Kumparan Logo

Jadi Bagian Wisata Halal, Gunung Rinjani Akan Tutup Setiap Hari Jumat

kumparanTRAVELverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gunung Rinjani Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Gunung Rinjani Foto: Shutter Stock

Polemik pemisahan pendaki laki-laki dan perempuan di Gunung Rinjani mungkin telah usai. Akan tetapi, ada satu hal yang harus jadi perhatian para pendaki.

Pasalnya, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) berencana untuk menutup jalur pendakiannya setiap hari Jumat. Adapun, rencana penutupan tersebut akan dilakukan di jalur pendakian via Sembalun. Hal ini diungkapkan langsung oleh Kepala Taman Nasional Gunung Rinjani, Sudiyono.

"Jadi penutupan jalur pendakian pada hari Jumat atas usulan masyarakat Lombok Timur yang disampaikan pada rapat pembahasan pembukaan jalur dan yang menyampaikan Sekretariat Dinas Pariwisata Lombok Timur," ujar Sudiyono, saat dihubungi kumparan melalui sambungan telepon, Kamis (20/6).

embed from external kumparan

Lebih lanjut, Sudiyono menuturkan bahwa penutupan jalur tersebut tak terlalu dipermasalahkan oleh masyarakat sekitar.

"Reaksi dari masyarakat, ya, mendukung, dan tak mempermasalahkan hal itu. Jadi yang ditutup hanya Sembalun saja, atas permintaan masyarakat. Kami sedang menunggu keputusan tertulisnya dan rencananya akan diuji coba pada Jumat depan ini," tambahnya.

Menurut Sudiyono, penutupan ini dilakukan karena masyarakat menginginkan kawasan Gunung Rinjani menjadi bagian dari salah satu wisata halal.

"Mereka ingin wisata di Gunung Rinjani menjadi wisata yang halal dan salah satunya dengan menghormati hari Jumat, karena beberapa masyarakat di sana meyakini gempa disebabkan oleh tindakan-tindakan yang kurang menghormati adat-adat agama," tutur Sudiyono.

Gunung Rinjani Foto: Shutter Stock

Jika nantinya penutupan tersebut dilakukan, pihat BTNGR juga tak merasa kesulitan untuk mengatasinya, karena sistem e-ticketing sudah diberlakukan di Rinjani.

"Kalau menutup itu tidak terlalu sulit, karena sekarang, kan, sudah berlaku e-ticketing, jadi kuotanya kita bisa sesuaikan dengan kondisi lapangan. Jadi, kalau kita ingin tutup, kita tinggal zero (0) kan saja kuotanya, nanti otomatis orang enggak ada yang bisa beli tiket, tetapi hal ini perlu sosialisasi," pungkas Sudiyono.

Bagaimana menurutmu?