Dihantam Corona, Maskapai EasyJet Bakal PHK 4.500 Pegawai

Pandemi COVID-19 atau virus corona membuat industri penerbangan terpukul. Bisnisnya tak jalan karena operasional dibatasi. Jumlah penumpang pun anjlok.
Bahkan, beberapa maskapai di berbagai negara berencana memangkas ribuan pekerjanya karena tak mampu bertahan. Salah satunya adalah maskapai EasyJet. Maskapai yang berbasis di London ini memang sudah memutuskan untuk tak menerbangkan pesawat sejak Maret 2020 karena COVID-19.
Mereka juga telah membatalkan seluruh penerbangan di masa pandemi virus corona. Dilansir BBC, EasyJet berencana memangkas karyawannya hingga 4.500 orang. Keputusan itu diambil oleh manajemen EasyJet sebagai dampak virus Corona.
Sebelumnya, EasyJet telah mengumumkan bakal mengurangi jumlah karyawan hingga 30 persen dari 1.900 karyawan dengan di antaranya 727 pilot. Manajemen beralasan perlu mengurangi karyawan untuk "mengoptimalkan jaringan dan pangkalan" sebagai imbas dari pandemi.
"Sayangnya permintaan yang lebih rendah membuat kami hanya bisa mengoperasikan lebih sedikit pesawat dan memiliki lebih sedikit kesempatan untuk bekerja untuk orang-orang kami," kata CEO EasyJet, Johan Lundgren, seperti dikutip BBC.
“Kami berkomitmen untuk bekerja secara konstruktif dengan perwakilan karyawan kami di seluruh jaringan dengan tujuan meminimalkan kehilangan pekerjaan sejauh mungkin,” kata Lundgren lagi.
Meskipun EasyJet telah memulai penerbangannya lagi, mereka tidak berpikir bahwa tingkat permintaan akan sampai pada angka yang sama di tahun 2019 lagi hingga 2023 mendatang. Maskapai penerbangan tersebut juga menutup sejumlah hub di Inggris.
Namun, Sekretaris Jenderal Balpa, Brian Stratton mengatakan, tindakan EasyJet sangat berlebihan. Menurutnya, seharusnya EasyJet membuat langkah-langkah sementara untuk membantu pemulihan perusahaan. Ke depannya EasyJet akan kesulitan saat situasi kembali normal.
“EasyJet tidak akan menemukan persediaan pilot yang menunggu untuk kembali ketika pemulihan berlangsung selama dua tahun ke depan,” ujar Stratton.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Bapla, asosiasi Pilot Maskapai Penerbangan Inggris, Brian Srutton, menyebut tindakan EasyJet itu berlebihan. Srutton mengatakan bahwa pihaknya berharap EasyJet mengambil langkah-langkah sementara sebagai upaya untuk memulihkan krisis yang sedang dialami maskapai tersebut.
Dia menilai keputusan untuk melepas 4.500 karyawan itu sebagai reaksi berlebihan. Langkah itu diprediksi bakal menyulitkan EasyJet karena mereka bakal kesulitan untuk mendapatkan menemukan persediaan pilot setelah situasi pulih kembali yang diprediksi dua tahun yang akan datang.
Bos EasyJet Sir Stelios Haji-Ioannou akan menerbangkan EasyJet lagi mulai 1 Juli. Mereka akan menerbangkan sekitar 75 persen pesawat hingga Agustus. Maskapai easyJet menyebut mereka akan mengoperasikan 500 pesawat per hari melintasi Eropa dan lebih dari 900 pesawat per pekan dari dan ke Inggris.
Laporan Hutri Dirga Harmonis
******
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
