kumparan
4 November 2018 13:03

Cerita di Balik Tradisi Kumari, Dewi yang Melindungi Masyarakat Nepal

Dewi Kumari dalam Dirga Puja 2018
Dewi Kumari dalam Dirga Puja 2018 (Foto: Flickr/Ramakrishna Math and Ramakrishna Mission)
Masyarakat Nepal percaya bahwa kehidupan mereka dilindungi, dijaga, dan diawasi oleh seorang dewi yang bernama Dewi Taleju. Dewi Taleju kemudian bereinkarnasi dalam sosok seorang anak perempuan yang belum mengalami pubertas, yang dijuluki Kumari.
ADVERTISEMENT
Sejak masa pemerintahan Dinasti Malla, setiap kota yang berada di Kathmandu Valley, Nepal, memiliki seorang Kumari. Selama berabad-abad masyarakat Nepal di Kathmandu memuja anak perempuan yang menjadi sosok Kumari. Bahkan tak jarang, pemimpin dari berbagai negara datang beribadah dan memujanya sembari meminta restu saat hendak membuat peraturan baru.
Patung Dewi Kumari
Patung Dewi Kumari (Foto: Flickr/Ramakrishna Math and Ramakrishna Mission)
Tradisi memilih dan memuja Kumari berawal pada abad 12-17 Masehi oleh Raja Jayaprakash Malla yang memimpin Dinasti Malla. Sebutan Kumari berasal dari bahasa Sansekerta yang digunakan masyarakat adat Newar di Kathmandu Valley, yang berarti Putri.
Dulunya Kumari dipilih oleh ratu yang memerintah, namun saat ini wewenang dalam memilih Kumari diberikan kepada kepala pendeta. Kumari digambarkan sebagai sosok perempuan yang memiliki tiga mata, dua di sisi kiri dan kanan, dan satu lagi di tengah keningnya.
Dewi Kumari dalam Dirga Puja 2018
Dewi Kumari dalam Dirga Puja 2018 (Foto: Flickr/Ramakrishna Math and Ramakrishna Mission)
Anak-anak perempuan yang menjadi Kumari umumnya berusia mulai dari dua tahun. Masa hidupnya menjadi Kumari nantinya akan berhenti begitu ia mengalami menstruasi. Ketika para Kumari mengalami pubertas, maka para pendeta harus menggantinya dengan anak perempuan lain.
ADVERTISEMENT
Masyarakat Nepal percaya bahwa kesucian dan kemurnian Kumari akan langsung berakhir, begitu ia mengalami pendarahan pertama. Karena Dewi Taleju meninggalkan tubuh Kumari di hari menstruasi pertamanya, dan Kumari pun akan berubah kembali menjadi manusia biasa.
Cara pemilihannya pun terhitung unik, anak-anak perempuan yang masih batita, dikumpulkan dalam sebuah kamar yang gelap dan disuruh untuk berdoa. Kemudian para pendeta akan mencari pertanda yang disebut sebagai Battis Lakshanas atau 39 ciri kesempurnaan fisik.
Beberapa ciri yang dicari dari anak-anak perempuan yang menjadi calon Kumari adalah paha yang seperti paha rusa, dada bidang layaknya singa, dan bulu mata seperti yang dimiliki sapi. Selain itu, Kumari yang terpilih biasanya tidak memiliki noda atau bekas luka dalam tubuh mereka.
Kaki Kumari yang tidak boleh menginjak tanah
Kaki Kumari yang tidak boleh menginjak tanah (Foto: Flickr/Ramakrishna Math and Ramakrishna Mission)
Untuk menjaga kesucian dan kemurnian anak-anak yang menjadi interpretasi sang Dewi yang hidup, kaki Kumari tidak diperbolehkan menyentuh tanah, meski hanya sekejap. Selain itu, ia juga tidak diperbolehkan untuk berbicara kepada orang lain, apalagi orang asing. Ia hanya diperbolehkan berbicara dengan keluarga intinya saja.
ADVERTISEMENT
Sebagai seorang Kumari, anak-anak perempuan tersebut tidak diperbolehkan meninggalkan singgasananya. Mereka harus selalu berada di tempat duduknya ketika orang-orang datang untuk berdoa dan beribadah.
Satu-satunya kesempatan Kumari untuk keluar dari candinya adalah ketika penduduk Nepal merayakan festival keagamaan. Karena pada saat festival keagamaan, Kumari 'bertugas' untuk mengawasi jalannya acara.
Kumari dalam kereta kencana sedang diarak menuju festival
Kumari dalam kereta kencana sedang diarak menuju festival (Foto: Flickr/socialtours nepal)
Salah satu acara festival ternama di Nepal yang bisa kamu datangi adalah Bhotto Jatra. Yaitu, puncak dari festival yang telah berlangsung selama sebulan penuh yang berguna untuk meminta hujan dan belas kasih dari Tuhan. Festival ini juga bisa menjadi salah satu kesempatanmu untuk melihat langsung Kumari.
Kumari akan datang dengan menggunakan kereta kencana yang berbentuk seperti tandu berwarna emas. Tandu itu dibawa oleh beberapa pria dewasa sambil diarak menuju venue, tempat festival berlangsung. Di dalam tandu, Kumari duduk sambil mengamati kerumunan penduduk yang berkumpul dan menikmati seluruh rangkaian festival.
Bhoto Jatra, Festival di Nepal
Bhoto Jatra, Festival di Nepal (Foto: Wikimedia Commons)
Para pengunjung yang datang untuk melihat dan menikmati Bhotto Jatra biasanya juga akan menyempatkan diri untuk berdoa bersama dengan anak-anak mereka sembari meminta berkat dari Kumari.
ADVERTISEMENT
Tak lupa, setelah berdoa mereka juga akan meninggalkan persembahan di nampan yang menjadi tempat menapaknya kaki Kumari. Persembahan itu biasanya berbentuk uang, baik kertas maupun logam.
Dewi Kumari bersama para biksu
Dewi Kumari bersama para biksu (Foto: Flickr/Ramakrishna Math and Ramakrishna Mission)
Meski menjadi tradisi turun-temurun yang bukan hanya dipercaya, tetapi juga dijaga keberadaannya oleh setiap kelompok masyarakat Nepal, ternyata tradisi Kumari mendapat tentangan dari aktivis pemerhati perempuan dan anak-anak.
Para aktivis menyayangkan masa kanak-kanak yang tidak bisa dinikmati oleh anak-anak perempuan yang menjadi Kumari. Pasalnya waktu mereka hanya dipakai untuk duduk dan memberkati, sementara mereka tidak bisa bermain dengan anak-anak seusianya, berkomunikasi dengan orang lain, dan mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Sehingga tak jarang, ada Kumari yang merasakan kesulitan saat posisi mereka mesti digantikan oleh Kumari lainnya. Di mana mereka tidak lagi mendapat puja-puji dari masyarakat sekitar dan mesti bersosialisasi bersama masyarakat di sekitarnya selayaknya manusia pada umumnya.
ADVERTISEMENT
Bagaimana pendapatmu tentang tradisi Kumari di Nepal ini? Adakah tradisi lainnya dalam budayamu yang memiliki kesamaan?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan