kumparan
Food & Travel3 Februari 2018 14:06

Indahnya Desa Penglipuran, Desa Terbersih di Dunia

Konten Redaksi kumparan
Desa Penglipuran
Desa Penglipuran (Foto: Instagram @juliusiregar)
Rasanya semua setuju jika Bali menjadi tempat favorit untuk berlibur. Tak hanya wisatawan lokal, Pulau Seribu Pura ini juga di gilai oleh wisatawan domestik.
ADVERTISEMENT
Pantainya yang indah, budaya yang kental, masyarakatnya yang ramah hingga kuliner yang lezat pun menjadi alasan mengapa Bali begitu dicintai.
Saking indahnya, salah satu desa di Bali bahkan pernah disorot karena berhasil meraih predikat sebagai desa terbersih di dunia. Desa Penglipuran namanya. Desa yang terletak di Bangli ini resmi menjadi desa wisata sejak 1993 silam.
Dengan total luas 112 hektar yang terdiri dari 12 hektar area rumah penduduk, 49 hektar ladang dan 37 hektar hutan bambu, desa wisata ini dijamin dapat menarik perhatian siapapun yang berkunjung.
Desa Penglipuran bahkan pernah mendapat penghargaan Kalpataru dan menyabet predikat sebagai desa terbersih di dunia bersama desa di Belanda dan India pada 2016 silam.
ADVERTISEMENT
Perlu diketahui, penghargaan Kalpataru hanya diberikan kepada orang atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan di Indonesia.
Memang Penglipura masih sangat menjaga kehidupan tradisionalnya. Hal ini terlihat dari rumah-rumah warganya yang masih bergaya tradisional yang berderet rapi dari ujung ke ujung di jalanan yang menanjak. Jalanan itu sendiri terbuat dari batuan alam dan ditumbuhi bunga-bunga warna-warni.
Desa yang di huni sekitar 243 KK atau 986 jiwa ini menempatkan bangunan suci di hulu, perumahan di tengah, dan tempat usaha di hilir.
Motor dan mobil dilarang masuk ke sini, tentunya desa ini bebas dari polusi. Kendaraan yang dimiliki warga desa akan di taruh di garasi belakang rumah yang memiliki jalur berbeda.
ADVERTISEMENT
Berkat kesadaran masyarakat yang sangat menjaga lingkungan tak ada sampah yang terlihat. Selain memang dilarang untuk membuang smapah sembarangan, desa ini juga menyediakan bak sampah di setiap sudutnya.
Setiap bulannya, ibu-ibu setempat mengolah sampah dengan memisahkan antara sampah organik dan non organik. Kemudian mereka olah menjadi pupuk pada sampah organik. Sedangkan sampah non organik akan di tabung ke bank sampah yang dihargai Rp 200 rupiah per kilogram.
Bahkan untuk masalah rokok pun masyarakatnya sangat perhatian. Mereka yang ingin merokok tak boleh sembarang. Perokok harus pergi ke tempat khusus yang disediakan untuk merokok.
Untuk masalah perkawinan pun mereka juga mengaturnya. Desa ini melarang wargaya untuk melakukan poligami. Selain itu pantang untuk menikahi tetangga yang berada di kanan, kiri dan depan rumah.
ADVERTISEMENT
Jika tertarik untuk berkunjung, kamu perlu membayar Rp 15 ribu untuk biaya masuk ke Desa Penglipuran. Dengan ramah warganya akan menyambutmu dan menemani untuk berkeliling.
Tertarik berkunjung ke sini?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan