Mencari Atlantis yang Hilang di Gunung Padang
Sore itu berbeda. Saya dan sejumlah rekan menghabiskan waktu jauh dari kota. Bersama para penghayat kepercayaan yang hendak mengikuti upacara peribadatan di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat.
Ade, salah satu penghayat kepercayaan, tiba-tiba menunjukkan kepada saya--lewat layar telepon pintar miliknya--tentang buku berjudul Atlantis: The Lost Continent Finally Found karya Arysio Santos. Dia bercerita, isi buku itu menyingkap sebuah misteri tentang peradaban Atlantis yang diperkirakan berada di Indonesia.
Sekian detik berselang, Ade kembali memperlihatkan sebuah artikel dari berita internasional tentang bagaimana Rusia sedang giat-giatnya membangun piramida. Menurut artikel itu, piramida punya semacam daya magis yang mengundang banyak keajaiban.
Dia lalu membacakan satu per satu keajaiban piramida yang ditulis di artikel itu, mulai dari membuat tanah di sekitarnya subur, mengurangi aktivitas vulkanologi gunung berapi, sampai meningkatkan produktivitas pertambangan minyak.
Ade adalah perempuan berusia 40 tahun. Ia percaya bahwa nenek moyang kita, bangsa Indonesia, adalah orang-orang hebat dan bahkan lebih hebat dari manusia prasejarah lain dari seluruh penjuru Bumi.
Pusat peradaban manusia, ia percaya, terletak hanya seperlemparan batu di depan saya: Gunung Padang.
Dengan muka serius, Ade bercerita kalau Gunung Padang tak lain tak bukan adalah piramida terbesar dan tertua yang dibangun dengan teknologi tercanggih yang pernah ada.
Menurutnya, keberadaan peradaban manusia di Gunung Padang semakin meyakinkan dia tentang kebenaran bahwa Atlantis itu berada di Indonesia.
Kali ini saya terenyak. Raut tak percaya terpancar jelas di wajah saya.
Atlantis di Gunung Padang?
Arysio Santos, profesor teknik nuklir dari Universitas Federal Minas Gerais Brazil, memiliki hipotesis bahwa legenda sub-benua Atlantis yang termahsyur itu adalah fakta sejarah.
Menurutnya, setelah melakukan berbagai penelitian--yang meliputi bidang geologi, antropologi, linguistik, dan tentu saja mitologi--disimpulkan bahwa lokasi Atlantis yang tenggelam kemungkinan besar berada di wilayah kepulauan di antara Samudera Hindia hingga Laut China Selatan.
Kepulauan itu, menurutnya, adalah Indonesia.
Apa hubungan antara situs Gunung Padang dengan klaim mengenai Atlantis yang berada di Indonesia?
Arkeolog Universitas Indonesia, Dr. Ali Akbar, berpendapat klaim Atlantis yang hilang berkaitan dengan Gunung Padang karena situs purba di Cianjur itu dipercaya hasil dari kemajuan peradaban manusia yang hidup 5200 tahun lalu sebelum masehi (SM).
Usia peradaban tersebut jauh lebih tua dari peradaban Mesir ataupun Mesopotamia yang berusia sekitar 3000-4000 SM.
Sementara alegori Plato tentang Atlantis sendiri mengatakan bahwa peradaban Atlantis ada di masa 11000 SM. Itu artinya, secara usia, peradaban yang paling mendekati peradaban Atlantis adalah Gunung Padang.
“Saya nggak pernah menyatakan itu (Gunung Padang) Atlantis. Mungkin begini ya, itu (situs Gunung Padang) kan karena tua peradabannya. Salah satu peradaban tua itu misalnya Mesir, 3000 SM. Tertua lagi Mesopotamia, 4000 SM.”
“Nggak ada yang lebih tua dari Mesopotamia. Yang lebih tua dari Mesopotamia, ya itu Gunung Padang. Plato menyebut Atlantis itu 11000 SM. Nah yang paling mendekati Atlantis itu peradaban Gunung Padang dibanding situs lain,” ujarnya pada kumparan, Jumat (8/12).
Dia juga menekankan pentingnya meneliti apakah naskah dialog Plato, Timaeus, dan Critias, adalah tulisan yang berupa fakta atau sekadar fiksi.
Meskipun, misalnya tulisan Plato ternyata adalah fakta, sampai saat ini belum ada penelitian arkeologis yang memadai untuk memverifikasi klaim itu. Dengan begitu, kata Ali, semua negara berhak mengklaim jika Atlantis berada di dasar laut wilayah mereka.
“Yang menjadi pertanyaan, apakah tulisan Plato itu fiksi atau nonfiksi. Kalau dalam kategori sekarang, Plato itu menulis novel atau karya ilmiah? Kalaupun yang ditulis Plato tentang Atlantis itu benar, kenyataannya sampai sekarang belum ada fakta arkeologis untuk membuktikan itu. Jadi semua negara berhak mengklaim Atlantis berada di wilayah mereka masing-masing,” ujar Ali.
Sementara peneliti Pusat Penelitan Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, membantah keras klaim yang menyebut Atlantis berada di Indonesia, apalagi di Gunung Padang. Menurutnya, semua informasi tersebut adalah hoaks dan argumen-argumen “ilmiah” yang mendukung klaim tersebut adalah pseudoscience.
“Tentang Atlantis, itu kan ceritanya Plato. Nggak mungkin kan Plato sampai keluyuran ke mari (Indonesia). Plato itu paling jauh kan cuma sampai sekitar Laut Mediterania saja, seperti Mesir. Jadi nggak mungkin itu. Yang paling memungkinkan itu ya di sekitar gunung api di tengah laut dekat Yunani, di pulau yang namanya Santorini. Itupun kalau bisa dibuktikan. Faktanya kan nggak ada (yang bisa buktikan) sampai sekarang,” ujarnya dengan nada serius.
Atlantis telah menjadi semacam obsesi bagi segelintir kelompok yang ingin membuktikan secara ilmiah kebenaran dari cerita Plato.
Satu hal yang pasti: Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang dianggap sebagai Atlantis yang hilang. Sebelumnya, ada banyak lokasi yang diprediksi sebagai lokasi hilangnya Atlantis. Seperti Pulau Santorini di Laut Mediterania, wilayah perairan Segitiga Bermuda, Swedia, India, hingga yaa... Indonesia.
Namun semua itu masih sebatas hipotesis. Sampai saat ini belum ada fakta arkeologis yang benar-benar dapat membuktikan kebenaran cerita Atlantis yang hilang dan bisa diamini semua orang.
Keberadaan Atlantis masih menuai kontroversi, termasuk kaitannya dengan Gunung Padang--sebagai piramida tertua--yang masih diperdebatkan.
Soal yakin atau tak yakin tentu berbeda soal dengan penelusuran ilmiah atasnya. Dan sejauh ini, tak ada bukti bahwa Gunung Padang adalah Atlantis yang hilang.
