kumparan
16 Juli 2019 15:58

Garuda Indonesia Imbau Tak Ambil Foto di Pesawat, Apa Kata Traveler?

Ilustrasi ambil foto dalam pesawat
Ilustrasi ambil foto dalam pesawat Foto: Shutter Stock
Garuda Indonesia mengeluarkan surat imbauan bagi traveler dan awak kabin untuk tidak mengambil gambar saat berada di pesawat tanpa persetujuan dari pihak terkait. Baik dari maskapai penerbangan maupun penumpang dalam pesawat.
ADVERTISEMENT
Dalam keterangan resmi yang diterima kumparan dari VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, M. Ikhsan Rosan, Selasa (16/7), imbauan ini diberikan untuk memastikan seluruh operasi penerbangan memenuhi aturan perundang-undangan yang berlaku.
Surat imbauan larangan foto di dalam pesawat Garuda Indonesia (NOT COVER)
Surat imbauan larangan foto di dalam pesawat Garuda Indonesia. Foto: Dok. Istimewa
Hal ini juga diakui Garuda Indonesia sebagai wujud komitmen dan upaya maskapai untuk melindungi hak kenyamanan dan privasi penumpang maupun awak kabin. Walau begitu, penumpang masih diberikan kesempatan untuk mengabadikan momen perjalanannya dengan berswafoto asalkan tidak mengganggu penumpang lainnya.
Imbauan ini kemudian menuai beragam reaksi dari warganet di Twitter. Ada yang menjadikannya sebagai bahan guyonan, namun ada pula yang menyalahkan langkah Garuda Indonesia tersebut karena dianggap tidak tahan dikritik.
Anggapan tak tahan kritik yang dilontarkan oleh warganet diduga akibat viralnya unggahan reviewer bernama akun Instagram @rius.vernandes yang memperlihatkan menu makanan yang dicatat dalam secarik kertas. Viralnya unggahan tersebut kemudian berbuntut pelaporan Rius Vernandes dan pasangannya Elwina oleh Garuda Indonesia atas dugaan tindak pidana pencemaran nama baik
ADVERTISEMENT
Lantas, apa kata traveler menanggapi imbauan tidak mengambil gambar dalam pesawat yang dikeluarkan oleh Garuda Indonesia tersebut?
Komit-Up, Pulau Bidadari
Marischka Prudence, pembicara di kumparan Komit-Up berpose di Pulau Bidadari. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Marischka Prudence, travel blogger yang memiliki pengikut sebanyak 110 ribu dalam akun Instagramnya ini mengatakan bahwa larangan mengambil foto atau video seluruh aktivitas di pesawat adalah hal yang berlebihan.
Ia juga beranggapan bahwa penumpang pesawat atau pelanggan, memiliki hak untuk memberikan input, baik secara halus maupun tajam. Wanita yang akrab disapa Prue ini juga mengatakan bahwa maskapai lainnya juga biasanya memberikan kesempatan bagi penumpang untuk mengambil gambar, kecuali awak kabin.
"Biasanya yang enggak boleh itu kalau ambil foto atau video awak kabin atau penumpang lain, urusannya sama privacy, kan. Kalau mau ambil video atau foto awak kabin, baiknya minta izin dulu. Tapi kalau semua dokumentasi dilarang, apalagi setelah kejadian Rius, jadi terkesan arogan dan enggak mau terima kritik banget, bukannya memperbaiki diri," katanya saat dihubungi kumparan, Selasa (16/7).
ADVERTISEMENT
Menurut wanita yang senang diving ini, larangan mengambil gambar awak kabin sudah menjadi unwritten rules, sehingga kamu mesti meminta izin terlebih dahulu. Namun, ia setuju jika imbauan tidak mengambil gambar diterapkan saat keadaan darurat, sehingga dapat mempercepat jalannya evakuasi.
"Logikanya, kan, biar enggak mengganggu proses pas emergency situation, dan ini kaya plin plan aja sih Garuda. Mereka dulu banyak bikin live music di pesawat, kegiatan apalah di dalam pesawat yang tentu jadi bikin org ambil foto atau video.
