5 Tradisi Menyucikan Diri dan Menyambut Keberuntungan di Dunia

Ada beragam cara, tradisi, dan budaya yang dilakukan suku dan pemeluk agama atau kepercayaan tertentu di dunia untuk menyambut keberuntungan dan menyucikan diri. Tradisi-tradisi yang dilakukan secara turun-temurun tersebut menjadi simbol atau penanda bahwa manusia telah siap menerima 'berkat' dan memulai kembali kehidupan mereka yang baru.
Saking meriahnya, perayaan tradisi tersebut bahkan menjadi atraksi unik dan menarik bagi wisatawan. Apa saja? Dilansir Culture Trip, berikut lima di antaranya yang telah dirangkum kumparan.
1. Songkran, Thailand
Dilaksanakan pada pertengahan April setiap tahunnya, Festival Songkran di Thailand merupakan sebuah tradisi turun-temurun yang tidak bisa kamu lewatkan begitu saja. Dalam festival ini, kamu akan 'menyucikan diri' menggunakan air dengan cara memercikkannya satu sama lain.
Sementara itu patung-patung Buddha akan dikeluarkan dari altar kuil kemudian dibersihkan dengan menggunakan air wangi yang telah direndam dengan kelopak bunga.
Kini, tradisi Songkran berkembang jadi sebuah festival ekstravaganza yang bukan hanya dirayakan dengan memercikkan air saja, tapi dengan saling lempar-melempar air satu sama lain menggunakan ember atau pistol air selama tiga hari di sepanjang jalanan Thailand.
2. Tahun Baru Imlek, China
Merayakan pergantian tahun baru berdasarkan kalender Lunar, masyarakat China biasanya akan membersihkan rumah mereka sebersih mungkin. Mulai dari ruang tamu, kamar, kamar mandi, dapur, hingga lemari. Pembersihan tersebut dilakukan secara simbolik untuk memberi ruang pada keberuntungan yang akan hadir setelah pergantian tahun.
Kemudian mereka akan menghiasi rumahnya dengan beragam pernak-pernik berwarna merah seperti pajangan lentera atau amplop. Sementara itu, sepanjang Hari Raya Imlek, kamu tidak akan diperbolehkan untuk menyapu, keramas, atau mencuci baju, hingga Cap Go Meh tiba. Hal ini dilakukan agar keberuntungan yang didapat tidak terbuang sia-sia ke luar ruangan.
3. Nowruz, Negara di Timur Tengah
Nowruz merupakan festival Persia kuno yang dilakukan bertepatan dengan hari pertama musim semi. Nowruz umumnya jatuh pada tanggal 21 Maret berdasarkan kalender dan dikenal pula sebagai tahun baru di Iran serta telah menjadi tradisi turun-temurun selama tiga ribu tahun.
Dirayakan di negara-negara Timur Tengah seperti Afghanistan, Irak, Turki, dan Kazakhstan, saat merayakan Nowruz, para penduduk akan membuang barang-barang yang tak lagi dipakai, menggosok lantai, membersihkan karpet, dan menggunakan pakaian tradisional terbarunya sambil membawa obor dan naik ke atas gunung, sebagai penanda hari yang baru.
4. Passover, Yahudi
Berlangsung selama tujuh hingga delapan hari, Passover atau Hari Raya Paskah milik Yahudi dimulai pada hari ke 15 Nisan (bulan ketujuh dalam Kalender Yahudi). Hari Raya Paskah ini dilakukan untuk memperingati keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan memulai kehidupan yang baru.
Untuk merayakannya, bangsa Yahudi akan mengonsumsi roti tidak beragi dan membersihkan rumah mereka dari semua produk yang menggunakan ragi gandum dan chametz, seperti roti, sereal, kue kering, dan pasta. Mereka juga tidak akan mengonsumsi jagung, beras, dan juga kacang-kacangan.
5. Hari Raya Idul Fitri, Masyarakat Pemeluk Agama Islam
Setelah berpuasa selama 30 hari, masyarakat pemeluk agama Islam akan merayakan Hari Raya Idul Fitri atau yang dikenal pula sebagai Ramadhan. Ramadhan menjadi momen penanda kemenangan bahwa manusia dapat menaklukkan hawa nafsu dan kembali kepada fitrah atau yang berarti kembali suci karena dosanya telah diampuni.
Di Indonesia, Hari Raya Idul Fitri dirayakan dengan bersilaturahmi ke sanak-saudara dan keluarga, serta kembali ke kampung halaman. Sehingga wajar saja jika pada masa musim jelang Lebaran, para pemeluk agama Islam baik di dalam negeri maupun yang di luar negeri akan berbondong-bondong pulang kampung (mudik).
