Imbas PPKM Skala Mikro, Okupansi Hotel di Jakarta Stagnan
ยทwaktu baca 2 menit

PPKM Skala Mikro kembali diberlakukan pemerintah guna menekan naiknya angka kasus COVID-19. Hal itu ternyata berdampak pada tingkat keterisian kamar (okupansi) hotel di Jakarta.
Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran, mengatakan okupansi hotel di Jakarta berada di posisi yang sama atau stagnan alias di situ-situ saja.
"Dari segi okupansi itu pergerakannya masih seperti itu saja. Kalau dikatakan menurun-menaik itu kita masih dalam tahap yang sama. Sekitar 30-40 persen di Jakarta," kata Maulana saat dihubungi kumparan, Senin (28/6).
Maulana menjelaskan diberlakukannya kembali PPKM Mikro membuat seluruh kegiatan di hotel menjadi terbatas. Ada banyak kegiatan yang sebelumnya diperbolehkan untuk dilakukan kini tidak bisa dilakukan.
"Sebenarnya pada prinsipnya PPKM Mikro itu pengaruhnya terhadap kegiatan (di hotel). Yang paling utama karena kan memang sekarang banyak yang dibatasi, pertemuan, wedding-kan dibatasi itu sumber utama yang terdampak," ujarnya.
PPKM Skala Mikro dan Dampaknya Terhadap Industri Hotel dan Restoran
Maulana mengatakan, PPKM Skala Mikro yang diberlakukan membuat para pengusaha hotel dan restoran kembali berada di posisi sulit. Ia mengatakan bahwa hal ini tentu berdampak para pengusaha hotel dan restoran itu sendiri.
"Situasinya rumit, kalau ditanya kita mendukung atau tidak (PPKM Mikro) tentu kita mendukung karena situasinya semakin rumit. Namun, perlu dipahami situasi rumit seperti ini akan terus memukul daya tahan bisnis hotel dan restoran, tidak hanya bisnisnya tetapi lapangan pekerjaannya," paparnya.
Menurutnya, jika hal ini terjadi terus menerus bukan tidak mungkin industri hotel akan mengalami kelumpuhan. Sebab, banyak hotel yang mungkin tidak bisa bertahan.
"Kalau enggak ada win-win solution yang diselesaikan otomatis sektor usaha hotel akan jadi sektor usaha yang lumpuh permanen nantinya karena memang untuk dikatakan mereka bertahan mereka sudah sulit untuk bertahan karena situasinya kan sudah panjang dan yang paling menjadi korban itu pasti tenaga kerja. Kalau perusahaannya sudah tidak sehat bagaimana dia membiayai tenaga kerjanya sekarang sudah repot apalagi ada pengurangan pendapatan," ungkap Maulana.
Oleh sebab itu, ia pun berharap bahwa masyarakat dapat menerapkan protokol kesehatan ketat. Sehingga, angka kasus COVID-19 dapat ditekan.
"Nah ini kan mesti ada perubahan yang masif di masyarakat bagaimana menerapkan prokes dan seterusnya," pungkasnya.
***
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
