Jembatan Bosphorus, Sang Penghubung Benua Asia dan Eropa di Turki

Turki saat ini mulai menjadi salah satu negara yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, termasuk wisatawan dari Indonesia. Alamnya yang indah, memiliki bangunan bersejarah, hingga sensasi menikmati balon udara yang jarang ditemui di negara lain menjadi sederet hal yang bisa dinikmati di sana
Hal inilah yang membuat Turki kini mulai mencuri hati wisatawan. Namun, di balik hal-hal tersebut, Turki juga memiliki cerita menarik tentang letaknya yang berada di dua benua, Asia dan Eropa.
Negara yang berada di Timur Tengah itu memiliki luas mencapai 783.562 km persegi. Wilayahnya terbentang dari Semenanjung Anatolia di Asia Barat Daya dan daerah Balkan di Eropa Tenggara. Di balik posisinya yang ada di dua benua berbeda, ada 'sosok' penting yang menjadi penghubungnya.

Adalah Jembatan Bosphorus, sang penyatu dua benua itu. Jembatan ikonik ini menjadi penghubung antara Ortakoy di bagian Eropa dengan Beylerbeyi yang masuk wilayah Asia.
Keputusan membangun jembatan ini diambil oleh PM Adnan Menderes pada 1957. Sayangnya, impian itu baru tercapai 70 tahun kemudian.
Didesain oleh dua arsitek asal Inggris, Sir Gilbert Roberts dan William Brown, pembangunan jembatan dimulai pada Februari 1970. Tiga tahun kemudian, tepat saat peringatan 50 tahun Republik Turki, jembatan dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Presiden Fahri Koruturk, serta PM Naim Talu.

Jembatan Bosphorus memiliki tinggi 64 meter dari permukaan air, hal ini memudahkan kapal pesiar berukuran sedang melintas di bawahnya. Alhasil, kendaraan yang tengah melintas pun akan disuguhkan pemandangan kapal yang tengah berlayar.
Dikenal memiliki struktur aerodinamis, jembatan ini memiliki panjang mencapai 1.510 meter dan lebar 39 meter. Jika dicermati dari kejauhan, jembatan Bosphorus terlihat melengkung. Pada bagian tengahnya cembung ke atas sekitar 90 sentimeter.

Dengan tawaran panorama yang apik, jembatan Bosphorus hanya bisa dinikmati pengendara bermotor saja. Sedangkan pejalan kaki dilarang melintasi jembatan.
Sebenarnya, dahulu pejalan kaki bisa menikmati megahnya jembatan. Namun, pemerintah khawatir jembatan akan dijadikan lokasi bunuh diri, maka dari itu pemerintah pun melarangnya.

Kabar baiknya, khusus bulan Oktober saat event Istanbul Eurasia Marathon Intercontinentan digelar, para pejalan kaki bisa melintasi jembatan, sekaligus menjadi momen satu-satunya jembatan yang bisa dilewati pejalan kaki.
Tertarik untuk melintas ke benua seberang lewat jembatan ini?
