Kumparan Logo

Siap-siap! Aplikasi Telegram Bakal Ada Iklan

kumparanTECHverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Telegram. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Telegram. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Everybody has joined Telegram!” Bagi kamu pengguna lama Telegram, mungkin itu adalah notifikasi yang kamu terima hampir setiap hari. Setelah delapan tahun peluncuran pertamanya, aplikasi chatting buatan Rusia ini akhirnya kebanjiran pengguna.

Setidaknya kini Telegram sudah memiliki 500 juta pengguna. Kini, perusahaan mempertimbangkan untuk monetize platform tersebut dengan membuka ruang iklan

Tak peduli seberapa aman teknologi enkripsi end-to-end Telegram, pada akhirnya juga ia ikut langkah WhatsApp. Tapi tenang, iklan tersebut tidak akan tiba-tiba muncul di jendela chat personal atau grup. Kamu juga tetap bisa menggunakan Telegram untuk layanan tersebut secara gratis.

“Kami berpikir bahwa menampilkan iklan dalam obrolan pribadi satu-ke-satu atau obrolan grup adalah ide yang buruk,” kata Pavel Durov, pendiri sekaligus CEO Telegram. “Komunikasi antar orang harus bebas dari iklan apa pun.”

Kehadiran iklan pada platform Telegram sendiri besar kemungkinan akan dihadirkan lewat channel-channel besar dengan banyak pengikut. Kanal tersebut biasanya dijalankan oleh satu orang atau organisasi untuk memberi informasi atau mewadahi forum untuk diskusi.

Ilustrasi Telegram. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Durov lebih lanjut mengatakan bahwa beberapa kanal besar sudah menjadi pihak ketiga untuk me-monetize pengikut mereka. Dengan kemunculan iklan di Telegram, Durov mengatakan bahwa itu artinya iklan jadi lebih mudah untuk diabaikan.

Selain itu, Durov mengatakan bahwa iklan di Telegram tetap akan menghormati privasi pengguna dan tidak akan membahayakan pengalaman pengguna.

Cara lain Telegram untuk monetize platform-nya ialah dengan meluncurkan fitur-fitur premium yang ditujukan untuk kebutuhan perusahaan dan pengguna pribadi yang membutuhkannya. Belum ada detail soal layanan premium tersebut, namun, versi premium tersebut tentu akan bersifat berbayar dan berlangganan.

Ini mungkin terdengar meragukan bagi platform dengan iming-iming keamanan privasi namun melakukan monetize platform dengan iklan sekaligus tetap melindungi data pengguna. Keraguan macam ini sebenarnya juga ditujukan ke Facebook yang punya rencana membuka ruang iklan di WhatsApp.

Ilustrasi Telegram. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Meski Facebook telah gagal mendapatkan kepercayaan soal keamanan data pengguna, belum tentu Telegram akan berada di tempat yang sama. Ada platform browser yang berfokus pada privasi, bernama Brave, yang memungkinkan penggunanya untuk memilih iklan yang ingin mereka konsumsi.

Tampaknya Telegram berencana untuk melakukan hal serupa. Ke depannya, mungkin Telegram akan monetize platform dengan menyediakan stiker berbayar dengan sistem bagi hasil dengan para kreatornya. Intinya, Telegram berharap monetize platform tanpa harus mengubah pengalaman pengguna.

“Berkat skala kami saat ini, kami akan dapat melakukannya dengan cara yang tidak mengganggu. Sebagian besar pengguna tidak akan melihat perubahan apa pun,” tegas Durov.