Kumparan Logo

La Sape, Fenomena Orang Miskin dengan Gaya Hidup Mewah di Kongo

kumparanTRAVELverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Le Sapeur di Kongo (Foto: Flickr/ilja smets)
zoom-in-whitePerbesar
Le Sapeur di Kongo (Foto: Flickr/ilja smets)

Negara-negara di Afrika kerap kali diasosiasikan dengan kemiskinan, terutama yang berada di kawasan Afrika Tengah seperti Republik Afrika Tengah, Kongo dan Republik Demokratik Kongo. Persoalan korupsi dan perang sipil seakan menutup fakta bahwa mereka sebenarnya negara yang kaya akan sumber daya.

Walau begitu, jangan heran jika kamu menemukan beberapa penduduk yang mengenakan pakaian mahal, mewah, dan berkelas di antara masyarakat yang serba kekurangan kala berkunjung ke Kongo.

Le Sapeur di Kongo (Foto: Flickr/ilja smets)
zoom-in-whitePerbesar
Le Sapeur di Kongo (Foto: Flickr/ilja smets)

Mereka yang bergaya perlente mengenakan busana dengan warna yang mencolok dan potongan yang pas terlihat sangat kontras dengan masyarakat di sekitarnya.

instagram embed

Bukan, mereka bukanlah si kaya raya yang bisa dijuluki sebagai Crazy Rich Africans. Mereka juga bukanlah model papan atas dengan pendapatan di atas rata-rata, tetapi mereka adalah Sapeur.

Sapeur adalah kalangan penggila mode yang mengusung gaya hidup mahal dan boros, terutama untuk pakaian. Kata 'Sapeur' merupakan penyebutan diri bagi penduduk Kongo yang melakukan gaya hidup mewah la Sape.

instagram embed

Terjadi secara turun-temurun, la Sape seakan telah menjadi salah satu subkultur masyarakat Kongo. Penganutnya beragam, mulai dari para pria dan wanita dewasa, remaja, hingga anak-anak.

Seakan menjadi tradisi, la Sape yang bukan berasal dari budaya asli masyarakat Kongo berhasil 'menggeser' eksistensi tradisi Kongo lainnya. Dilansir Aljazeera, la Sape bahkan dianggap lebih dari sekadar subkultur.

la Sape dilihat sebagai budaya Kongo yang mencolok dan mampu menembus berbagai dimensi, seperti: politik, seni, ekonomi, dan komunikasi. Karena politisi dan musisi menghormati fenomena ini, dan sapeur pun memiliki kelompok la Sape-nya tersendiri.

Le Sapeur di Kongo (Foto: Flickr/ilja smets)
zoom-in-whitePerbesar
Le Sapeur di Kongo (Foto: Flickr/ilja smets)

Sayang, fenomena la Sape ini menjadi 'pembunuh' tak terlihat bagi tradisi dan budaya asli Kongo. Charlie Schengen, pria paruh baya yang juga Sapeur di London menuturkan bahwa ia kehilangan identitas dirinya sebagai masyarakat Kongo.

''Tidak ada yang tersisa kecuali kebodohan. Tidak ada lagi yang ingin ke sekolah, orang-orang hanya ingin berbelanja pakaian. Orang-orang Kongo merasa malu mengenakan pakaian tradisional, di saat penduduk Afrika lainnya tidak. Kami kehilangan (identitas) Kongo karena la Sape," tuturnya.

instagram embed

la Sape berasal dari akronim bahasa Prancis, SAPE yang artinya Societe des Ambianceurs et des Personnes Elegantes. Istilah ini mengacu pada masyarakat Kongo yang dengan bangga mengenakan pakaian stylish, elegan dan berwarna-warni.

Tak cuma itu, pakaian yang dikenakan juga bukan sembarangan, tetapi berasal dari brand ternama seperti Louis Vuitton, Dolce & Gabbana, Gucci, Cartier, atau Givenchy.

Deretan pakaian bermerk ternama tersebut digunakan tidak sembarangan, tetapi mengikuti trend fesyen selayaknya model yang terpampang pada majalah mode Eropa.

instagram embed

Paham la Sape atau yang disebut juga sebagai Sapeurisme datang bukan dengan sendirinya. Tetapi melalui kolonialisme yang terjadi pada masa penjajahan Belgia dan Prancis.

Dilansir Culture Trip, kabarnya di masa lampau, majikan Prancis dan Belgia di Kota Brazzavile dan Kinshasa di Kongo tidak diberi upah berupa uang, melainkan pakaian atas kompensasi mereka. Para pekerja tersebut kemudian beradaptasi dengan meniru fesyen yang dianut tuan mereka.

Fenomena La Sape (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Fenomena La Sape (Foto: Wikimedia Commons)

Sedangkan menurut Hannah Rose Steinkopf-Frank dalam artikelnya yang berjudul La Sape: Tracing the History and Future of the Congo's Well Dressed Men, fenomena la Sape dibentuk oleh remaja asal Kongo yang pindah ke Paris, Prancis.

Remaja yang bernama Jean Marc Zeita itu membentuk perkumpulan imigran muda asal Kongo bernama Aventuries. Dalam Aventuries, para remaja meniru cara berpakaian orang Prancis, kemudian dibawa pulang ke kampung halaman.

instagram embed

Dengan cara ini, para Sapeur di Paris akan terlihat seperti orang sukses saat kembali ke negara asalnya. Mereka tidak peduli dengan kestabilan pekerjaan dan finansial, asalkan memiliki prestise sosial yang tinggi di tengah masyarakat Kongo lainnya.

Hingga saat ini, la Sape masih memiliki banyak penggemar dan juga anggota. Walau susah makan karena tak punya uang, Sapeur tetap mempertahankan gayanya, seakan tak punya beban hidup.

Proses syuting The Congo Dandies (La Sape) (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Proses syuting The Congo Dandies (La Sape) (Foto: Wikimedia Commons)

Baju-baju yang dimiliki Sapeur adalah baju-baju asli yang diberi secara seken dengan menggunakan uang yang berasal dari pinjaman bank. Bagi yang tidak memiliki dana, mereka bisa mengenakan pakaian dari jasa peminjaman baju.

Apabila salah satu diantara mereka ketahuan menggunakan barang KW atau palsu, maka hal tersebut dianggap sebagai suatu penghinaan. Untuk itulah para Sapeur dilarang menggunakan barang KW atau palsu.

Keuntungan yang didapatkan menjadi penganut la Sape bukan uang atau barang. Melainkan perasaan puas, diakui, dielu-elukan layaknya selebritas, dan juga sebagai sarana memenuhi esteem need.

Proses syuting The Congo Dandies (La Sape) (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Proses syuting The Congo Dandies (La Sape) (Foto: Wikimedia Commons)

Karena keunikannya, sebuah media asal Rusia bahkan membuat film dokumenter yang menceritakan tentang la Sape. Film dokumenter ini diperankan sendiri oleh Sapeur yang tergabung dalam komunitas la Sape, serta mengambil tempat langsung di Kongo.

Melalui karya film tersebut, penonton dapat melihat secara langsung kontrasnya kehidupan yang dimiliki Sapeur saat menjalani la Sape dengan masyarakat sekelilingnya.

Bagi kamu yang ingin traveling ke Kongo dan melihat langsung la Sape dan Sapeur-nya, kamu bisa berkunjung ke Kota Brazzavile, Ibu Kota Kongo dan Kinshasa, Republik Demokratik Kongo.

instagram embed

Kamu akan mudah menemukan Sapeur pada akhir pekan, acara-acara lokal, dan juga pemakaman. Karena pada hari-hari biasa, Sapeur akan melakukan pekerjaannya seperti biasa, selayaknya masyarakat Kongo pada umumnya.

Bagaimana, tertarik melihat la Sape langsung di Kongo?