Tekno & Sains
·
18 Oktober 2020 10:14

Zoom atau Google Meet? Ini Aplikasi Video Call Favorit PJJ di Indonesia

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Zoom atau Google Meet? Ini Aplikasi Video Call Favorit PJJ di Indonesia (14253)
Ilustrasi mengulang pelajaran dari situs maupun aplikasi lain. Foto: Shutterstock
Aplikasi video call dibutuhkan sebagai media penunjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa, guru, orang tua murid, mahasiswa, hingga dosen. Ada banyak platform video conference, mulai dari Google Meet, Zoom, hingga Microsoft Teams.
ADVERTISEMENT
Lalu, manakah aplikasi video call yang banyak digunakan masyarakat Indonesia untuk belajar online? Lembaga Arus Survei Indonesia (ASI) punya jawabannya.
Berdasarkan survei terbarunya, ternyata Zoom menjadi platform video call favorit untuk belajar online di Indonesia. Aplikasi itu bahkan jauh lebih populer dibanding kompetitornya, Google Meet.
"Terkait penggunaan media video call dalam pembelajaran daring, mayoritas publik menggunakan aplikasi Zoom (57,2 persen), disusul Google Meet (18,5 persen), Cisco Webex (8,3 persen), U Meet Me (5,0 persen), Microsoft Teams (2,0 persen), dan lainnya (2,2 persen). Sisanya 6,9 persen mengaku tidak tahu atau tidak jawab," kata lembaga ASI dalam laporan risetnya, Sabtu (17/10).
Zoom atau Google Meet? Ini Aplikasi Video Call Favorit PJJ di Indonesia (14254)
Daftar aplikasi video call untuk PJJ terpopuler di Indonesia berdasarkan survei ASI. Foto: Arus Survei Indonesia

Platform Belajar Online Populer di Indonesia

Selain menyurvei aplikasi video call, ASI juga meriset soal platform belajar online macam Ruangguru, Zenius, Google Classroom, dan lain sebagainya. Hasilnya, warga Indonesia banyak memilih Google Classroom sebagai media belajar online.
ADVERTISEMENT
"Publik mengaku sering menggunakan platform belajar Google Classroom sebanyak 26,1 persen, disusul Ruangguru (17,1 persen), Rumah Belajar (15,2 persen), Ayobelajar (8,1 persen), Zenius (6,5 persen), Duolingo (3,3 persen), Udemy (3,3 persen), Birru (3,3 persen), Sekolah.Mu (3,2 persen), Eduda System (2,2 persen), Edmodo (2,2 persen), Bahaso (1,2 persen), Aminin (1,2 persen), dan lainnya (2,0 persen). Sisanya 5,1 persen mengaku tidak tahu atau tidak jawab," tambahnya.
Zoom atau Google Meet? Ini Aplikasi Video Call Favorit PJJ di Indonesia (14255)
Daftar platform belajar terpopuler di Indonesia berdasarkan survei ASI. Foto: Arus Survei Indonesia
Hasil survei ini merupakan bagian dari laporan riset terbaru ASI soal pandangan publik terhadap program subsidi kuota internet belajar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), yang memang sudah berjalan sejak September selama empat bulan hingga Desember 2020.
Adapun jumlah responden dalam riset baru ini mencapai 1.000 orang yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Surveinya sendiri dilakukan dengan wawancara peserta studi via telepon menggunakan kuesioner.
ADVERTISEMENT
Selain soal aplikasi video call dan platform belajar, riset ini juga menemukan beberapa fakta lain. Misal, bantuan internet gratis dari Kemendikbud dinilai positif oleh publik.
Terbukti sebanyak 85,6 persen responden menganggap program tersebut meringankan beban ekonomi orang tua pelajar atau mahasiswa dalam membeli paket internet. Karena dinilai positif oleh publik, 80,5 persen responden ingin program kuota internet PJJ dari Kemendikbud berlanjut hingga 2021.
Zoom atau Google Meet? Ini Aplikasi Video Call Favorit PJJ di Indonesia (14256)
Mendikbud Nadiem Makarim saat melakukan rapat kerja dengan Komisi X DPR RI. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Meski begitu, survei menemukan sebagian responden mengalami kendala dengan program Kemendikbud. Misal, ada 33,8 persen responden mengaku sinyal internet tidak stabil, sementara 23,4 persen merasa akses internet terbatas sebagai kendala utamanya.
Kedua kendala itu pun menjadi masukan publik terhadap pemerintah terkait program kuota internet gratis. Riset juga menemukan responden ingin pembagian bantuan internet PJJ gratis harus lebih merata.
ADVERTISEMENT
"Perlu dilakukan sosialisasi terus menerus terkait program bantuan kuota internet. Sebab berdasarkan temuan survei, masih ada sekitar 20,0 persen publik yang masih belum tahu program tersebut," sebut ASI dalam rekomendasinya di laporan survei.