MI5 Tuding China Danai Riset AI Akademisi di Inggris demi Spionase

kumparanTEKNOverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi spionase. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi spionase. Foto: Shutter Stock

Badan intelijen Inggris, MI5, menerbitkan peringatan spionase perdana terkait pendanaan riset kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) oleh China. MI5 menuduh lembaga China General Technology Research Institute (CGTRI) memiliki hubungan erat dengan Kementerian Keamanan Negara China (MSS).

Mereka menyebut lebih dari 100 akademisi terafiliasi Inggris telah berkontribusi dalam proyek riset yang menerima kucuran dana CGTRI. Sebagian peneliti tidak menyadari proyek mereka terafiliasi langsung dengan dinas intelijen China.

Kolaborasi penelitian sensitif ini mencakup pengembangan kecerdasan buatan, keamanan siber, sistem komunikasi rahasia, hingga steganografi metode penyembunyian pesan rahasia di dalam dokumen digital.

"MI5 mengidentifikasi bahwa tujuan utama CGTRI adalah mendanai penelitian akademis yang secara langsung meningkatkan kapabilitas teknis spionase MSS," tulis

MI5 dalam dokumen Security Service Espionage Alert resmi yang terbit pada 30 September 2026.

Peringatan terbuka ini merupakan langkah perdana MI5 dalam memublikasikan ancaman spionase riset secara independen kepada publik. Menurut MI5, CGTRI, yang kerap dikenal dengan nama China Academy of General Technology (CAGT), menyamarkan aliran dana intelijen melalui kerja sama akademik formal.

Ilustrasi badan intelijen. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock

Fokus riset terarah pada teknologi krusial yang dapat memperkuat intelijen siber China. Selain AI dan sistem komunikasi rahasia, materi riset menyentuh domain keamanan komputasi tingkat lanjut yang rawan disalahgunakan untuk operasi pengawasan luar negeri.

Menteri Keamanan Inggris, Dan Jarvis, langsung mengirimkan surat resmi kepada seluruh pimpinan universitas di Inggris agar memutus hubungan kerja sama dengan institusi tersebut.

"Peringatan ini membongkar upaya intelijen China untuk secara diam-diam memetik keuntungan dari keahlian dan riset akademisi kami, merusak keamanan nasional kami, dan sekutu kami," ujar Dan Jarvis dalam pernyataan resminya, mengutip Reuters.

Jarvis menambahkan, meski kemitraan internasional penting bagi iklim riset, pemerintah Inggris akan mengambil tindakan tegas untuk mengamankan teknologi strategis dari ancaman asing.

MI5 pun meminta perguruan tinggi dan lembaga penelitian segera mengaudit proyek riset yang sedang berjalan maupun yang masih dalam tahap perencanaan bersama institusi China. Akademisi wajib menelusuri sumber pendanaan akhir (ultimate funding source) lewat panduan HMG Research Collaboration Advice Team (RCAT) dan National Protective Security Authority (NPSA).

London, Inggris. Foto: Reuters / Toby Melville

Pemerintah Inggris menyebut tidak segan-segan menyeret akademisi yang melanggar ke ranah hukum. Melalui keterbukaan informasi ini, peneliti yang sengaja melanjutkan proyek bersama CGTRI berisiko melanggar National Security Act 2023, khususnya Pasal 3 mengenai bantuan terhadap dinas intelijen asing dan Pasal 17 tentang penerimaan materi dari entitas intelijen luar negeri.

Bantahan Keras Beijing

Meski demikian, tuduhan intelijen Inggris memicu reaksi keras dari pemerintah China. Kedutaan besar mereka di London membantah seluruh isi laporan spionase tersebut dan menyebut tuduhan MI5 sebagai rekayasa tanpa dasar.

"Tuduhan tersebut imajiner dan murni rekayasa. Kami dengan tegas menentang tudingan tak berdasar ini dan telah mengajukan protes resmi kepada pihak Inggris," tegas juru bicara Kedutaan Besar China di London melalui pernyataan resminya.

Pihak Beijing juga mendesak otoritas intelijen Inggris agar menghentikan narasi bohong yang dinilai dapat merusak pertukaran pendidikan serta kolaborasi riset bilateral kedua negara.