulah roket bisa lepas dari unit pesawat dan bergerak secara mandiri. [Baca juga: Pendiri Google Bangun Pesawat Zeppelin untuk Misi Kemanusiaan] Layanan yang diberi Stratolaunch ini ternyata sudah punya satu pelanggan, yaitu sebuah perusahaan antariksa swasta Orbital ATK yang telah menandatangani kesepakatan dengan Stratolaunch Systems pada Oktober lalu. Mereka akan meluncurkan roket Pegasus XL untuk mengirim satelit kecil ke luar angkasa. Ide ini sejatinya mirip dengan perusahaan penyedia penerbangan ruang angkasa pertama yang dibangun Allen, SpaceShipOne. Pesawat ini telah membawa Allen dan rekan-rekan memenangkan Ansari X Prize di tahun 2004, sebuah kompetisi yang digelar X Prize Foundation untuk menciptakan pesawat ruang angkasa guna melayani penerbangan antariksa yang bisa digunakan kembali.

Salah satu pendiri Microsoft, Paul Allen. (Foto: Paul G. Allen via Facebook)
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu pendiri Microsoft, Paul Allen. (Foto: Paul G. Allen via Facebook)

Tetapi sebelum Stratolaunch membawa roket Orbital ATK atau roket milik pihak lain, ia harus menyelesaikan serangkaian tes pengujian pesawat terbang. Jika semua berjalan lancar, Stratolaunch bisa melakukan demonstrasi pertamanya pada 2019. "Ini akan melewati langkah penting dalam mempersiapkan pesawat dalam pengujian di darat, putaran mesin, uji taksi, dan akhirnya penerbangan pertama," tulis Stratolaunch Systems di situs web resminya. [Baca juga: 5 Raksasa Teknologi dan Sumber Keuntungannya]