kumparan
search-gray
Food & Travel31 Juli 2020 8:31

5 Tradisi Menyakitkan Para Wanita di Dunia Demi Menyandang Predikat Cantik

Konten Redaksi kumparan
5 Tradisi Menyakitkan Para Wanita di Dunia Demi Menyandang Predikat Cantik (35381)
Ilustrasi menyayat perut di Afrika Foto: Shutter Stock
Standar kecantikan seorang wanita biasanya dinilai dari kulit putih bersih, memiliki bentuk tubuh yang ideal hingga gigi yang putih dan rapi.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, kecantikan tersebut tidak dapat diartikan sama dan universal. Sebab berbeda budaya dan wilayah, akan beda pula dengan standar kecantikannya.
Buktinya, di berbagai belahan dunia masih banyak suku-suku tertentu yang memiliki tradisi unik demi memaknai arti cantik bagi para wanita di sukunya. Bahkan, beberapa perempuan yang ada di suku ini harus menjalani tradisi menyakitkan untuk mendapatkan predikat cantik.
Dilansir berbagi sumber, berikut lima tradisi menyakitkan para wanita di dunia untuk tampil cantik.

1. Meruncingkan Gigi - Suku Bagobo, Filipina

5 Tradisi Menyakitkan Para Wanita di Dunia Demi Menyandang Predikat Cantik (35382)
Tradisi meruncingkan gigi suku Bagobo di Filipina Foto: Wikimedia Commons
Suku Babogo merupakan sebuah suku yang berasal dari Filipina yang mendiami wilayah Mindanao. Suku ini memiliki tradisi unik sekaligus menyakitkan bagi para wanitanya untuk mendapatkan predikat sebagai wanita cantik.
ADVERTISEMENT
Bagi wanita Suku Bagobo, memiliki gigi runcing adalah suatu keharusan untuk menjadi yang paling cantik.
Ya, wanita dari suku ini diharuskan untuk memiliki gigi runcing layaknya drakula. Untuk membuat gigi mereka menjadi runcing pun tak mudah, para wanita Suku Bagobo harus mengalami hal yang amat menyakitkan terlebih dahulu.
Ketika proses ini berlangsung, wanita yang menajamkan giginya tidak boleh minum air, dan makan apa pun yang asam. Untuk beberapa alasan, menghadiri pemakaman pun tidak boleh, karena kegiatan ini dikatakan dapat mempengaruhi warna gigi.
Tradisi mempercantik diri wanita Suku Bagobo ini juga mirip seperti yang dilakukan wanita Suku Mentawai.

2. Tradisi Menyayat Tubuh - Suku Tiv, Nigeria

5 Tradisi Menyakitkan Para Wanita di Dunia Demi Menyandang Predikat Cantik (35383)
Ilustrasi menyayat perut perempuan di Afrika. Foto: Shutter Stock
Suku Tiv yang berada di Nigeria ini memiliki tradisi unik untuk menandakan kedewasaan seorang perempuan di wilayahnya. Untuk menandai kedewasaan, para gadis di suku ini harus menjalani ritual penyayatan perut.
ADVERTISEMENT
Ritual ini dilakukan ketika seorang gadis mendapatkan haid pertamanya. Perut para gadis tersebut disayat dengan menggunakan benda tajam yang menyebabkan beberapa torehan luka berbentuk garis memanjang.
Selain menandakan kedewasaan, sayatan-sayatan ini dipercaya dapat meningkatkan kesuburan si gadis. Konon, luka sayatan ini membantu mereka menjadi lebih menarik di mata para pria.

3. Memanjangkan Leher - Suku Karen, Thailand

5 Tradisi Menyakitkan Para Wanita di Dunia Demi Menyandang Predikat Cantik (35384)
Wanita suku Karen menggunakan kalung bundar berbahan kuningan di lehernya Foto: Shutter Stock
Wanita Suku Karen mewajibkan dirinya untuk memanjangkan leher dengan tumpukan kawat dari kuningan. Wanita Suku Karen menganggap semakin panjang leher mereka, maka akan semakin cantik di mata pria. Jadi, mereka melakukan tradisi ini sejak masih gadis agar lehernya tampak lebih panjang.
Jika bertambah usia, maka jumlah kuningan di lehernya pun juga akan bertambah. Wanita Suku Karen juga tak boleh melepas tumpukan kawat yang mereka pakai meski sedang melakukan aktivitas.
ADVERTISEMENT
Tak hanya leher saja, bahkan kaki dan tangan juga mereka pasang kawat kuningan tersebut. Kalung besi ini dilepas ketika menikah, melahirkan dan meninggal dunia, atau ketika akan dibersihkan.

4. Tradisi Mengikat Kaki, China

5 Tradisi Menyakitkan Para Wanita di Dunia Demi Menyandang Predikat Cantik (35385)
Sepatu untuk lotus feet di China Foto: Shutter Stock
Hal ini juga yang diyakini wanita dari China. Mereka percaya jika memiliki kaki kecil merupakan bukti bahwa dirinya cantik.
Untuk menggaet pasangan yang diinginkan, salah satu daya tarik adalah dengan memiliki kaki kecil. Inilah alasan yang membuat banyak wanita reka kesakitan karena kakinya diikat demi mendapatkan kaki kecil.
Banyak versi yang menjelaskan awal mula tradisi atau tren lotus feet ini. Beberapa ada yang mengatakan tren dimulai saat masa Dinasti Shang, sekitar tahun 1700 hingga 1027. Kala itu, permaisuri A Shang memiliki kaki kecil yang mengharuskan kaki wajib diikat di istana.
ADVERTISEMENT
Kabar lain mengatakan bahwa tren mengecilkan kaki berawal dari pemerintahan Li Yi, kaisar dari Dinasi Tang Selatan (937-975) atau Kaisar Yang dari Dinasti Sui (604-618).
Biasanya, para gadis berusia tiga hingga delapan tahun rela melipat empat jari kaki mereka dan mengikatnya erat menggunakan perban panjang, kemudian dibungkus sepanjang hari.
Meskipun merasakan sakit yang luar biasa, orang tua mereka tak jarang memaksa untuk tetap melakukannya. Hal ini dilakukan demi mendapat apresiasi sebagai penunjuk status sosial yang lebih baik, serta agar mendapat pujian dari lingkungan sekitar.
Namun, kaki kecil ini sudah tak berlaku lagi. Sejak 1912, negara dengan jumlah penduduk terbanyak nomor satu di dunia ini melarang warganya melakukannya hal ini. Bahkan, pemerintah China memberlakukan denda kepada warganya yang terus mengikat kakinya.
ADVERTISEMENT

5. Diarak Keliling Kampung dan Dipukuli - Suku Uaupes, Brasil

5 Tradisi Menyakitkan Para Wanita di Dunia Demi Menyandang Predikat Cantik (35386)
Ilustrasi Suku Terasing Foto: Shutter Stock
Umumnya, seorang wanita bisa dianggap layak menikah jika sudah memiliki pemikiran yang dewasa, pintar memasak dan mengurus rumah. Namun, berbeda dengan Suku Uaupes di Brasil yang harus melakukan tradisi kejam jika ingin dianggap layak menikah.
Para wanita Suku Uaupes harus rela disiksa dan diarak keliling kampung jika ia ingin bisa segera menikah. Bukan hanya itu saja, para wanita suku ini akan diarak keliling kampung dan dipukuli hingga pingsan agar dianggap layak menikah.
Jika gadis itu bangun dan tetap sadar, maka ia dianggap feminim, dengan demikian mereka dianggap sudah siap menikah.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white