Kumparan Logo

Tren Operasi Plastik untuk Tiru Wajah di Filter Snapchat

kumparanTECHverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi operasi plastik. (Foto: Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi operasi plastik. (Foto: Shutterstock)

Tak ada yang lebih sempurna dibanding seseorang dengan wajah yang mulus sebagai efek dari filter Snapchat dan Instagram. Saking bikin cantiknya, ternyata filter wajah di aplikasi tersebut membuat para remaja terobsesi untuk melakukan operasi plastik.

Mereka ingin mengubah wajahnya menyerupai hasil filter aplikasi Snapchat.

Menurut Dr. Neelam Vashi, Direktur Cosmetic dan Laser di Universitas Boston, Massachusetts, fenomena ini dinamakan Snapchat Dysmorphia, yaitu penyakit mental yang membuat seseorang memiliki obsesi untuk terlihat menggunakan filter di dunia nyata dengan melakukan operasi plastik.

Vashi berpendapat bahwa obsesi tersebut kini telah muncul dan menjadi tren tersendiri bagi pasien operasi plastik yang ingin memperbaiki wajahnya agar tidak memerlukan filter edit foto lagi dalam aplikasi.

Berdasarkan peneilitian yang dipublikasikan di JAMA Facial Plastic Surgery Viewpoint, memang aplikasi seperti Snapchat dan Facetune memungkinkan foto orang ketika selfie dapat mencapai tingkat ‘kesempurnaan’ fisik yang sebelumnya hanya terlihat di majalah selebriti atau kecantikan.

Logo Snapchat dalam pameran TechFair di LA. (Foto: REUTERS/Lucy Nicholson/File Photo)
zoom-in-whitePerbesar
Logo Snapchat dalam pameran TechFair di LA. (Foto: REUTERS/Lucy Nicholson/File Photo)

Beberapa penyempurnaan akan terlihat pada bagian dagu yang melancip, tulang pipi yang semakin tegas, hidung yang semakin mancung, hingga tubuh yang jadi terlihat semakin ramping atau bahkan lebih montok yang tentunya menjadi penampilan idaman kebanyakan wanita.

“Sedikit penyesuaian pada Facetune dapat menghaluskan kulit, dan membuat gigi terlihat lebih putih, mata dan bibir lebih besar. Posting di Instagram, Like serta komentar pun mulai bergulir. Dapat dikatakan aplikasi ini membuat kita kehilangan kontak dengan kenyataan karena kita berharap terlihat sempurna dan tersaring dalam kehidupan nyata juga,” jelas Dr Vashi, dilansir Metro.

Menurut surveinya, ada 55 persen pasien operasi plastik yang ingin melakukan operasi agar wajahnya tampil lebih bagus saat selfie. Angka tersebut merupakan lonjakan yang sangat tinggi dibandingkan dengan pasien operasi plastik kecantikan yang hanya 13 persen pada tahun 2013.

Update foto di Instagram. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Update foto di Instagram. (Foto: Pixabay)

Dari total responden, terdapat sebanyak 56 persen pasien yang berasal dari umur di bawah 30 tahun. Meski sudah menjadi tren, Vashi menilai operasi plastik bukanlah langkah terbaik karena berisiko gagal dan membuat penampilan jadi lebih buruk.

Tim Vashi menyarankan penderita Snapchat Dysmorphia melakukan pengobatan psikologis seperti terapi perilaku kognitif dan manajemen gangguan dengan cara yang empatik dan tidak menghakimi.

Meniru artis sebagai referensi untuk penampilan fisik yang ideal memang lumrah, namun yang berbahaya adalah tahap ketika seseorang ingin benar-benar terlihat sama seperti referensi tersebut. Bukan hanya menjadi tidak realistis, tapi risiko kegagalan operasi juga menjadi lebih tinggi.

“Penting bagi para dokter untuk memahami implikasi media sosial pada tubuh dan harga diri serta memberikan konseling kepada pasien mereka,” tambah Vashi.