Kumparan Logo

5 Tradisi Menyakitkan Para Wanita di Dunia Demi Menyandang Predikat Cantik

kumparanTRAVELverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi menyayat perut di Afrika Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menyayat perut di Afrika Foto: Shutter Stock

Standar kecantikan seorang wanita biasanya dinilai dari kulit putih bersih, memiliki bentuk tubuh yang ideal hingga gigi yang putih dan rapi.

Meski begitu, kecantikan tersebut tidak dapat diartikan sama dan universal. Sebab berbeda budaya dan wilayah, akan beda pula dengan standar kecantikannya.

Buktinya, di berbagai belahan dunia masih banyak suku-suku tertentu yang memiliki tradisi unik demi memaknai arti cantik bagi para wanita di sukunya. Bahkan, beberapa perempuan yang ada di suku ini harus menjalani tradisi menyakitkan untuk mendapatkan predikat cantik.

Dilansir berbagi sumber, berikut lima tradisi menyakitkan para wanita di dunia untuk tampil cantik.

1. Meruncingkan Gigi - Suku Bagobo, Filipina

Tradisi meruncingkan gigi suku Bagobo di Filipina Foto: Wikimedia Commons

Suku Bagobo merupakan sebuah suku yang berasal dari Filipina yang mendiami wilayah Mindanao. Suku ini memiliki tradisi unik sekaligus menyakitkan bagi para wanitanya untuk mendapatkan predikat sebagai wanita cantik.

Bagi wanita Suku Bagobo, memiliki gigi runcing adalah suatu keharusan untuk menjadi yang paling cantik.

Ya, wanita dari suku ini diharuskan untuk memiliki gigi runcing layaknya drakula. Untuk membuat gigi mereka menjadi runcing pun tak mudah, para wanita Suku Bagobo harus mengalami hal yang amat menyakitkan terlebih dahulu.

Ketika proses ini berlangsung, wanita yang menajamkan giginya tidak boleh minum air, dan makan apa pun yang asam. Untuk beberapa alasan, menghadiri pemakaman pun tidak boleh, karena kegiatan ini dikatakan dapat mempengaruhi warna gigi.

Tradisi mempercantik diri wanita Suku Bagobo ini juga mirip seperti yang dilakukan wanita Suku Mentawai.

2. Tradisi Menyayat Tubuh - Suku Tiv, Nigeria

Ilustrasi menyayat perut perempuan di Afrika. Foto: Shutter Stock

Suku Tiv yang berada di Nigeria ini memiliki tradisi unik untuk menandakan kedewasaan seorang perempuan di wilayahnya. Untuk menandai kedewasaan, para gadis di suku ini harus menjalani ritual penyayatan perut.

Ritual ini dilakukan ketika seorang gadis mendapatkan haid pertamanya. Perut para gadis tersebut disayat dengan menggunakan benda tajam yang menyebabkan beberapa torehan luka berbentuk garis memanjang.

Selain menandakan kedewasaan, sayatan-sayatan ini dipercaya dapat meningkatkan kesuburan si gadis. Konon, luka sayatan ini membantu mereka menjadi lebih menarik di mata para pria.

3. Memanjangkan Leher - Suku Karen, Thailand

Wanita suku Karen menggunakan kalung bundar berbahan kuningan di lehernya Foto: Shutter Stock

Wanita Suku Karen mewajibkan dirinya untuk memanjangkan leher dengan tumpukan kawat dari kuningan. Wanita Suku Karen menganggap semakin panjang leher mereka, maka akan semakin cantik di mata pria. Jadi, mereka melakukan tradisi ini sejak masih gadis agar lehernya tampak lebih panjang.

embed from external kumparan

Jika bertambah usia, maka jumlah kuningan di lehernya pun juga akan bertambah. Wanita Suku Karen juga tak boleh melepas tumpukan kawat yang mereka pakai meski sedang melakukan aktivitas.

Tak hanya leher saja, bahkan kaki dan tangan juga mereka pasang kawat kuningan tersebut. Kalung besi ini dilepas ketika menikah, melahirkan dan meninggal dunia, atau ketika akan dibersihkan.

4. Tradisi Mengikat Kaki, China

Sepatu untuk lotus feet di China Foto: Shutter Stock

Hal ini juga yang diyakini wanita dari China. Mereka percaya jika memiliki kaki kecil merupakan bukti bahwa dirinya cantik.

Untuk menggaet pasangan yang diinginkan, salah satu daya tarik adalah dengan memiliki kaki kecil. Inilah alasan yang membuat banyak wanita reka kesakitan karena kakinya diikat demi mendapatkan kaki kecil.

Banyak versi yang menjelaskan awal mula tradisi atau tren lotus feet ini. Beberapa ada yang mengatakan tren dimulai saat masa Dinasti Shang, sekitar tahun 1700 hingga 1027. Kala itu, permaisuri A Shang memiliki kaki kecil yang mengharuskan kaki wajib diikat di istana.

Kabar lain mengatakan bahwa tren mengecilkan kaki berawal dari pemerintahan Li Yi, kaisar dari Dinasi Tang Selatan (937-975) atau Kaisar Yang dari Dinasti Sui (604-618).

Biasanya, para gadis berusia tiga hingga delapan tahun rela melipat empat jari kaki mereka dan mengikatnya erat menggunakan perban panjang, kemudian dibungkus sepanjang hari.

Meskipun merasakan sakit yang luar biasa, orang tua mereka tak jarang memaksa untuk tetap melakukannya. Hal ini dilakukan demi mendapat apresiasi sebagai penunjuk status sosial yang lebih baik, serta agar mendapat pujian dari lingkungan sekitar.

Namun, kaki kecil ini sudah tak berlaku lagi. Sejak 1912, negara dengan jumlah penduduk terbanyak nomor satu di dunia ini melarang warganya melakukannya hal ini. Bahkan, pemerintah China memberlakukan denda kepada warganya yang terus mengikat kakinya.

5. Diarak Keliling Kampung dan Dipukuli - Suku Uaupes, Brasil

Ilustrasi Suku Terasing Foto: Shutter Stock

Umumnya, seorang wanita bisa dianggap layak menikah jika sudah memiliki pemikiran yang dewasa, pintar memasak dan mengurus rumah. Namun, berbeda dengan Suku Uaupes di Brasil yang harus melakukan tradisi kejam jika ingin dianggap layak menikah.

Para wanita Suku Uaupes harus rela disiksa dan diarak keliling kampung jika ia ingin bisa segera menikah. Bukan hanya itu saja, para wanita suku ini akan diarak keliling kampung dan dipukuli hingga pingsan agar dianggap layak menikah.

Jika gadis itu bangun dan tetap sadar, maka ia dianggap feminim, dengan demikian mereka dianggap sudah siap menikah.

kumparan post embed

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)