Tapi tiba-tiba enggak boleh. Jadi kayak enggak bisa terima kritik, padahal orang-orang bangga sama Garuda, makanya kalau ada penurunan kualitas atau apapun, paling cepat bereaksi," jelasnya.
Trinity
Trinity di kantor kumparan. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Sama seperti Marischka Prudence, Trinity yang menulis serial buku perjalanan "The Naked Traveler" dan terhitung memiliki intensitas tinggi dalam penerbangan mengungkapkan bahwa keputusan ini dianggap terlalu terburu-buru. Meskipun sebenarnya secara pribadi, ia tidak merasa tidak dirugikan dengan adanya imbauan itu.
ADVERTISEMENT
"Secara pribadi sih enggak, tapi sungguh keputusan yang memalukan dan dibuat terburu-buru, karena reaktif terhadap kejadian yang sebenarnya nyata. Enggak pernah ada maskapai di dunia ini yang tidak memperbolehkan foto," katanya pada kumparan saat dihubungi pada Selasa (16/7).
Hal yang sama juga diungkapkan Ratmia Dewi yang berprofesi sebagai jurnalis di sebuah perusahaan swasta Indonesia yang berbasis di Jakarta. Menurutnya, imbauan tidak mengambil gambar dalam pesawat merupakan peraturan yang tidak penting.
"Karena itu, kan, hak (penumpang) yang belum tentu mengganggu kenyamanan orang lain. Bisa juga mengganggu, sih, sebenarnya, tapi menurut aku, foto di pesawat enggak bakal (bisa) se-annoying itu," ungkap Mia saat bertemu kumparan, Selasa (16/7).
Sementara itu, Syanti Mustika, seorang pegawai swasta yang doyan traveling mengatakan bahwa imbauan ini walau tak terlalu mengganggu perjalanannya secara personal, tetapi sebagai warganet, ia merasa kebebasannya terenggut.
ADVERTISEMENT
"Lah, kan, suka-suka kita, ya, mau foto atau gimana. Toh, kita juga bayar tiket dan mengikuti semua prosedur untuk sampai ke dalam (pesawat). Enggak terbang gratis juga," kata wanita asal Padang ini.
Tidak hanya Syanti yang merasa dirugikan, Evy Priliana Susanti yang bekerja dalam dunia jalan-jalan sebagai travel photograper juga berpendapat sama. Baginya, mengambil foto maupun video saat terbang merupakan cara penumpang untuk mengabadikan sesuatu.
"Kalau untuk aturan dilarang memotret di dalam pesawat, aku enggak setuju! Karena, sebagai penumpang, boleh dong ingin punya rekaman atau kenangan waktu naik pesawat. Apalagi hanya dari pesawatlah, kita bisa motret awan dan pemandangan dari ketinggian, kecuali punya drone, yang ketinggian terbangnya pun terbatas," kata Evy.
Belajar Fotografi
Mau jadi fotografer andal? Foto: Pixabay
Setali tiga uang dengan traveler lainnya, Wahyu Nur Fahrurozi juga mengatakan hal yang sama. Pria yang bekerja sebagai travel potographer itu mengatakan bahwa ia sangat menyayangkan keputusan Garuda Indonesia. Apalagi sebenarnya mengambil foto dari dalam pesawat bisa menjadi cara maskapai untuk branding atau mempromosikan diri.
ADVERTISEMENT
"Saya sangat menyayangkan. Di era media sosial sekarang setiap penumpang dan pengguna jasa bisa menjadi marketing yang baik untuk perusahaan. Harusnya bila ada masukan, Garuda berbenah lebih baik. Bukan hanya melarang. Padahal banyak sekali dampak positif yang bisa diambil. Bukan malah melarang sama sekali," pungkasnya.
Kalau kamu, termasuk yang setuju atau tidak dengan imbauan tidak mengambil foto maupun video yang diberikan oleh Garuda Indonesia?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan