Kumparan Logo

Anies Ubah Nama Kota Tua Jadi Batavia, Begini Sejarahnya

kumparanTRAVELverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi senja di Kota Tua Jakarta Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi senja di Kota Tua Jakarta Foto: Shutter Stock

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan secara resmi mengubah nama kawasan Kota Tua menjadi Batavia. Penggantian nama Kota Tua dilakukan usai rampungnya revitalisasi di kawasan tersebut.

Nama Batavia diambil sesuai aslinya terdahulu. Batavia disebut Anies sebagai tempat yang penuh sejarah.

"Jadi ini adalah pembukaan kembali Kota Tua Jakarta. Kawasan Kota Tua ini kita namai kawasan Batavia sebagaimana nama aslinya dulu," kata Anies kepada wartawan usai meresmikan pembukaan kembali Kota Tua beberapa waktu lalu.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan sambutan dalam pembukaan Festival Batavia Kota Tua di Jakarta, Jumat (26/8/2022). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Ada alasan kenapa orang nomor satu di Jakarta tersebut mengganti nama Kota Tua menjadi Batavia. Menurutnya, pengunjung yang datang ke sana bukan untuk melihat masa lalu, tapi juga untuk melihat masa depan kota modern yang ditempatkan di kawasan paling tua.

Jadi, tambah Anies, mendatangi Kota Tua kayaknya mengunjungi kawasan tua untuk melihat masa depan. Ia pun berharap nantinya lebih banyak lagi kawasan-kawasan di Jakarta yang seperti Kota Tua.

Pekerja menyelesaikan proses revitalisasi trotoar di kawasan wisata Kota Tua, Jakarta, Selasa (2/8/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

"Apa itu masyarakat modern sebuah kota? Masyarakat yang mengandalkan transportasi umum, masyarakat yang menjalankan mobilitas bebas emisi, karena itu di tempat ini dibangun fasilitas sepeda untuk kendaraan bebas emisi, untuk pejalan kaki di antara gedung-gedung bersejarah," ujar dia.

Lebih lanjut, Anies juga menjelaskan bahwa selain modern, Kota Tua juga dikonsep untuk ramah pejalan kaki dan sepeda. Sehingga datang ke Kota Tua tidak ada strata, semua setara.

Pekerja menyelesaikan proyek revitalisasi pedestrian di kawasan Kota Tua, Jakarta, Selasa (5/7/2022). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

"Itulah sebabnya mengapa kita ubah menjadi kawasan pejalan kaki dan kita harapkan dengan begitu perjalanan di Kota Tua menjadi pengalaman, karena mereka menyaksikan kawasan yang unik di mana masa lalu dan masa depan dikombinasikan, itulah konsep yang diterapkan di dalam membangun kawasan Batavia ini," ujar Anies.

Lalu seperti apa asal usul nama Batavia yang kini digunakan untuk menggantikan Kota Tua? Yuk, simak ulasannya.

Asal-usul Nama Batavia, Pengganti Kota Tua

Pelabuhan Sunda Kelapa. Foto: Astarik/Shutterstock

Dilansir dari situs Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Batavia atau Batauia adalah sebuah nama yang diberikan oleh orang Belanda pada koloni dagang yang sekarang tumbuh menjadi Jakarta, ibu kota Indonesia.

Batavia didirikan di pelabuhan Jayakarta yang sebelumnya direbut dari kekuasaan Kesultanan Banten.

Sebelum dikuasai Banten, bandar atau pelabuhan tersebut dikenal sebagai Sunda Kalapa atau Kalapa yang merupakan salah satu titik perdagangan Kerajaan Sunda.

Dari kota pelabuhan inilah Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) mengendalikan perdagangan dan kekuasaan militer dan politiknya di wilayah Nusantara.

Nama Batavia sendiri dipakai sejak tahun 1621 sampai tahun 1942, ketika Hindia-Belanda jatuh ke tangan Jepang. Batavia diambil dari nama sebuah suku yaitu suku Germanik yang bermukim di tepi sungai Rhein pada zaman Kekaisaran Romawi.

Nah, Bangsa Belanda dan sebagian bangsa Jerman adalah keturunan dari suku ini.

Batavia Juga Pernah Jadi Nama Sebuah Kapal

Galangan VOC di Penjaringan, Jakarta Utara Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan

Menariknya, Batavia juga menjadi sebuah nama kapal buatan Belanda (VOC) yang dibuat pada 29 Oktober 1628. Kapal yang dinakhodai Kapten Adriaan Jakobsz tersebut merupakan kapal layar tinggi yang cukup besar.

Meski demikian, tidak diketahui secara pasti dari mana asal-usul nama Batavia. Entah dari nama kapal tersebut atau bahkan sebaliknya.

Yang jelas, pihak VOC pernah menggunakan nama Batavia untuk menamai kapalnya.

Kapal tersebut akhirnya kandas di pesisir Beacon Island, Australia Barat. Dan seluruh awaknya yang berjumlah 268 orang berlayar dengan perahu sekoci darurat menuju kota Batavia ini.

Sejarah Nama Batavia

Pengunjung berwisata di Museum Sejarah Jakarta, kompleks Kota Tua, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Gubernur Jenderal VOC yang pertama, Pieter Both, lebih memilih Jayakarta sebagai basis administrasi dan perdagangan VOC daripada pelabuhan Banten. Hal itu dikarenakan kala itu Banten telah banyak kantor pusat perdagangan orang-orang Eropa lain seperti Portugis, Spanyol kemudian juga Inggris, sedangkan Jayakarta masih merupakan pelabuhan kecil.

Pada tahun 1611 VOC mendapat izin untuk membangun satu rumah kayu dengan fondasi batu di Jayakarta, sebagai kantor dagang.

Kemudian mereka menyewa lahan sekitar 1,5 hektar di dekat muara di tepi bagian timur Sungai Ciliwung, yang menjadi kompleks perkantoran, gudang dan tempat tinggal orang Belanda, dan bangunan utamanya dinamakan Nassau Huis.

Ketika Jan Pieterszoon Coen menjadi Gubernur Jenderal (1618-1623), ia mendirikan lagi bangunan serupa Nassau Huis yang dinamakan Mauritius Huis, dan membangun tembok batu yang tinggi, di mana ditempatkan beberapa meriam.

Tak lama kemudian, ia membangun lagi tembok setinggi 7 meter yang mengelilingi areal yang mereka sewa, sehingga kini benar-benar merupakan satu benteng yang kokoh, dan mulai mempersiapkan untuk menguasai Jayakarta.

Dari basis benteng ini, pada 30 Mei 1619 Belanda menyerang Jayakarta, yang memberi mereka izin untuk berdagang, dan membumihanguskan keraton serta hampir seluruh pemukiman penduduk.

Berawal hanya dari bangunan separuh kayu, akhirnya Belanda menguasai seluruh kota. Semula Coen ingin menamakan kota ini sebagai Nieuwe Hollandia, namun de Heeren Seventien di Belanda memutuskan untuk menamakan kota ini menjadi Batavia, untuk mengenang bangsa Batavieren.

Jan Pieterszoon Coen menggunakan semboyan hidupnya "Dispereert niet, ontziet uw vijanden niet, want God is met ons" menjadi semboyan atau motto kota Batavia, singkatnya "Dispereert niet" yang berarti "Jangan putus asa".

Pada 4 Maret 1621, pemerintah Stad Batavia (kota Batavia) dibentuk. Jayakarta dibumiratakan dan dibangun benteng yang bagian depannya digali parit.

Di bagian belakang dibangun gudang juga dikitari parit, pagar besi dan tiang-tiang yang kuat. Selama 8 tahun kota Batavia sudah meluas 3 kali lipat.

Pembangunannya selesai pada tahun 1650. Kota Batavia sebenarnya terletak di selatan Kastil yang juga dikelilingi oleh tembok-tembok dan dipotong-potong oleh banyak parit.

Beberapa persetujuan bersama dengan Banten (1659 dan 1684) dan Mataram (1652) menetapkan daerah antara Cisadane dan Citarum sebagai wilayah kompeni. Baru pada akhir abad ke-17 daerah Jakarta sekarang mulai dihuni orang lagi, yang digolongkan menjadi kelompok budak belian dan orang pribumi yang bebas.

Pada 1 April 1905 nama Stad Batavia diubah menjadi Gemeente Batavia. Pada 8 Januari 1935 nama kota ini diubah lagi menjadi Stad Gemeente Batavia.

Setelah pendudukan Jepang pada tahun 1942, nama Batavia diganti menjadi "Jakarta" oleh Jepang untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II.