Cerita Petani Boyolali Sulap Sawah Jadi Ramah Lingkungan, Lebih Subur-Hemat Air
·waktu baca 3 menit

Sejumlah petani di Boyolali mulai menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan, melalui metode regenerative agriculture atau pertanian regeneratif. Metode ini diterapkan untuk menjaga kesuburan tanah, mengurangi penggunaan pupuk kimia, hingga menjaga keberlanjutan sumber air.
Kepada kumparan, salah satu petani penggerak regenerative agriculture, Lilik, menceritakan pengalamannya menerapkan pertanian yang ramah lingkungan.
Menurutnya, sistem pertanian ini bertujuan mengembalikan kesuburan tanah, sekaligus menjaga ekosistem pertanian agar tetap berkelanjutan.
“Sistem pertanian ini bertujuan menyuburkan kembali tanah dan menjaga kelestarian hayati, untuk mendukung keberlanjutan pertanian itu sendiri,” ujar Lilik, dalam sesi diskusi bareng media yang digelar di Boyolali, Selasa (6/5).
Menurutnya, tanah yang sehat akan membuat tanaman lebih kuat dan mampu menyimpan air lebih baik. Ia menyebut penambahan bahan organik membuat tanah bekerja seperti spons yang mampu menahan air saat musim kemarau.
“Dengan bahan organik, tanah bisa menyimpan air lebih baik. Jadi, saat kekeringan, tanah masih punya daya simpan air,” katanya.
Kurangi Ketergantungan Pupuk Kimia
Dalam praktiknya, para petani mulai mengurangi, bahkan melepaskan ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia sintetis. Mereka membuat pupuk organik dan pengendali hama dari bahan-bahan alami di sekitar lahan.
Beberapa bahan yang digunakan di antaranya rumput, air kelapa, hingga pisang yang difermentasi menjadi pupuk cair organik.
“Semua bahan ini dibuat sendiri dari sekitar lahan pertanian. Rumput misalnya, itu kuat menghadapi cuaca panas maupun hujan. Senyawanya kita manfaatkan supaya tanaman lebih tahan terhadap perubahan iklim,” jelas Lilik.
Lilik juga memperlihatkan perbedaan tingkat kesuburan tanah antara sawah yang sudah menerapkan regenerative agriculture dengan sawah konvensional. Menurutnya, tanah yang menggunakan metode regeneratif memiliki kandungan ion dan mikroorganisme lebih tinggi, sehingga lebih subur.
Selain pengelolaan tanah, metode ini juga mengubah pola irigasi. Jika sistem konvensional membuat sawah terus tergenang, regenerative agriculture justru menerapkan pengairan berselang.
“Ada kalanya sawah dikeringkan, ada kalanya diairi. Jadi, manajemen air lebih efisien dan petani tidak lagi rebutan air,” katanya.
Tantangan Petani: Awalnya Sulit
Petani lainnya, Mbah Yono, mengaku perubahan dari pertanian berbasis kimia menuju pertanian sehat tidak mudah dilakukan.
“Petani itu untuk berubah dari sistem kimia menjadi sehat tidak gampang. Karena kalau kimia caranya lebih mudah dan praktis,” ujarnya.
Meski begitu, ia tetap memilih beralih, karena khawatir penggunaan bahan kimia terus-menerus dapat merusak tanah dan berdampak pada kesehatan generasi berikutnya.
“Kita kasihan sama anak cucu. Kalau terus pakai yang tidak sehat lama-lama tanah rusak,” katanya.
Apalagi, wilayah pertanian di kawasan tersebut relatif tidak pernah mengalami kekeringan, karena memiliki banyak sumber air alami.
“Di sini air melimpah, musim kemarau pun tidak ada masalah,” ujar Mbah Yono.
Padi Tahan Kekeringan
Tak hanya mengubah metode tanam, para petani juga mulai mengembangkan varietas padi yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Lilik mengatakan saat ini mereka tengah mengembangkan dua galur padi bernama Sri Rama dan Joko Tarub. Kedua varietas itu dirancang memiliki daya tahan lebih baik terhadap cuaca ekstrem dan tetap memiliki produktivitas tinggi.
“Kita ingin menghasilkan varietas yang tahan kekeringan, cepat panen, dan hasilnya tinggi,” tuturnya.
Dari sisi hasil panen, Lilik menyebut beras yang dihasilkan melalui metode regenerative agriculture memiliki rasa lebih pulen, dan daya simpan lebih lama dibanding beras biasa.
“Kalau nasi biasa mungkin cepat basi, ini bisa lebih tahan lama. Jadi, kalau misalkan sehari itu bisa basi, ini bisa dua hari tidak basi,” ujar Lilik.
Program pertanian regeneratif ini juga dikaitkan dengan upaya menjaga kualitas air, dan mengurangi pencemaran lingkungan di wilayah hilir.
Melalui pengurangan penggunaan bahan kimia, petani diharapkan dapat menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus keberlanjutan sumber air di kawasan pertanian.
