kumparan
14 April 2019 13:38

Mau Melancong ke Sumba? Cek 5 Tips Ini

Kampung Adat Praijing di Sumba. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Siapa tak suka traveling keliling Indonesia? Negeri yang mendapat julukan “zamrud khatulistiwa” ini sungguh kelewatan cantiknya, membuat siapa pun betah berlama-lama menyusuri keindahan alamnya yang menyatu dengan eksotisme budaya lokal.
Sumba salah satunya. Tunggu dulu, jangan sampai salah lokasi, ya. Ini Sumba, bukan Sumbawa. Pulau Sumba ada di Nusa Tenggara Timur. Letaknya di bawah—tepatnya di barat daya—Pulau Flores. Sementara Pulau Sumbawa ada di barat laut Pulau Sumba. Ia masuk wilayah Nusa Tenggara Barat bersama Lombok yang bersebelahan dengannya di sisi barat.
Peta Sumba. Foto: Dok. Google Maps
Kampung Adat Wainyapu, Sumba Barat Data. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Sumba tak hanya punya hamparan alam dengan pemandangan menawan yang kerap jadi lokasi syuting. Ia juga punya atraksi wisata yang pamornya sudah mendunia, yakni Pasola—permainan lempar lembing sambil berkuda dengan kecepatan tinggi.
Persiapan Pasola. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Bersiap menuju lapangan tempat Pasola digelar. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Pasola digelar di tanah lapang yang berjarak tak sampai satu kilometer dari pantai. Maka, embusan angin laut akan mewarnai keseruan adu lembing mendebarkan ini.
Nah, supaya petualanganmu di Sumba semakin berkesan, simak dulu yuk 5 tips berikut sebelum berangkat.
1. Rule number one: itinerary alias rute
Perhatikan dan tentukan dulu destinasi yang hendak kamu tuju: mau mengeksplorasi Sumba bagian mana? Sebab, Sumba tak kecil-kecil amat. Dengan luas wilayah 10,7 kilometer persegi, ia lebih besar dari Lombok dan Bali. Ada empat kabupaten di Sumba—Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sumba Timur. Lebih sederhananya: mau ke Sumba bagian barat atau timur?
Destinasi wisatamu penting karena menentukan pula rute penerbanganmu. Kalau kamu memutuskan untuk menjelajah zona barat Sumba, maka sebaiknya kamu mendarat di Bandara Tambolaka di Sumba Barat Daya. Tapi jika kamu ingin berjalan-jalan ke timur Sumba, lebih enak turun di Bandara Umbu Mehang Kunda di kota Waingapu, Sumba Timur.
Pemandangan udara Sumba Timur. Foto: Helmi Afandi/kumparan
Maret lalu, kumparan memilih mendarat di Bandara Tambolaka karena kami hendak menonton Pasola di Sumba Barat Daya. Begini kira-kira rute perjalanan kami:
Berangkat dari Jakarta pukul 08.40 WIB menggunakan Batik Air; transit di Kupang, Pulau Timor, pukul 12.40 WITA; melanjutkan penerbangan dengan Wings Air pukul 13.35 WITA; dan mendarat di Tambolaka, Sumba, pukul 14.55 WITA.
Sementara ketika kembali ke Jakarta, begini rute perjalanan kami:
Terbang dari Tambolaka pukul 12.05 WITA menggunakan Wings Air; transit di Denpasar, Bali, pukul 13.25 WITA; melanjutkan perjalanan pukul 14.55 WITA dengan Batik Air; tiba di Jakarta pukul 16.00 WIB.
Untuk tiket Jakarta-Tambolaka itu, harga yang ditawarkan Lion Air Group untuk sekali perjalanan berkisar antara Rp 2,7 juta hingga Rp 3,3 juta.
2. Sewa kendaraan
Menyewa motor atau mobil jadi opsi yang mesti kamu timbang serius saat berkelana di Sumba. Soalnya, transportasi umum di pulau ini masih kurang. Tambah lagi, lokasi wisata yang satu dengan yang lain berjarak cukup jauh.
Bus di Sumba Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Biaya sewa kendaraan di Sumba cukup beragam. Tim kumparan, misal, menyewa mobil seharga Rp 800 ribu untuk satu hari. Memang, sekilas kelihatan mahal. Tapi tarif itu sepadan dengan medan tempuh yang kerap tak bersahabat.
3. Belajar bahasa lokal
Tak ada salahnya belajar bahasa lokal meski hanya sedikit. Sebab, masyarakat Sumba sangat senang bila bertemu dengan wisatawan yang bisa berbicara dalam bahasa mereka. Rasanya seperti saudara sendiri.
Tak perlu terlampau mahir, cukup dengan mengingat beberapa kosakata penting. Misalnya, memanggil perempuan yang lebih tua dengan sebutan “Inya”, dan lelaki yang lebih tua “Bapa”.
Anak-anak Sumba di Desa Praijing. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Ketika bertemu seseorang untuk pertama kali, sapalah ia dengan mengucapkan “Halamat”, atau “Halamat ooo” jika lebih dari seorang.
Oh ya, jangan lupa bilang “Trim Kahi” untuk berterima kasih atas bantuan apa pun yang kamu dapat dari siapa pun selama di Sumba.
4. Pakai baju adem
Sumba tergolong panas, apalagi di pesisir. Jadi, buat kamu yang berniat lebih banyak beraktivitas di luar (outdoor), akan lebih nyaman memilih pakaian dengan bahan adem atau cenderung tipis.
Kadek Arini di Pantai Walakiri, Sumba Foto: Instagram (@kadekarini)
Pemandangan Laguna Weekuri dari udara. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Pantai Nihiwatu, Sumba. Foto: Flickr/Isabel
Gunakan pula alas kaki yang nyaman untuk mengunjungi pantai, bukit, atau laguna di Sumba. Tak kalah penting: bawa selalu tabir surya (sunblock) dan kacamata hitam (sunglasses) untuk mengamankan kulit dan matamu dari bara matahari.
5. Last but not least: snack alias camilan
Mengingat jarak antar-lokasi wisata yang cukup jauh di Sumba, ada baiknya persiapkan camilan dan minuman berlimpah untuk berjaga-jaga kalau-kalau selama perjalanan tak ada toko atau warung yang menjual makanan atau minuman.
Permen atau camilan juga berguna di area wisata, berhubung banyak anak kecil suka meminta makanan kepada pengunjung. Tapi, memberi atau tidak itu terserahmu.
Salah satu warga di Desa Manola saat nyirih. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Terakhir banget nih, jangan lupa sedia sirih pinang bila hendak bertamu ke tokoh masyarakat atau tetua adat setempat, ya. Soalnya, di Sumba sirih pinang dianggap sebagai suguhan wajib saat bertemu dengan mereka yang dituakan dan dihormati.
Warga Kampung Adat Praijing di Sumba. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
Malam hadi di Desa Wainyapu, Sumba. Foto: Faiz Zulfikar/kumparan
OK, have fun in Sumba, guys! Get ready to be amazed!
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan